Jatim Jadi Lokomotif Talenta Digital Nasional, Hampir 20 Ribu SDM Siap Dicetak pada 2026
MERAHPUTIH I SURABAYA - Pemerintah pusat dan daerah kian memantapkan langkah dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di era transformasi digital. Jawa Timur diposisikan sebagai salah satu motor utama pengembangan talenta digital nasional melalui kolaborasi strategis antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Melalui sinergi lintas sektor yang melibatkan perguruan tinggi, akademisi, hingga perusahaan global, Jawa Timur menargetkan pencetakan hampir 20 ribu talenta digital sepanjang 2026. Target ambisius ini dinilai realistis dan terukur, seiring kesiapan ekosistem digital yang telah tumbuh kuat di provinsi tersebut.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengapresiasi langkah cepat Jawa Timur yang menjadi salah satu daerah pertama menjalin kerja sama pengembangan talenta digital secara intensif dengan pemerintah pusat. Hal itu disampaikannya saat menghadiri agenda bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (30/1).
“Terima kasih, kami hari ini senang sekali. Jawa Timur ini termasuk yang pertama menjalin kerja sama talenta digital dengan pemerintah pusat melalui Kementerian Komdigi. Dan kami juga senang sekali karena target Ibu Gubernur luar biasa untuk tahun ini, hampir 20 ribu talenta digital,” ujar Meutya.
Menurut Meutya, target tersebut bukan sekadar angka, melainkan hasil perhitungan matang yang ditopang kolaborasi konkret antara pemerintah, kampus, akademisi, serta perusahaan kelas dunia. Pelatihan yang diberikan pun tidak hanya berfokus pada literasi digital dasar, tetapi mencakup penguasaan teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Ia menilai Jawa Timur memiliki keunggulan kompetitif dari sisi kualitas sumber daya manusia. Bahkan, dalam beberapa kunjungan ke daerah, seperti Kota Malang, Meutya menemukan banyak talenta lokal yang telah mampu mengadopsi teknologi canggih tanpa melalui pelatihan formal yang panjang.
“Kapasitas SDM digital di Jawa Timur ini kuat. Banyak yang sudah adaptif dengan teknologi terbaru, sehingga program pelatihan yang ada tinggal memperkuat dan mengarahkan sesuai kebutuhan industri dan pembangunan,” katanya.
Lebih jauh, Meutya menegaskan pemerintah pusat membuka ruang fleksibilitas bagi daerah untuk menyesuaikan fokus pengembangan talenta digital dengan kebutuhan masing-masing wilayah. Jawa Timur, misalnya, dapat mengarahkan penguatan talenta digital ke sektor-sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, industri kreatif, hingga layanan publik berbasis digital.
Kolaborasi pusat dan daerah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, peningkatan daya saing sumber daya manusia Indonesia tidak hanya terjadi di pusat-pusat ekonomi tertentu, tetapi merata hingga ke daerah.
Selain pengembangan talenta, Meutya juga menyoroti isu perlindungan anak di ruang digital yang menjadi perhatian serius pemerintah. Ia mengungkapkan bahwa kebijakan penundaan akses akun digital bagi anak hingga usia 16 tahun saat ini tengah disiapkan secara teknis agar dapat segera diterapkan dalam beberapa bulan ke depan.
Menurutnya, kebijakan tersebut harus dibarengi dengan upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai, salah satunya melalui pengaturan penggunaan perangkat digital di lingkungan sekolah selama proses belajar mengajar berlangsung.
“Peran pemerintah daerah sangat penting untuk menurunkan kebijakan ini hingga ke tingkat kabupaten dan kota, agar implementasi Peraturan Pemerintah Tunas berjalan optimal dan selaras dengan kebijakan perlindungan anak di ruang digital,” ujarnya.
Meutya juga membuka peluang penguatan regulasi di masa mendatang. Tidak menutup kemungkinan, kebijakan perlindungan anak di era digital tersebut akan ditingkatkan menjadi undang-undang apabila dinilai diperlukan, mengingat dukungan DPR terhadap isu ini cukup kuat.
Dengan sinergi pengembangan talenta digital dan penguatan regulasi perlindungan anak, Jawa Timur diharapkan tidak hanya menjadi lumbung SDM digital nasional, tetapi juga contoh daerah yang mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan aspek sosial dan perlindungan generasi muda.(dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih