Persebaya Bidik Kemenangan di Laga Klasik Kontra Persija: Eduardo Perez Tegaskan GBT Harus Jadi Benteng Hijau

MERAHPUTIH I SURABAYA — Aroma rivalitas klasik kembali merebak di Kota Pahlawan. Sabtu (18/10/2025) malam, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) bakal bergemuruh. Ribuan Bonek bersiap memenuhi tribun, mendukung Persebaya Surabaya yang akan menjamu rival lamanya, Persija Jakarta, pada pekan kesembilan Super League 2025/2026. Duel dua tim besar dengan sejarah panjang ini kembali mengusung gengsi dan harga diri.

Bagi Persebaya, laga ini lebih dari sekadar pertandingan. Ini adalah momentum untuk menegaskan eksistensi mereka di papan atas dan mengembalikan keangkeran GBT sebagai benteng yang sulit ditaklukkan. Pelatih kepala Eduardo Perez dengan nada tegas menyebut bahwa timnya siap “bertempur” demi tiga poin penuh di hadapan publik sendiri.

“Saya tidak akan pernah berbicara mengenai satu pemain, tapi pasukan. Kita tahu pasukan Persija, kita menganalisa, mereka tim yang sangat kuat. Tapi tentu saja, kita akan bertempur di sini untuk tiga poin,” ujar Eduardo saat sesi latihan di Surabaya, Selasa (14/10/2025).

Pelatih asal Spanyol itu tak menutupi rasa hormatnya terhadap kekuatan Macan Kemayoran. Namun, ia menegaskan bahwa Bajol Ijo bukan tim yang mudah dikalahkan, apalagi saat tampil di rumah sendiri.

“Saya yakin kita akan memiliki permainan yang sangat kuat di sini. Kita bermain di kandang, dan tentu saja kita menghormati semua musuh. Tapi ini GBT, tempat di mana Persebaya selalu berjuang dengan hati,” tuturnya dengan nada penuh keyakinan.

Persija datang ke Surabaya dengan status tim tangguh yang kini bertengger di posisi ke-4 klasemen sementara, mengoleksi 11 poin dari tujuh laga. Sementara itu, Persebaya berada satu tingkat di bawah, di peringkat keenam dengan 10 poin. Selisih tipis yang membuat laga ini kian sarat tensi.

Eduardo mengaku telah menyiapkan berbagai skema untuk meredam agresivitas lini depan Persija. Tim pelatih sudah menganalisis pola serangan lawan, sembari memperbaiki kekompakan di lini pertahanan dan efisiensi di lini serang.

“Seperti setiap minggu, kita bersiap-siap. Kita menganalisa musuh, mempersiapkan kondisi fisik, dan tentu saja taktik. Kami ingin sampai pada tempat terbaik, pada performa yang maksimal,” kata mantan asisten pelatih Real Betis itu.

Persiapan matang ini juga diiringi dengan semangat para pemain muda Persebaya yang mulai menunjukkan karakter kuat. Kehadiran dukungan penuh dari Bonek dan Bonita diharapkan bisa menjadi energi tambahan di lapangan hijau.

Pertemuan Persebaya dan Persija selalu menghadirkan cerita tersendiri. Dua klub dengan basis suporter besar ini kerap menjadi magnet utama setiap musim kompetisi. Bagi Bonek, laga melawan Persija tak sekadar soal tiga poin, tapi juga tentang menjaga marwah dan kebanggaan Surabaya.

GBT pun dipastikan akan menjadi lautan hijau. Spanduk, chant, dan teriakan dukungan diyakini akan menggema sejak sebelum peluit pertama dibunyikan. Euforia yang menjadi ciri khas laga klasik antara Bajol Ijo dan Macan Kemayoran.

Di sisi lain, Persija datang dengan kepercayaan diri tinggi. Dengan deretan pemain berpengalaman dan strategi yang solid, tim ibu kota tentu tak ingin pulang tanpa hasil. Namun, atmosfer GBT yang dikenal garang kerap menjadi ujian mental bagi tim tamu.

Lebih dari sekadar laga pekan kesembilan, duel ini akan menjadi ajang pembuktian dua pelatih: Eduardo Perez di kubu Persebaya dan pelatih Persija yang tengah berupaya menjaga konsistensi permainan timnya.

Bagi Eduardo, kemenangan atas Persija akan menjadi pernyataan tegas bahwa proyek pembangunan tim yang ia jalankan mulai membuahkan hasil. Bagi pemain, ini adalah laga untuk menunjukkan karakter bajol sejati, pantang menyerah dan selalu berjuang sampai peluit akhir.

“Kita tahu, setiap pertandingan di liga ini sulit. Tapi kita adalah Persebaya. Kita main dengan hati dan semangat untuk Surabaya,” ujar Eduardo menutup sesi latihan dengan nada optimistis.

Sabtu malam nanti, seluruh mata pecinta sepak bola nasional akan tertuju ke Surabaya. GBT bukan sekadar stadion, ia akan menjadi saksi pertarungan dua tradisi besar, dua kota dengan kebanggaan yang sama besarnya. Dan di bawah langit Surabaya, Persebaya bertekad memastikan satu hal: GBT tetap hijau, dan tiga poin harus tinggal di rumah.(red)
 
 
 

Editor : Redaksi