Doa dan Ikhtiar Ulama Jaga Indonesia Tetap Kondusif

KH. Asep Saifuddin Chalim saat meninjau kesiapan lokasi acara di kawasan Siwalankerto Surabaya
KH. Asep Saifuddin Chalim saat meninjau kesiapan lokasi acara di kawasan Siwalankerto Surabaya

MERAHPUTIH I SURABAYA – Di tengah dinamika kebangsaan yang terus bergerak, suara ulama kembali mengemuka sebagai peneduh sekaligus penuntun arah bangsa. Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, tokoh agama nasional sekaligus pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, menggagas sebuah forum silaturahim dan doa bersama (istighotsah) untuk Indonesia.

Kegiatan yang diinisiasi Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 14–16 Februari 2026, bertempat di Sekretariat JKSN Jawa Timur di Surabaya dan Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. Acara ini akan menghadirkan sekitar 200 kiai dari berbagai daerah di Indonesia, serta dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pejabat negara.

Menurut KH. Asep Saifuddin Chalim, kegiatan ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan ikhtiar batiniah untuk menjaga Indonesia tetap dalam lindungan Allah SWT. Ia menegaskan, kesejahteraan dan keadilan sosial hanya dapat terwujud jika bangsa berada dalam suasana yang aman, tenteram, dan kondusif.

“Kita berdoa agar Indonesia selalu dijaga dan dilindungi oleh Allah. Tidak lagi ada bencana-bencana yang turun, tidak ada situasi yang membuat bangsa ini tidak kondusif. Karena upaya mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan keadilan membutuhkan ketenangan dan persatuan,” ujar KH. Asep.

Forum silaturahim dan istighotsah ini direncanakan dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes), Gubernur Jawa Timur, Wakil Gubernur Jawa Timur, serta sejumlah tokoh nasional lintas sektor. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut mencerminkan kuatnya sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga arah pembangunan bangsa.

KH. Asep menambahkan bahwa peran ulama bukan hanya sebatas penjaga moral umat, tetapi juga mitra strategis negara dalam mengawal cita-cita luhur kemerdekaan. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa kepemimpinan nasional saat ini tengah berupaya menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Presiden sedang berusaha mewujudkan keadilan di Indonesia, sebagaimana cita-cita luhur Kemerdekaan Republik Indonesia. Ini perlu kita dukung bersama, lahir dan batin,” tegasnya.

Melalui doa bersama dan istighotsah, para kiai dan santri diharapkan mampu menjadi penopang spiritual bangsa. Doa untuk keselamatan dan keamanan negara menjadi fondasi penting agar agenda-agenda besar pembangunan nasional dapat berjalan dengan baik, tanpa gangguan konflik sosial maupun instabilitas.

Lebih dari itu, KH. Asep menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah mengupayakan keberhasilan cita-cita kemerdekaan, yakni terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam pandangannya, kesejahteraan tidak akan lahir tanpa keadilan, dan keadilan tidak akan tegak tanpa ketenteraman.

“Yang kita upayakan adalah terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan. Itu amanat konstitusi dan nilai luhur yang diwariskan para pendiri bangsa,” ujarnya.

Di tengah tantangan global dan kompleksitas persoalan nasional, inisiatif para kiai dan santri ini menjadi pengingat bahwa kekuatan spiritual dan persatuan moral tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan Indonesia. Doa, ikhtiar, dan kebersamaan diharapkan menjadi energi kolektif untuk menjaga negeri tetap utuh, damai, dan berkeadilan.(dpr) 

Editor : Redaksi