APD Tepat, Tenaga Medis Selamat
MERAHPUTIH | SURABAYA - Berguguran, satu per satu tenaga medis dalam menjalankan tugasnya tentu membuat banyak pihak khawatir. Mereka telah
bertaruh nyawa demi kesembuhan para pasien Covid-19. Mereka juga berhak selamat, hidup, karena mereka juga memiliki keluarga. Meski segala persiapan fisik telah dilakukan, namun ada hal yang ternyata justru mengancam, yakni APD yang dikenakan selama di rumah
sakit.
Donasi hazmat dari berbagai pihak rupanya tidak semuanya seusai standart kesehatan atau biohazard safety PPE (Personal Protective Equipment) atau alat pelindung diri sesuai keamanan Biohazard. Padahal menurut ECDC (European Centre for Disease Prevention and Control) ada beberapa hal yang harus diperhatikan di antaranya,
Perlindungan untuk pernapasan
Bagian ini sangat penting untuk melindungi diri dari doplet pasien ke tenaga medis. Respirator, penutup mulut dan hidung yang masih memiliki lubang pernapasan, ini akan melindungi diri dari inhalasi tetesan dan partikel. Karena berbeda antar pengguna, maka harus disesuaikan dengan pengguna. ECDC menyarankan penggunaan respirator face-piece (FPP). Kemudian masker wajah bedah terutama untuk melindungi diri dari tetesan
yang dihembuskan pasien.
Perlindungan mata
Kenakan kacamata atau pelindung wajah yang harus digunakan untuk
mencegah paparan virus pada mukosa mata. Sebagai catatan, kacamata
harus sesuai dengan fitur wajah pengguna dan harus kompatibel dengan
respirator.
Perlindungan tubuh
Baju panjang tahan air dengan lengan panjang harus digunakan untuk mencegah kontaminasi tubuh. Item APD ini tidak perlu menjadi steril kecuali jika digunakan di lingkungan yang steril (misalnya ruang operasi).
Jika baju tahan air tidak tersedia, celemek plastik sekali pakai yang dikenakan di atas baju tahan air bisa digunakan.
Pelindung tangan
Sarung tangan harus digunakan ketika menangani pasien Covid-19 yang dicurigai atau dikonfirmasi. Informasi lebih rinci tentang APD ketika merawat pasien yang diduga atau dikonfirmasi Covid-19, silakan merujuk ke dokumen teknis
Standart dari WHO juga menjelaskan hazmat yang memenuhi standart PPE sebaiknya tidak dijahit menggunakan benang, karena ini akan membuat
rongga di bahan non-woven. Ini berbahaya karena akan memberi celah virus yang berukuran nanometer. Berdasarkan biohazard safety PPE, standard dari WHO, bahan yg digunakan adalah spundbond 75 gram antibacterial PPE medical.
Kemudian dilakukan penjahitan menggunakan ultrasonic seaming machine. Penggunaan jarum dan benang hanya boleh di lingkar tangan dan kaki, karena bila menggunakan ultrasonic maka akan membuat karetnya kendor (oleh karena itu pada pergelangan tangan harus ditutupi handscone, dan pada pergelangan kaki
dilapisi shoe-cover.
Setelah hazmat jadi, sebelum digunakan masih ada tahapan yang harus dilaksanakan yakni melakukan strelisasi menggunakan mesin sanitizing.
Kemudian diproses Ultraviolet selama lima menit. Setelah itu dimasukkan ke dalam vacuum untuk antibakteri.
Dengan standart tersebut, diharapkan tenaga medis terselamatkan dan masyarakat memahami bagaimana standart tepat pembuatan APD. Bila sudah terlanjur diproduksi, sebaiknya dilapisi lagi dengan surgical gown agar menjadi PPE fase 2. SOP memang harus diterapkan demi keselamatan banyak pihak. (ECDC.europa.eu/ayn)
Editor : Ayun Rahmawati
Harian Merah Putih