Wagub Jatim Pastikan Korban Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Tertangani, Evaluasi Total Sistem Disiapkan

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat menjenguk para korban keracunan MBG yang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat menjenguk para korban keracunan MBG yang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari

MERAHPUTIH I MOJOKERTO - Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan seluruh penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terdampak dugaan keracunan massal di Kabupaten Mojokerto mendapatkan penanganan medis secara optimal dan berkelanjutan. Total sebanyak 261 siswa dan santri tercatat mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG, dan seluruhnya menjadi atensi serius pemerintah daerah.

Kepastian tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak usai meninjau langsung Posko Layanan Kesehatan (Yankes) bagi korban keracunan di Pondok Pesantren Ma’had An Nur, Dusun Jurangrejo, Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Minggu (11/1).

Dalam kunjungannya, Emil menegaskan bahwa keselamatan dan pemulihan kesehatan para penerima manfaat menjadi prioritas utama. Ia memastikan tidak ada korban yang luput dari penanganan medis, baik yang dirawat di posko kesehatan maupun di rumah sakit rujukan.

“Ini tentu sesuatu yang kita semua berikan atensi maksimal. Yang paling utama, seluruh siswa-siswi atau penerima manfaat yang terdampak harus mendapatkan penanganan medis terbaik,” ujar Emil.

Lebih jauh, Emil menekankan bahwa penanganan medis saja tidak cukup. Pemerintah, kata dia, berkomitmen melakukan penelusuran menyeluruh untuk mengungkap akar penyebab kejadian tersebut. Evaluasi dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari kualitas bahan makanan, proses pengolahan, standar kebersihan peralatan dan wadah, hingga mekanisme distribusi makanan kepada penerima manfaat.

“Kita ingin memperoleh gambaran yang utuh agar ke depan sistem ini bisa diperbaiki dan diperkuat. Jangan sampai kejadian serupa terulang,” tegasnya.

Wagub Emil juga meminta semua pihak terkait, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terlibat aktif dalam proses investigasi. Ia secara khusus menginstruksikan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur untuk mengawal dan mendampingi proses penelusuran secara ketat agar penyebab kejadian dapat diidentifikasi secara jelas dan objektif.

“Kita harapkan ini bisa membantu mengerucutkan akar permasalahan,” katanya.

Menurut Emil, menemukan akar persoalan secara tuntas merupakan langkah krusial agar kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius dan menghasilkan perubahan sistem yang lebih baik di masa mendatang. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Mojokerto, lanjutnya, siap memberikan dukungan penuh kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dalam upaya penyempurnaan program MBG.

“Pemerintah provinsi dan Pemkab Mojokerto berada pada posisi siap memberikan dukungan terbaik untuk ikhtiar perbaikan bersama,” terangnya.

Selain fokus pada evaluasi sistem, Emil memastikan bahwa seluruh biaya perawatan dan pengobatan korban terdampak akan ditanggung oleh pemerintah. Saat ini, para korban mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Mojokerto, salah satunya di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari.

Dalam kesempatan itu, Emil juga mengimbau masyarakat yang sebelumnya menerima MBG dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Mojokerto dan mengalami keluhan seperti mual, muntah, atau gejala lain, agar segera melapor ke Posko Yankes di Pondok Pesantren Ma’had An Nur, Kutorejo.

“Kami menghimbau seluas-luasnya, jangan ada keluhan yang ditahan atau hanya diobati di rumah. Mohon segera melapor agar penanganannya maksimal,” ucapnya.

Usai meninjau posko kesehatan, Wagub Emil melanjutkan kunjungan dengan menjenguk para korban yang masih menjalani perawatan intensif di RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari. Ia berdialog dengan tenaga medis serta memastikan kesiapan fasilitas dan layanan rumah sakit dalam menangani lonjakan pasien.

Sebelumnya, ratusan pelajar dan santri dari tujuh lembaga pendidikan di Mojokerto dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, demam, dan diare yang diduga akibat keracunan makanan. Dugaan sementara mengarah pada menu soto ayam yang dikonsumsi para penerima manfaat MBG pada Jumat (9/1), yang disuplai oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo.

Dalam peristiwa ini, Pondok Pesantren Ma’had An Nur menjadi salah satu lembaga dengan jumlah korban terdampak cukup besar, yakni sekitar 160 santri.

Di akhir kunjungannya, Emil menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen di Kabupaten Mojokerto yang bergerak cepat dan solid dalam menangani kejadian tersebut. Ia menilai respons cepat pemerintah daerah, tenaga kesehatan, TNI-Polri, serta pihak pesantren menjadi faktor penting dalam mencegah dampak yang lebih luas.

“Kami mengapresiasi kebersamaan dan kecepatan seluruh elemen di Kabupaten Mojokerto. Pengasuh pondok pesantren juga memberikan kerja sama yang sangat baik,” pungkasnya. (dpr)

Editor : Redaksi