PERSIB dan Tantangan Meramu Keberagaman di Ruang Ganti

pelatih Bojan Hodak
pelatih Bojan Hodak

MERAHPUTIH I BANDUNG – Di balik gemerlap Stadion Si Jalak Harupat dan euforia bobotoh yang selalu memenuhi tribun, PERSIB Bandung tengah memainkan sebuah pertandingan lain, bukan di atas lapangan, melainkan di dalam ruang ganti. Musim ini, skuad Maung Bandung adalah cerminan keberagaman sepak bola modern: lintas benua, lintas usia, dan lintas kultur.

Di daftar resmi, tercatat 31 pemain memperkuat PERSIB. Komposisi itu menjadi miniatur dunia sepak bola. Selain mayoritas pemain lokal, termasuk tiga pemain naturalisasi, Maung Bandung juga diperkuat oleh legiun asing asal Brasil (5 orang), Argentina (2), serta masing-masing satu pemain dari Prancis, Italia, Inggris, dan Irak.

Rentang usia mereka pun lebar, dari yang baru meniti karier profesional di usia 17 tahun, hingga pemain veteran yang masih menjaga semangat di usia 38 tahun. Achmad Jufriyanto, sang bek kawakan, menjadi sosok paling senior di skuad. Sementara dua nama muda, Muhammad Rhaka Bilhuda dan Nazriel Alfaro Syahdan, baru menapaki tangga pertama dalam perjalanan panjang dunia profesional.

Di tengah perbedaan itu, Pelatih Bojan Hodak dihadapkan pada pekerjaan yang lebih kompleks dari sekadar mengatur formasi dan strategi. Ia harus memastikan seluruh elemen tim berada pada frekuensi yang sama, baik secara emosional maupun profesional.

“Dalam tim dengan usia dan latar belakang berbeda, manajemen manusia adalah segalanya,” kata Hodak ketika ditemui seusai sesi latihan di Bandung, awal pekan ini. “Cara saya bicara dengan pemain berusia 17 tahun tentu tak bisa sama dengan pemain 35 tahun. Perlu pendekatan personal agar harmoni ruang ganti tetap terjaga.”

Ucapan pelatih asal Kroasia itu bukan sekadar basa-basi. Hodak telah lama memandang sepak bola sebagai ruang sosial, tempat perbedaan karakter dan budaya berbaur menjadi kekuatan. Ia mengaku banyak belajar dari Ken Shellito, mantan pelatih Chelsea dan Sabah FA, yang pernah menjadi mentornya saat bekerja di AFC.

“Ken pernah bilang pada saya: perlakukan pemain seperti anakmu sendiri,” tutur Hodak mengenang. “Kadang mereka butuh dorongan, kadang pelukan, kadang sekadar diyakinkan bahwa mereka mampu.”

Filosofi itu pula yang membuat Hodak tak ragu menekankan pentingnya keseimbangan emosi di balik performa taktik. Ia menyinggung pandangan Vicente del Bosque, pelatih legendaris Spanyol yang pernah membawa La Roja menjadi juara dunia 2010.

“Del Bosque selalu bilang, ruang ganti yang sehat lebih penting daripada taktik yang rumit. Saya sepakat. Sepak bola bukan sekadar tentang strategi, tapi juga rasa saling percaya,” ujarnya.

Dalam skuad yang diwarnai bahasa, agama, dan latar belakang berbeda, Hodak berusaha menegakkan satu nilai universal: respek. Bagi pelatih 53 tahun itu, disiplin dan kehangatan bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama.

“Menjaga grup tetap bersatu, seimbang, dan saling menghormati, itu kunci utama,” katanya dengan nada tegas namun lembut.

Perjalanan PERSIB musim ini mungkin akan diukur dari jumlah gol dan kemenangan. Namun di balik semua statistik itu, ada perjuangan senyap yang tak tercatat di papan skor: perjuangan untuk tetap menjadi satu kesatuan di tengah perbedaan yang begitu lebar.

Dan di situlah, mungkin, letak keindahan sejati sepak bola. Bukan hanya pada cara tim mencetak gol, tetapi bagaimana mereka belajar untuk menjadi keluarga di ruang ganti yang penuh warna.(red)

Editor : Redaksi