Khofifah: Menyelamatkan Penglihatan Anak Adalah Investasi Bangsa
MERAHPUTIH | SURABAYA – Memperingati World Sight Day Jawa Timur 2025 atau Hari Penglihatan Dunia, Ikatan Profesi Optometris Indonesia (IROPIN) bersama NUCARE-LAZISNU menggelar aksi sosial bertajuk “Bersatu Selamatkan Penglihatan Generasi”. Kegiatan yang dipusatkan di Islamic Center Surabaya pada Sabtu (11/10) ini menjadi bukti nyata kepedulian terhadap kesehatan mata anak-anak Indonesia.
Sebanyak 1.000 kacamata gratis dibagikan kepada siswa-siswi sekolah dasar di Surabaya yang sebelumnya telah menjalani skrining tajam penglihatan. Aksi ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, yang turut hadir dan mengapresiasi kolaborasi antara tenaga profesional dan lembaga sosial tersebut.
“Komitmen menyelamatkan penglihatan generasi sangat perlu dilakukan. Kegiatan seperti ini menjadi momentum penting agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mata, terutama bagi anak-anak sekolah dasar sebagai penerus bangsa,” ujar Gubernur Khofifah dalam sambutannya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat IROPIN, Nova Joko Pamungkas, menjelaskan bahwa kegiatan ini diawali dengan pemeriksaan skrining di 12 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Surabaya.
“Kami fokus pada siswa kelas 4, 5, dan 6. Dari sekitar 3.000 siswa yang diperiksa, terdapat 1.091 anak terindikasi mengalami kelainan refraksi,” ungkap Nova.
Anak-anak dengan hasil pemeriksaan tersebut kemudian dikumpulkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan oleh optometris dan dokter spesialis mata.
“Jika ditemukan kelainan di luar refraksi, kami tindaklanjuti bersama dokter spesialis mata pendamping dari Jawa Timur agar mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan,” imbuhnya.
Nova juga menyoroti penyebab meningkatnya gangguan penglihatan di kalangan anak. Menurutnya, faktor utama bukan hanya genetik, tetapi juga kebiasaan menggunakan mata untuk jarak dekat secara berlebihan, baik saat membaca maupun menatap gawai.
“Rata-rata anak sekarang banyak beraktivitas di dalam ruangan dengan pencahayaan kurang ideal. Karena itu, kami imbau masyarakat menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit melihat dekat, istirahat 20 detik, dan arahkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter,” jelasnya.
Nova menegaskan bahwa langkah sederhana ini dapat membantu mencegah kelelahan mata dan gangguan refraksi di masa depan.
“Supaya mata tetap sehat dan terhindar dari risiko kebutaan dini, mari kita jaga penglihatan sejak dini,” tutupnya.
Kegiatan World Sight Day 2025 di Jawa Timur ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan dalam menekan angka gangguan penglihatan dan membangun kesadaran pentingnya menjaga kesehatan mata sejak usia sekolah.(dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih