Jamu Tradisional Naik Daun di Tengah Pandemi Covid-19

LARIS MANIS: Jamu Mbak Mi menjadi primadona. HMP/Zulfikar Firdaus
LARIS MANIS: Jamu Mbak Mi menjadi primadona. HMP/Zulfikar Firdaus

MERAHPUTIH| SURABAYA-Jamu tradisional masih menjadi pilihan  untuk menjaga kesehatan ditengah pandemi Covid-19. Kandungan curcumin pada bahan dasar jamu seperti jahe-jahean, temulawak, kunyit, serta sereh, memiliki efek anti inflamasi, peningkat imunitas, dan antivirus. Saat ini, jamu tradisional naik kelas dan menjadi primadona. Akibatnya, harga empon-empon sebagai bahan dasar naik dua kali lipat.

Penjual jamu kena imbas positif dari pandemi. Salah satunya Mbak Mi penjual jamu keliling. Kepada harianmerahputih.id, wanita yang biasanya berjualan di kawasan Rungkut Industri dan sekitarnya itu mengaku dagangannya laris manis sejak pandemi Covid-19. “Apalagi Bu Risma (Walikota Tri Risma Harini) menyarankan untuk mengkonsumsi jamu tradisional. “Biasanya saja jualan 4-5 jam dalam sehari. Tapi semenjak ada Corona, paling lama saya jualan hanya 3 jam saja,” bebernya.

Kata Mbak Mi, jamu yang menjadi favorit pembeli adalah beras kencur dan kunyit asam. “Tapi anak-anak biasanya suka sinom. Sebab, mereka biasanya tidak suka jamu yang rasanya pahit. Kalau mbah-mbah biasanya jamu kudu laos. Campuran mengkudu dan laos. Rasanya agak pahit tapi mbah-mbah biasanya suka,” urai Mbak Mi.

Meski mengaku senang jamunya laris, namun Mbak Mi yang sudah puluhan tahun jualan, berharap Corona segera berlalu. “Yang pasti takut. Tapi mudah-mudahan langganan saya diberikan sehat semua. Kalau Corona sudah nggak ada saya juga nggak was-was keluar rumah untuk jualan,” ungkapnya. (zul/ono)

Editor : Eko Yudiono