Situbondo Siap Jadi Rumah Besar NU, Mas Rio Tegaskan Kesiapan Muktamar ke-35
MERAHPUTIH I SURABAYA - Kabupaten Situbondo menyatakan kesiapannya menjadi bagian penting dalam sejarah besar Nahdlatul Ulama. Daerah yang dikenal sebagai salah satu poros lahirnya ulama-ulama besar NU itu menegaskan kesiapan penuh apabila dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Prayogo, saat mengikuti rangkaian Napak Tilas Sejarah NU bersama Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, KH Ahmad Azaim Ibrahimy. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan ziarah, melainkan pengingat akan jejak panjang NU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan perjuangan ulama.
“Situbondo memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan NU. Dari tanah ini lahir KH As’ad Syamsul Arifin, sosok ulama besar yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya NU,” ujar Mas Rio, sapaan akrab Bupati Situbondo, usai berziarah ke Makam Sunan Ampel, Surabaya, Minggu (4/1/2026).
Menurut Mas Rio, napak tilas yang diinisiasi oleh KH Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu langsung KH As’ad Syamsul Arifin, memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan kegiatan seremonial biasa. Ia menilai, kegiatan tersebut menjadi pengingat kolektif akan akar spiritual, historis, dan ideologis NU.
“Ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah pengingat sejarah penting berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama. Kita diajak kembali memahami nilai-nilai perjuangan para masyayikh,” tuturnya.
Mas Rio mengulas kembali satu peristiwa penting dalam sejarah NU, ketika KH As’ad Syamsul Arifin mendapat amanah langsung dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan. Amanah itu berupa tongkat dan tasbih yang harus disampaikan kepada KH Hasyim Asy’ari. Peristiwa tersebut kemudian dimaknai sebagai isyarat berdirinya NU pada 1926.
“Peristiwa itu menjadi salah satu fondasi lahirnya NU. Maka napak tilas ini sangat relevan, apalagi menjelang agenda besar Muktamar,” tambahnya.
Dalam konteks kekinian, Mas Rio berharap dinamika yang tengah berkembang di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dapat segera menemukan titik temu. Ia menilai, persatuan dan kebijaksanaan para kiai menjadi kunci agar Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dengan lancar dan membawa maslahat bagi umat.
“NU adalah rumah besar umat. Dinamika itu wajar, tapi yang terpenting adalah bagaimana semuanya bermuara pada kemaslahatan,” ucapnya.
Terkait kesiapan Situbondo sebagai tuan rumah, Mas Rio menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama para kiai dan pesantren telah menyatakan komitmen penuh. Ia mengingatkan bahwa Situbondo bukanlah daerah baru dalam penyelenggaraan muktamar NU.
“Kami punya pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar NU tahun 1984. Saat itu juga ada dinamika internal organisasi, dan situasinya kurang lebih mirip dengan sekarang. Justru Situbondo bisa menjadi tempat yang lebih tenang, sejuk, dan penuh khidmat,” katanya.
Dari sisi teknis, Mas Rio memastikan seluruh aspek pendukung telah dipikirkan secara matang, mulai dari keamanan, kenyamanan, hingga akomodasi peserta. Bahkan, kata dia, sejumlah kiai dan pondok pesantren telah menyatakan kesiapan untuk ikut menanggung kebutuhan penginapan peserta muktamar.
“Soal keamanan, Insyaallah sangat siap. Saya sudah berdiskusi dengan para kiai. Ada inisiatif dari pondok pesantren untuk menampung peserta. Ini bentuk khidmat Situbondo untuk NU,” tegasnya.
Sebagai informasi, kegiatan Napak Tilas Sejarah NU ini dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Sunan Ampel di Surabaya. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dan refleksi historis menjelang agenda besar Muktamar NU, yang diharapkan menjadi momentum penguatan persatuan dan peran NU bagi bangsa dan negara.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih