Pemprov Jatim Pacu Integrasi Kereta–Kapal Cepat Surabaya–Denpasar, Targetkan Lonjakan Penumpang

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono

MERAHPUTIH I PASURUAN - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mematangkan langkah strategis untuk meningkatkan konektivitas transportasi antardaerah, khususnya antara Jawa Timur dan Bali. Salah satu fokus utama yang kini digenjot adalah integrasi layanan kereta api dengan kapal cepat rute Banyuwangi–Denpasar sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan penumpang sekaligus memperkuat sektor pariwisata.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, mengungkapkan bahwa tren penumpang kapal cepat Banyuwangi–Bali menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan. Namun, agar layanan tersebut semakin diminati, diperlukan skema transportasi yang terintegrasi dan mudah diakses oleh masyarakat, terutama dari kota-kota besar seperti Surabaya.

“Pertumbuhan penumpang kapal cepat ini kita dorong dengan kerja sama bersama PT KAI. Kita minta PT KAI untuk menyiapkan trayek Surabaya–Denpasar,” ujar Nyono di Pasuruan, Rqbu (21/1).

Dalam skema yang dirancang, penumpang dari Surabaya akan menggunakan kereta api menuju Stasiun Banyuwangi. Dari titik tersebut, pemerintah daerah akan menyiapkan layanan shuttle untuk mengantar penumpang menuju pelabuhan, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kapal cepat ke Denpasar. Pola yang sama juga akan diterapkan untuk perjalanan sebaliknya atau pulang-pergi (PP).

“Nanti dari stasiun Banyuwangi kita angkut dengan shuttle, diteruskan dengan kapal cepat ke Denpasar. Begitu juga sebaliknya, dari kapal cepat kembali ke Stasiun Banyuwangi,” jelasnya.

Nyono menegaskan, integrasi moda ini menjadi kunci utama untuk meningkatkan volume penumpang kapal cepat. Menurutnya, kemudahan akses dan kepastian perjalanan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin bepergian dari Jawa Timur ke Bali tanpa harus menggunakan jalur darat yang padat.

Dari sisi tarif, saat ini tiket kapal cepat Banyuwangi–Bali dipatok sebesar Rp225.000. Namun, Dishub Jatim berharap harga tersebut bisa ditekan lebih murah apabila integrasi dengan kereta api Surabaya–Banyuwangi telah terealisasi.

“Tiketnya sekarang Rp225 ribu. Harapan kita, kalau nanti sudah terintegrasi dengan PT KAI dari Surabaya sampai Denpasar, bisa lebih murah,” kata Nyono.

Tak hanya berhenti pada aspek transportasi, Pemprov Jatim juga mengaitkan proyek integrasi ini dengan pengembangan pariwisata unggulan. Salah satu rencana yang disiapkan adalah menghubungkan Pelabuhan Boom Banyuwangi dengan kawasan wisata Ijen melalui angkutan pemadu moda.

Dishub Jatim berencana memasukkan Pelabuhan Boom sebagai bagian dari rute DAMRI Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dengan skema tersebut, wisatawan dari Bali yang tiba di Banyuwangi dapat langsung melanjutkan perjalanan ke kawasan Ijen untuk menyaksikan fenomena alam Blue Fire yang mendunia.

“Kita integrasikan angkutan pemadu moda dari Boom Banyuwangi ke Ijen. Ini supaya wisatawan dari Bali bisa melihat Blue Fire di Ijen, termasuk lewat jalur Bondowoso,” terang Nyono.

Ia menilai, integrasi transportasi dan pariwisata ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas, tidak hanya bagi Banyuwangi, tetapi juga daerah sekitar seperti Bondowoso. Arus wisatawan diharapkan tidak lagi terpusat di Bali, melainkan menyebar ke wilayah tapal kuda Jawa Timur.

Meski demikian, Nyono mengakui bahwa realisasi rencana besar ini membutuhkan skema pendanaan yang matang. Oleh karena itu, Pemprov Jatim saat ini memprioritaskan keterlibatan pihak swasta agar proyek bisa berjalan lebih cepat tanpa bergantung pada subsidi pemerintah pusat.

“Kita berusaha prioritas swasta dulu. Kalau tidak, baru KSPN DAMRI. Tapi kalau DAMRI, berarti ada subsidi dari pusat, dan itu tergantung kebijakan pusat karena menyangkut penambahan anggaran,” jelasnya.

Menurut Nyono, ketergantungan pada subsidi pusat berpotensi memperlambat realisasi. Karena itu, pemerintah daerah terus mencari model pembiayaan yang memungkinkan proyek ini berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

“Yang penting itu realisasi. Skema pembiayaannya sedang kita cari model yang paling memungkinkan,” tegasnya.

Dengan integrasi kereta api, kapal cepat, dan angkutan wisata, Pemprov Jawa Timur berharap konektivitas Surabaya–Denpasar tak hanya menjadi jalur transportasi alternatif, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata regional. Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen Jawa Timur untuk menjadi simpul utama konektivitas dan pariwisata di kawasan timur Pulau Jawa.(dpr) 

Editor : Redaksi