Klaim Jenazah PDP, Keluarga Dilarang Menyolati, Dihadang, dan Disekap
MERAHPUTIH | BULUKUMBA - Sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan menangis dihadang petugas keamanan karena ingin melihat jenazah ibunya viral di media sosial, Kamis (4/6). Peristiwa itu terjadi di sebuah rumah sakit. Pihak rumah sakit beralasan, keluarga tidak bisa mendekati jenazah karena divonis PDP.
Perempuan yang terlihat menangis itu menceritakan, awalnya sang ibu divonis PDP. Padahal menurutnya, almarhumah meninggal karena stroke. Hingga pembuluh darahnya pecah di otak sebelah kanan. Namun, pihak rumah sakit berencana memakamkan jenazah dengan prosedur covid-19.
"Saya dan Etta (ayah) berusaha untuk membawa Umi pulang ke rumah dan ingin memakamkannya secara layak di kampung halaman kami (Bulukumba). Di dalam IGD tempat Umi meninggal, saya sudah memohon-mohon kepada tim gugus dan tim medis agar kami membawa Umi pulang. Tapi mereka menolak. Pada akhirnya, Etta saya bersujud mencium sepatu pimpinan tim gugus untuk memohon, tetapi mereka tetap menolak," demikian cerita pemilik akun Facebook Andi Esa Abram.
Kemudian, tim gugus tugas berusaha membujuknya dengan berjanji menyolatkan almarhumah secara bersama-sama dan tidak akan memasukkannya ke dalam peti.
"Namun semua itu bohong. Ketika Etta saya sudah keluar, tinggallah saya dan para tim medis. Mereka mulai melakukan proses pengkafanan dan ternyata umi hanya ditayamum. Diperlakukan seperti jenazah Covid, disemprot disenfektan," terang dia.
"Setelah dikafankan mereka mau memasukkan umi ke dalam peti. Saya pun menolak. Bukan itu perjanjian diawal. Sikap saya seketika kalah karena dihalangi oleh petugas gugus yang tiba-tiba datang menyeret saya jauh dari peti. Mereka memasukkan umi ke dalam peti dan menutupnya," sambungnya.
Dia mencoba berlari ke peti, tapi usahanya sia-sia. Dia disekap tidak bisa bergerak. Bahkan, hingga terseret jatuh ke lantai dan bajunya ditarik. Mereka mulai melakukan sholat jenazah tanpa menunggu keluarga almarhumah.
"Mereka pun membawa peti tersebut sambil lari-lari dan saya dihalangi untuk mendekat. Saya terseret-seret mengejar peti itu. Saya berusaha bangun dan kembali berlari namun tetap dihalangi lagi," ujarnya.
Sampai di depan RS, dia melihat ayahnya sudah tidur di bawah mobil jenazah untuk memblokir jalan. Menurut dia, sebelumnya sang ayah juga disekap dan dilarang untuk masuk IGD. Nasib serupa juga dialami sang adik, Adel.
"Saya naik ke atas mobil berharap mereka akan memberikan jenazah Umi untuk kami bawa pulang ke rumah. Tetapi sekali lagi saya diseret jatuh ke tanah oleh petugas. Akhirnya mereka berhasil membawa Umi. Mereka melaju dengan cepat. Etta saya mengambil motornya (N-max) dan membonceng kami (saya, Adel, Alya) untuk mengejar mobil jenazah tersebut, kami bonceng 4. Hanya Allah SWT yang mampu melindungi kami agar tidak terjadi kecelakaan di jalan," tuturnya.
Setiba di tempat pemakaman, keluarga tidak diizinkan ikut melakukan proses penguburan. Hanya bisa sampai di gerbang saja.
"Mereka sungguh tidak ada hati nurani. Mereka menguburkan jenazah yang jelas-jelas bukan Covid di pekuburan khusus covid dan memetikannya, Astaghfirullah. Saya menuntut keadilan untuk Ummi kami, kami ingin memindahkan jenazah ummi kami yang jelas-jelas NEGATIF Covid.. apa hak Mereka menahan jenazah ummi kami di penguburan itu . Saya memohon kepada teman-teman yang membaca tulisan saya, tolong bantu kami , tolong kami mencari keadilan untuk ummi kami," pungkasnya. (lmi)
Editor : Tukiman Sarmijan
Harian Merah Putih