KLB Campak di Sumenep: Khofifah Tinjau Pasien, Vaksinasi Massal Jadi Jalan Keluar
MERAHPUTIH I SUMENEP – Lonjakan kasus campak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kini memasuki fase darurat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah lebih dari dua ribu kasus tercatat hanya dalam hitungan bulan terakhir. Catatan Dinas Kesehatan Jatim per 21 Agustus 2025 menunjukkan 2.035 anak terjangkit campak, dengan 17 di antaranya meninggal dunia.
Menyikapi situasi tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung ke RSUD dr. H. Moh. Anwar, Sumenep, pada Sabtu (23/8). Kehadirannya bukan sekadar seremonial. Ia meninjau kondisi pasien, berbincang dengan keluarga anak-anak penderita, sekaligus memastikan kesiapan tenaga medis dan fasilitas kesehatan menghadapi wabah.
Dalam kunjungan itu, Khofifah menekankan pentingnya gerakan bersama lintas sektor. “Kita semua harus melakukan kerja secara terpadu dan terintegrasi, baik vertikal maupun horizontal,” ucapnya.
Yang dimaksud vertikal, lanjutnya, adalah dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan, Pemprov Jatim, UNICEF, dan WHO. Sementara horizontal berarti seluruh perangkat daerah bergerak serentak. Mulai dari bupati, wakil bupati, jajaran dinas, hingga aparat TNI-Polri, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas ikut turun tangan.
“Tidak ada yang bisa berjalan sendiri menghadapi wabah sebesar ini. Semua harus kompak,” tegas Khofifah.
Pemerintah akan menggelar Outbreak Response Immunization (ORI), vaksinasi massal campak-rubella yang dimulai Senin (25/8/2025). Sebanyak 9.825 vial vaksin telah didistribusikan ke Sumenep.
Vaksinasi berlangsung di puskesmas, posyandu, sekolah, hingga titik pelayanan kesehatan lain. Target cakupan minimal 95 persen diharapkan mampu membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) dan memutus mata rantai penularan. Program ini akan digelar selama 21 hari, hingga 14 September 2025.
Khofifah mengingatkan, fakta bahwa dari 17 anak yang meninggal, 16 tidak pernah diimunisasi dan satu tidak lengkap imunisasinya, harus menjadi peringatan keras bagi orang tua.
“Ini pelajaran berharga. Jangan lagi ada anak yang luput dari imunisasi. Kita ingin generasi masa depan sehat lahir dan batin,” katanya.
Di RSUD dr. H. Moh. Anwar, delapan anak masih dirawat akibat campak. Meski kondisinya relatif stabil, kewaspadaan tetap dijaga. “Dua anak sudah siap dipulangkan karena kondisinya membaik,” jelas dr. Anita, dokter spesialis anak.
Ia menyebut kunjungan Gubernur membawa energi positif. “Kehadiran Ibu Gubernur memberi semangat besar, baik bagi tenaga medis maupun keluarga pasien. Ini menjadi penguat moral bagi kami yang setiap hari bergulat dengan situasi sulit,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Jatim mencatat persebaran kasus campak terjadi merata di 26 kecamatan Sumenep, baik daratan maupun kepulauan. Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri karena akses menuju sejumlah pulau cukup sulit.
Karena itu, selain vaksinasi, pemerintah juga menggencarkan edukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap. Sosialisasi dilakukan lewat berbagai jalur, mulai dari tokoh agama, sekolah, hingga kelompok masyarakat desa.
Khofifah menutup kunjungannya dengan pesan tegas: “Jangan biarkan anak-anak kita kehilangan masa depan hanya karena lalai pada imunisasi. Ini adalah tanggung jawab bersama.” (dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih