Setengah Abad Mengarungi Samudra Nusantara, PT Dharma Lautan Utama Teguhkan Komitmen Layani Bangsa
MERAHPUTIH I SURABAYA – Semangat kebersamaan dan rasa syukur mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun ke-50 PT Dharma Lautan Utama (DLU) yang digelar di kantor pusatnya, kawasan Jl Kanginan, Surabaya, Senin (16/2). Mengusung tema “50 Tahun Melayani Bangsa”, perayaan emas ini dirangkai dengan tasyakuran serta peresmian perluasan gedung kantor pusat sebagai simbol kesiapan perusahaan menatap masa depan industri pelayaran nasional.
Didirikan pada 15 Februari 1976, DLU telah mengarungi berbagai dinamika zaman—dari pasang surut ekonomi nasional hingga tantangan kompetisi global di sektor transportasi laut. Setengah abad perjalanan itu bukan sekadar angka, melainkan jejak pengabdian panjang dalam menghubungkan pulau demi pulau di Nusantara.
Perayaan HUT ke-50 tahun 2026 ini juga diisi dengan kegiatan sosial, seperti donor darah dan santunan anak yatim. Manajemen DLU menegaskan, keberadaan perusahaan tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Owner sekaligus Penasihat Utama DLU, Bambang Haryo Soekartono (BHS), menegaskan bahwa perjalanan DLU tidak selalu berjalan di atas laut yang tenang. Saat ditanya mengenai tantangan pelayaran nasional, khususnya dalam mendukung program Tol Laut, ia menekankan bahwa industri pelayaran masih menghadapi berbagai kendala struktural.
“Dharma Lautan itu tumbuh di saat sebenarnya iklim usaha pelayaran kurang kondusif. Banyak yang diharapkan para pengusaha, termasuk PT Dharma Lautan Utama, seperti insentif PNBP dan tarif yang lebih mendukung,” ujarnya.
Menurut BHS, tekanan finansial menjadi salah satu tantangan utama. Biaya kepelabuhanan dan PNBP yang tinggi dinilai perlu mendapatkan perhatian, sebagaimana dukungan yang diberikan pada sektor angkutan udara. Sebagai negara kepulauan, transportasi laut seharusnya mendapat dukungan strategis yang memadai.
Ia juga menyoroti persoalan infrastruktur pelabuhan. Keterbatasan dermaga, fasilitas kepelabuhanan, hingga alur pelayaran yang dangkal menjadi hambatan serius bagi efisiensi dan keselamatan operasional kapal.
“Normalisasi alur dan kolam pelabuhan itu kewajiban pemerintah sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008. Ini menyangkut keselamatan dan efisiensi kapal. Kalau alurnya dangkal, bisa merusak kapal dan membahayakan pelayaran,” tegasnya.
Meski demikian, BHS mengaku bersyukur DLU mampu bertahan di tengah situasi tersebut. Ia menyebut tidak sedikit perusahaan pelayaran besar yang akhirnya berhenti beroperasi. Kepercayaan pelanggan dan dukungan para pemangku kepentingan—mulai pemerintah hingga Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), menjadi kunci keberlangsungan perusahaan.
“Kami berterima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada Dharma Lautan Utama,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama DLU, Erwin H. Poedjono, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang perusahaan.
“Syukur alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan tasyakuran usia 50 tahun PT Dharma Lautan Utama. Terima kasih kepada seluruh stakeholder—pemerintah, mitra usaha, dan khususnya pelanggan setia kami,” ujarnya.
Erwin menegaskan bahwa di usia emas ini, DLU berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan. Target jangka pendek perusahaan adalah memastikan seluruh lintasan yang dilayani berjalan optimal dengan standar keselamatan tinggi.
“Kami membangun road to zero accident untuk seluruh kapal kami. Dari sisi kenyamanan dan ketepatan waktu (on-time performance), akan terus kami evaluasi dan perbaiki,” jelasnya.
Untuk jangka menengah dan panjang, DLU akan mengevaluasi serta memperluas lintasan strategis guna memperkuat konektivitas nasional dan mendukung keutuhan NKRI. Beberapa daerah bahkan telah mengajukan permohonan agar DLU membuka rute baru.
Terkait penambahan armada pada 2026, Erwin menyebut pihaknya tengah melakukan renovasi sejumlah kapal sebagai persiapan ekspansi layanan. “Kami sedang mempersiapkan tambahan armada. Segera akan kami sampaikan secara resmi,” katanya.
Menatap Separuh Abad Berikutnya
Peresmian perluasan gedung kantor pusat di Surabaya menjadi penanda kesiapan DLU memasuki babak baru. Gedung yang lebih representatif ini diharapkan mendukung transformasi manajemen dan operasional perusahaan yang semakin modern dan adaptif.
Lima puluh tahun telah berlalu sejak DLU pertama kali berlayar. Dalam rentang waktu itu, perusahaan tidak hanya memindahkan orang dan barang, tetapi juga menghadirkan harapan, menghubungkan keluarga, memperlancar distribusi logistik, dan menopang perekonomian daerah.
Di tengah tantangan regulasi, infrastruktur, dan kompetisi, DLU menegaskan komitmennya untuk terus melayani bangsa. Sebab bagi perusahaan pelayaran nasional ini, laut bukan sekadar ruang bisnis, melainkan ruang pengabdian.
Dengan semangat “50 Tahun Melayani Bangsa”, Dharma Lautan Utama bersiap menapaki separuh abad berikutnya, menguatkan konektivitas, menjaga keselamatan, dan memastikan Indonesia tetap terhubung dari Sabang sampai Merauke.(dpr)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih