Jelang Pemberlakuan Lockdown Lagi, Penjualan Tisu di Jerman Meningkat

Puluhan kursi dan meja milik sebuah restoran di dekat gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman (2/11/2020), dirantai dan terkunci saat pemerintah memberlakukan 'lockdown' akibat wabah COVID-19. ANTARA/REUTERS/Hannibal Hanschke/aa.
Puluhan kursi dan meja milik sebuah restoran di dekat gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman (2/11/2020), dirantai dan terkunci saat pemerintah memberlakukan 'lockdown' akibat wabah COVID-19. ANTARA/REUTERS/Hannibal Hanschke/aa.

MERAHPUTIH|JERMAN-Jerman dalam waktu dekat akan melakukan lockdown. Jelang pemberlakuan lockdown, pembelian tisu toilet, pembersih tangan dan bahan kue meningkat.Bahkan, hampir menyentuh rekor tertinggi penjualan, Kamis, (5/11). Pemberlakukan lockdown karena kasus harian Covid-19 meningkat.


Jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 naik 19.990 menjadi 596.583 kasus, berdasarkan data Robert Koch Institute (RKI) untuk penyakit menular pada Kamis, seperti dinukil dari ANTARA.

Kantor statistik mengatakan peningkatan kasus COVID-19 dan penguncian parsial lanjutan, yang berlaku mulai 2 November, membuat permintaan sejumlah produk kebersihan dan bahan makanan meningkat pada paruh kedua Oktober.

Penjualan tisu toilet pada pekan awal 19 Oktober tercatat sebanyak 139 persen di atas rata-rata sebelum krisis, yaitu periode Agustus 2019-Januari 2020, menurut kantor statistik.

Pembelian disinfektan terus meningkat dalam beberapa pekan belakangan dan naik 104 persen di atas level sebelum krisis pada minggu terakhir Oktober.

Namun, angka itu masih rendah dibandingkan saat penguncian pertama selama musim semi. Saat itu, penjualan meningkat hampir delapan kali lipat.

Para pembeli juga menstok bahan kue, dengan penjualan tepung naik 101 persen dari level sebelum krisis, sementara ragi dan gula masing-masing naik 74 persen dan 63 persen.

Kendati demikian, omset dari produk-produk seperti itu juga lebih rendah dibanding pada musim semi, sehingga menunjukkan bahwa seruan dari politikus untuk menghindari penimbunan makanan setidaknya didengar oleh sebagian masyarakat, kata kantor statistik.(red)

 

Editor : Eko Yudiono