Dua Bulan Ditutup, Pelaku Usaha di Pantai Depok Bantul Menjerit
MERAHPUTIH | YOGYAKARTA - Pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir dan imbasnya obyek wisata yang masih ditutup hingga 31 Mei 2020, membuat para pelaku usaha frustrasi. Meraka, umumnya para pelaku usaha rumah makan seafood yang berada di Pantai Depok, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Meraka mengaku dua bulan lebih aktivitas rumah makannya dan pendukung lainnya lumpuh total. Di bulan pertama mereka mengatakan masih bisa bertahan dengan mengandalkan uang tabungan. Namun, saat ini isi tabungan pun habis tersedot untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk membayar cicilan dari perbankan yang nilainya tidak sedikit. Mereka pun berharap, batas akhir penutupan tempat-tempat usaha hingga 31 Mei tidak diperpanjang lagi.
"Harapan saya batas akhir penutupan obyek wisata sampai tanggal 31 Mei saja. Kalau diperpanjang kami sudah tidak bisa apa-apa. Uang semuanya sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membayar cicilan perbankan. Sementara sama sekali tidak ada pemasukan," kata Dardi Nugroho pemilik Rumah Makan Seafood Salsabila di Pantai Depok, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu (27/5).
Dargon panggilan akrab Dardi Nugroho ini mengatakan pihaknya siap untuk mengikuti protokol kesehatan bagi pengunjung rumah makan seafood mulai dari menyediakan air dan sabun untuk cuci tangan, mengurangi meja dan kursi untuk pengunjung sehingga ada jaga jarak serta menjaga kebersihan rumah makan dengan penyemprotan disinfektan.
"Kamis siap dengan new normal dibidang parawisata. Yang penting wisata dibuka kembali agar kita mendapatkan pemasukan untuk bangkit dari keterpurukan akibat COVID-19," ucapnya.
Sesepuh Paguyuban ATV Pantai Parangtritis, Buang Santosa juga berharap obyek wisata Pantai Parangtritis segera dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan sehingga ATV bisa kembali beroperasi dengan menggunakan protokol kesehatan.
"Yang penting kami bisa beraktivitas untuk bisa menyambung hidup. Kalau ditutup terus bagaimana nasib kami dan keluarga kami. Mau makan apa?," ucapnya.
Keinginan dibukanya kembali obyek wisata Pantai Parangtritis bukannya menentang pemerintah dalam usaha memutus mata rantai penularan COVID-19 namun para pemilik ATV sudah sangat frustrasi dengan kondisi saat ini yang tidak bisa mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.
"Bantuan dari pemerintah juga tidak kami terima karena dianggap orang mampu. Padahal kami dan pedagang asongan di Pantai Parangtritis yang pertamakali terkena imbasnya penutupan obyek wisata Pantai Parangtritis," kata dia. (hdw/tji)
Editor : Tudji Martudji
Harian Merah Putih