Sentuh Lapisan Masyarakat Lebih Luas, Pasar Murah Jatim Kian Masif
MERAHPUTIH I JEMBER – Suasana berbeda terasa di halaman Waterboom Tiara Park, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Senin (24/11). Sejak siang, lokasi ini dipadati ratusan warga yang rela mengantre demi mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang jauh lebih ramah kantong. Gelaran Pasar Murah Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali hadir, dan kali ini menjadi kunjungan ke-182 sepanjang tahun.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang turut hadir di tengah masyarakat menjadi magnet perhatian publik. Didampingi sejumlah pejabat terkait, ia meninjau satu per satu stan pedagang, berdialog dengan warga, hingga memberikan bantuan beras untuk para lansia serta telur bagi anak-anak dan ibu hamil. Aksi sosial yang terus berulang di berbagai titik ini kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Namun, lebih dari sekadar kegiatan seremonial, Khofifah membawa pesan penting. Pasar murah bukan dibuat untuk menyaingi pasar tradisional, melainkan melengkapi dan memperkuat akses kebutuhan pokok bagi warga yang membutuhkan.
“Pasar murah ini bukan kompetitor pasar tradisional. Kita ingin menjangkau masyarakat yang memerlukan penguatan dari sisi daya beli,” tegas gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu.
Ia menjelaskan, pasar murah adalah bentuk intervensi pemerintah agar masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarga dengan harga terjangkau. Terlebih, setelah Nataru, masyarakat akan menghadapi bulan Ramadan yang biasanya turut membawa kenaikan harga komoditas.
“Ini akan terus dilakukan, ada atau tidak ada saya. UPT Disperindag bersama Bakorwil memastikan kegiatan ini berjalan seiring dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dalam gelaran kali ini, berbagai kebutuhan pokok dipatok dengan harga miring. Telur ayam dijual Rp22 ribu per kilogram, jauh di bawah harga pasar yang berkisar Rp28 ribu–Rp30 ribu. Beras SPHP dibanderol Rp55 ribu per lima kilogram, sementara harga pasarnya masih di kisaran Rp60 ribu–Rp62 ribu.
Produk gula dari ID Food pun turut mendapatkan potongan, dijual hanya Rp14 ribu per kilogram dari harga normal Rp17.800. Komoditas lain seperti minyak goreng Minyak Kita Premium dipasarkan Rp13 ribu per liter, lebih murah dari harga pasar Rp16.800. Bahkan ayam potong dihargai Rp30 ribu per kilogram, diskon besar dari harga pasar Rp38 ribu–Rp40 ribu.
Diskon signifikan ini membuat warga kian antusias. Mereka membawa pulang lebih banyak kebutuhan pokok tanpa khawatir menguras dompet. Kehadiran pelaku UMKM lokal juga menambah ragam transaksi ekonomi yang terjadi di area kegiatan tersebut.
“Senang sekali bisa beli murah begini. Di rumah, kebutuhan banyak, apalagi mau akhir tahun,” ujar Sulastri, salah seorang warga sambil menenteng paket beras.
Pemprov Jatim tidak hanya menyasar distribusi bahan pokok. Program ini juga membuka ruang bagi perluasan pasar UMKM setempat, sehingga geliat ekonomi lokal dapat meningkat bersama daya beli masyarakat.
Khofifah menegaskan bahwa pasar murah akan terus digelar di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur untuk memastikan distribusi manfaat yang merata.
“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa pemerintah hadir, peduli, dan bekerja untuk mereka,” ujarnya menutup rangkaian kegiatan.
Gelaran Pasar Murah ke-182 di Jember kembali memperlihatkan bahwa intervensi langsung pemerintah masih menjadi instrumen efektif menjaga stabilitas pangan dan daya beli. Di tengah dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, program ini menjadi oase bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan nyata, bukan sekadar janji. Pemerintah hadir bukan untuk bersaing secara pasar, tetapi memperkuat sendi-sendi kesejahteraan warga Jawa Timur dari akar rumputnya. (dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih