Pemprov Jatim Siapkan Langkah Strategis Hadapi Risiko Cuaca di Destinasi Wisata
MERAHPUTIH I SURABAYA — Dinamika cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Terutama bagi sektor pariwisata alam dan minat khusus yang selama ini menjadi magnet utama wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Evy Afianasari, menegaskan bahwa destinasi wisata berbasis alam saat ini perlu diwaspadai secara ketat demi keselamatan pengunjung. Sejumlah kawasan unggulan seperti Gunung Bromo, Air Terjun Tumpak Sewu, Kawah Ijen, hingga wisata arung jeram di sungai-sungai besar masuk dalam kategori prioritas pengawasan.
“Yang perlu diwaspadai itu wisata-wisata minat khusus, terutama wisata alam. Seperti Bromo, Tumpak Sewu, Ijen, dan rafting sungai. Ini memang saat ini perlu pengawasan ekstra,” ujar Evy saat ditemui di Gedung Negara Gahadi, Senin (27/1) malam.
Menurutnya, sebagian destinasi sudah terhubung dengan sistem peringatan dini yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), khususnya untuk mengantisipasi potensi banjir, longsor, dan peningkatan debit air sungai secara mendadak.
Tidak hanya mengandalkan early warning system, Pemprov Jatim juga menerapkan langkah strategis berupa modifikasi cuaca sebagai bagian dari mitigasi bencana dan antisipasi cuaca ekstrem. Langkah ini dinilai cukup signifikan dalam menekan risiko dan menjaga keberlangsungan aktivitas pariwisata.
“Untuk mitigasi bencana atau cuaca ekstrem, salah satu langkah strategisnya adalah modifikasi cuaca. Dan itu berpengaruh banget,” tegasnya.
Evy menekankan, penutupan destinasi wisata dilakukan bukan tanpa alasan. Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari rekomendasi teknis demi mencegah potensi bahaya bagi wisatawan.
“Harusnya tutup kalau memang ada rekomendasi supaya tidak berbahaya,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa hingga saat ini jalur pendakian Gunung Semeru masih belum dibuka. Penutupan dilakukan untuk menjaga keselamatan pendaki mengingat aktivitas vulkanik dan kondisi alam yang belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, di Kawah Ijen, wisatawan masih dapat berkunjung, namun tanpa menikmati fenomena blue fire yang menjadi ikon utama destinasi tersebut. Penghentian sementara akses blue fire bukan disebabkan oleh bencana, melainkan karena proses pemeliharaan dan revitalisasi pipa gas belerang.
“Blue fire Ijen saat ini dipadamkan sementara karena sedang dilakukan pemeliharaan pipa. Memang ada beberapa pipa yang belum selesai pemeliharaannya, dan itu harus direvitalisasi,” jelas Evy.
Meski demikian, ia memastikan Kawah Ijen tetap terbuka dan dapat dinikmati dari sisi panorama alam, kawah, serta lanskap pegunungan yang menjadi daya tarik tersendiri.
Lebih jauh, Evy mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam waktu dekat akan mengusulkan penerbitan surat edaran kepada Gubernur Jawa Timur. Surat tersebut bertujuan untuk memperkuat pengelolaan dan keamanan destinasi wisata Ijen secara menyeluruh.
“Nanti dalam waktu dekat kami akan mengusulkan ke Ibu Gubernur untuk membuat surat edaran dalam rangka penguatan destinasi wisata Ijen,” katanya.
Langkah ini dinilai penting mengingat Kawah Ijen merupakan salah satu destinasi unggulan Jawa Timur dengan posisi strategis di peta pariwisata dunia, khususnya bagi wisatawan mancanegara.
“Ijen itu termasuk destinasi wisata tertinggi, khususnya untuk wisatawan mancanegara,” imbuhnya.
Di tengah tantangan cuaca dan bencana alam, sektor pariwisata Jawa Timur justru mencatatkan tren pertumbuhan yang positif. Evy menyampaikan bahwa hingga tahun 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jawa Timur mencapai sekitar 494 ribu orang.
Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan, yakni sekitar 47,6 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, wisatawan nusantara tercatat mencapai sekitar 84 juta kunjungan, dengan tren peningkatan yang juga cukup tajam.
“Kenapa naik? Karena ada beberapa fasilitas yang dikuatkan oleh Ibu Gubernur,” ungkap Evy.
Ia menyebutkan, penguatan akses transportasi, peningkatan kecepatan dan ketepatan mitigasi bencana, serta respons cepat terhadap kondisi darurat menjadi faktor utama yang meningkatkan kepercayaan wisatawan.
“Kecepatan dan ketepatan dalam memitigasi bencana itu menjadi daya jual yang tinggi, khususnya bagi pariwisata Jawa Timur,” pungkasnya.
Dengan strategi mitigasi yang semakin matang dan penguatan infrastruktur pariwisata, Pemprov Jawa Timur optimistis sektor pariwisata tetap tumbuh berkelanjutan, meski dihadapkan pada tantangan alam yang kian kompleks.(dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih