Tekan Putus Sekolah, Jatim Beri Tunjangan Pendidikan untuk 48.077 Murid

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai

MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menggelontorkan dukungan besar bagi pendidikan. Sebanyak 48.077 murid SMA, SMK, dan SLB dari keluarga prasejahtera dipastikan menerima Bantuan Pendidikan Prasejahtera pada tahun 2025. Langkah ini ditekankan sebagai upaya konkret menekan angka putus sekolah di seluruh wilayah Jatim.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, mengungkapkan total anggaran yang disiapkan mencapai Rp48,077 miliar, dengan masing-masing murid menerima Rp1 juta.

“Penerima untuk SMA sebanyak 11.362 siswa, SMK 24.339 siswa, dan SLB 12.376 siswa,” ujar Aries dalam keterangannya, Jumat (12/12/2025).

Program ini menyasar siswa kelas X hingga XII yang berasal dari keluarga kurang mampu pada desil 1 dan 2. Dana bantuan akan masuk ke virtual account masing-masing murid dan wajib digunakan untuk kebutuhan pendidikan, mulai dari seragam, buku, alat tulis, sepatu, paket data, hingga biaya transportasi menuju sekolah.

Aries menegaskan, mekanisme pengawasan diperketat. Bantuan otomatis dibatalkan jika murid meninggal dunia, berhenti sekolah, menikah dini, atau terlibat kasus kriminal.

“Ini bukti bahwa pemerintah provinsi hadir memastikan kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang bagi masa depan anak-anak,” tegasnya.

Ia juga mengajak orang tua untuk aktif mengawasi penggunaan bantuan serta mendampingi anak dalam proses belajar. Integrasi dukungan pemerintah dan keluarga disebut penting untuk memperkuat kualitas pendidikan.

Kinerja pendidikan Jatim sendiri menunjukkan kemajuan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jatim 2025 mencapai 76,13, naik dari 75,35 pada tahun sebelumnya. Nilai itu berada di atas rata-rata nasional yang tercatat 75,90.

Adapun Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 13,44 tahun, sedangkan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) berada di 8,39 tahun.

Meski progres terlihat jelas, Aries mengingatkan bahwa Jatim masih memikul pekerjaan rumah besar: pemerataan akses pendidikan.

“Kita tidak boleh lengah. Tantangannya adalah memastikan seluruh anak Jatim, di kota maupun pelosok, mendapat kesempatan belajar yang sama,” tutupnya.(dpr) 

Editor : Redaksi