Polemik Trans Jatim di Malang: Nyono Buka Suara Soal Penolakan Sopir Angkot dan Petisi Warga
MERAHPUTIH I SURABAYA – Operasional Trans Jatim di wilayah Malang Raya mulai memicu dinamika di lapangan. Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Jawa Timur, Nyono, akhirnya angkat bicara merespons kabar adanya ketidaksinkronan antara armada bus transmisi Jatim tersebut dengan angkutan kota (angkot) setempat.
Nyono menegaskan bahwa situasi yang terjadi bukanlah bentuk penolakan mentah-mentah, melainkan adanya keinginan dari pihak sopir angkot agar rute Trans Jatim tidak bersinggungan langsung dengan jalur mereka.
"Bukan penolakan, artinya kemungkinan mereka masih menginginkan bahwa Trans Jatim tidak di situ. Nanti kita evaluasi lah, kalau memang (perlu) ya kita akan alihkan ke tempat lain," ujar Nyono saat dikonfirmasi awak media, selas (30/12).
Di sisi lain, muncul desakan kuat dari masyarakat yang justru menginginkan kehadiran Trans Jatim tetap dipertahankan. Bahkan, sebuah petisi telah bergulir agar dua titik pemberhentian yang dipersoalkan tetap beroperasi demi kemudahan mobilisasi warga.
Menanggapi petisi tersebut, Nyono menjelaskan bahwa penentuan halte sejak awal sudah melalui prosedur yang matang, termasuk melibatkan pemerintah daerah setempat.
"Ini kan dulu surveinya berdasarkan masyarakat juga, berdasarkan Pemkot juga, Dinas Perhubungan Kota Malang juga. Kalau memang ada perkembangan, ya memang kita evaluasi," tambahnya.
Meski gelombang protes dari sopir angkot mulai terasa, Dishub Jatim tampaknya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan yang bisa merugikan salah satu pihak. Hingga saat ini, status dua titik pemberhentian yang diperdebatkan tersebut masih berfungsi normal.
"Masih tetap (di sana), masih belum kita putuskan untuk ini," tegas Nyono.
Saat ditanya mengenai tenggat waktu evaluasi dan kepastian rute tersebut, Nyono masih enggan merinci lebih jauh. "Nanti saya info," pungkasnya singkat. (dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih