PSBB Berakhir, Evaluasi Masih Dibahas Hingga Malam Ini
MERAHPUTIH | SURABAYA - Hari ini berlangsung Rapat Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah digelar tiga tahap untuk Surabaya Raya, yakni Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik, di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (8/6).
Di meja depan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak, Kapolda Jatim Irjen Fadil Imran, Pangdam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI Widodo Iryansyah. Serta tiga kepala daerah, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini; Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifudin dan Bupati Gresik Samhari serta Forkopimda dari masing-masing kabupaten/kota.
Dalam pembahasannya, masing-masing kepala daerah memberikan paparan pelaksanaan PSBB yang telah dilaksanakan di daerahnya masing-masing. Bupati Gresik misalnya, memberikan paparan kalau pelaksanaan PSBB telah dilaksanakan di wilayah yang dipimpinnya. Selanjutnya, untuk keputusan lanjutan yang akan diambil nantinya, Kabupaten Gresik tetap berkomitmen untuk melaksanakan sesuai ketentuan.
Dia mengatakan, rancangan lanjutan PSBB telah dilakukan dan akan diperbaiki lagi. "Jika ada PSBB ke empat Alhamdulillah dan jika tidak ada PSBB lanjutan juga Alhamdulillah. Yang penting kami ada surat edaran memberikan penekanan kepada masyarakat, untuk melaksanakan transisi menuju lebih bagus. Intinya yang akan kami laksanakan kedepan, penegakan protol sesuai ketentuan," kata Samhari.
Kemudian, Tri Risma meyampaikan kalau di Surabaya telah membuat draf. Pihaknya menyebut akan membuat protokol atau peraturan-peraturan hingga tempat-tempat lebih kecil. Misalnya, di pasar-pasar, mall, tempat industri, warung kopi dan lainnya.
"Ini sudah kita buat, kami siap melaksanakan. Protokol itu akan kita awasi bersama TNI dan Polri. Ini semua kita atur lebih detail terkait protokol-protokol itu. Kenapa di tempat-tempat terkecil, karena menurut kami itu akan lebih efektif. Dan, besok akan kita bicarakan dengan para tenaga ahli untuk mematangkan ini," urai Risma.
Ditambahkan, soal itu pihaknya telah melakukan pembahasan dengan para pelaku usaha di Surabaya. Risma juga menyebut pihaknya tidak bisa mengabaikan suara masyarakat kecil untuk tetap bisa berusaha guna keberlangsungan ekonomi mereka.
"Saya kuatir juga Ibu (Gubernur Jatim), di beberapa area itu kondisinya sudah banyak yang mengeluh terutama meraka tidak bisa mencari nafkah. Contohnya, tukang-tukang bengkel mereka dengan tiga anak dan istri tidak bisa keluar rumah. Termasuk warung-warung, mereka harus melakukan seperti apa, itu yang akan kita atur. Mereka tetap bisa melakukan kegiatan ekonomi, tetapi protokol kesehatan tetap harus dikedepankan," urai Risma.
Sementara, untuk Kabupetan Sidoarjo Gus Nur -sapaan Nur Ahmad Syaifudin- menegaskan pihaknya, meski berharap PSBB di Sidoarjo segera berakhir pihaknya tetap mendukung protokol kesehatan sesuai ketentuan dari pusat.
"Intinya, kami mohon untuk lepas dari PSBB, tetapi protokol kesehatan tetap akan kita kuatkan. Itu yang akan kita lakukan," kata Gus Nur.
Lanjut Gus Nur, untuk melaksnakan itu, semua kegiatan publik tetap diatur dan dijaga. Misalnya, semua mal-mal, pasar-pasar serta perusahaan dan lainnya. Sesuai dengan kebijakan pusat ketentuan itu akan dilaksanakan.
"Untuk perusahaan besar harus dilakukan MoU, kali ini saya sepakat dengan Kabupaten Gresik. Mereka (perusahaan besar) harus juga merapid test dan melakukan pemeriksaan terhadap semua karyawannya," ujarnya.
"Dan, kami akan terus menerapkan check point di desa-desa, itu akan kita perkuat. Termasuk, memperkuat kampung tangguh dan menambah juga dengan anggarannya," katanya.
Sementara, hingga malam ini pembahasan soal PSBB masih akan terus diberlakukan atau sebaliknya (khususnya untuk Surabaya Raya), para pemangku kebijakan itu masih terus melakukan rapat dengan Pemprov Jatim, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, para dokter dan ahli. Gelaran rapat itu sempat berhenti saat memasuki waktu Salat Magrib untuk wilayah Surabaya. (tji/red)
Editor : Tudji Martudji
Harian Merah Putih