Silaturahmi Gubernur Jatim Dengan Puteri Indonesia 2020

MERAH PUTIH I SURABAYA - Pada malam jelang peringatan HUT ke-75 Jatim, Puteri Indonesia 2020 Rr Ayu Maulida Putri berkesempatan silaturahmi bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (11/10).

Pada kesempatan tersebut Ayuma, sapaan Ayu Maulida Putri mengakui, dia tidak pernah membayangkan akan menjadi Puteri Indonesia di tengah dunia menghadapi pandemi. Bahkan ketika pemilihan berlangsung, saat itu pertama kali diumumkan adanya Covid-19 di Indonesia.

“Seingat saya itu hampir menjelang malam final,” jelas Ayuma.

Gadis asal Surabaya itu mengakui, kondisi ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Puteri Indonesia maupun puteri lain yang terpilih.

“Bahwa kita tetap harus bertugas menjalankan amanah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Mengajak masyarakat untuk saling mematuhi protokol kesehatan sekaligus tetap produktif meski harus di rumah,” kata Ayuma.

Sarjana lulusan Fakultaa Hukum Universitas Airlangga itu juga mengakui, upaya dan kerja keras Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sehingga mampu menekan angka Covid-19.

“Masing-masing provinsi berjuang untuk dapat menangani pandemi ini. Semua negara dan wilayah di dunia juga sedang berjuang untuk terbebas dari pandemi Covid-19. Kita berharap pandemi covid-19 segera berlalu,” imbuh Ayuma.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam sambutanya berharap Yayasan Puteri Indonesia mendukung program yang terkait dengan pemberdayaan perempuan.

Di Jatim, ada 1,6 juta ibu-ibu kepala keluarga yang memiliki status ekonominya rendah. Ini menjadi salah satu tugas untuk memberi mereka dukungan dan sapaan yang bisa memberikan keberdayaan secara sosial dan ekonomi.

“Banyak perempuan hebat yang membutuhkan uluran kita agar dapat tumbuh kembang dan menemui harapan yang dicita-citakan,” tutur Gubernur Khofifah yang juga mantan Penasehat Yayasan Puteri Indonesia.

Peran dari puteri dan alumni akan menjadi energi positif bagi perempuan di Jatim. khofifah menegaskan, saat ini bukan era kompetisi tetapi era sinergi dan kolaborasi.

“Banyak perempuan yang tidak berani berkata tidak, bukan karena tidak bisa berkata tidak tetapi dia dalam posisi tidak mungkin berkata tidak karena powerless. Maka, ada proses empowering pada perempuan-perempuan yang powerless ini,” ujar Khofifah.

Di Pemprov punya sangat banyak program, khususnya dampak sosial ekonomi Covid-19. Barang kali bisa ke beberapa titik untuk memberi penguatan kepada orang-orang yang terdampak.

“Kita tidak hanya membutuhkan ekonomy recovery tetapi juga psiko sosial recovery,” jelas Khofifah. (red)

harianmerahputih.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top