Kondisi Terkini Lumpuhnya Pariwisata Bali Dihantam Pandemi Covid-19
MERAHPUTIH|BALI- Bali sepi mamring (baca: sepi sekali). Kondisi dan situasi Bali utamanya obyek wisata terkini dibagikan oleh seorang kawan yang sehari-hari mengais rejeki di pulau Dewata, Jumat (17/4).
Ya, Hardi adalah satu dari sekian ribu bahkan juta pekerja yang berhubungan dengan wisata dan terdampak langsung karena pandemi Covid-19.
Ia sekitar 5 tahun bekerja di Bali. Semenjak pandemi berlangsung, Roses yang bekerja di salah satu hotel bintang 4 itu di rumahkan. “Ya karena sepi dan tidak ada tamu jadi kami di rumahkan,” ungkapnya.

Semenjak Indonesia utamanya Bali menutup penerbangan dari dan ke China, situasi dan kondisi pariwisata otomatis lesu. Jalan-jalan ke lokasi wisata sepi. Tidak ada lalu lalang kendaraan. Hardi, pagi ini keluar dari rumah kontrakannya dan mencoba menyusuri jalan-jalan di Bali yang biasanya ramai bahkan cenderung padat.
Awalnya Hardi menuju ke kawasan Ground Zero. Monumen yang didirikan untuk mengingat peristiwa kelam Bom Bali pada 12 Oktober 2012 itu terlihat sepi. Padahal biasanya Monumen ramai didatangi wisatawan baik lokal mau pun asing. Umumnya mereka membawa bunga dan berdoa untuk para korban dan tentu saja berswa foto.
Hardi kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta. Jalanan menuju salah satu pantai jujukan turis itu terlihat lenggang. Di sebelah pintu masuk terdapat banner bertuliskan “Pantai Kuta Ditutup Untuk Umum”.

Setelah itu, Arek Suroboyo ini melanjutkan perjalan ke kawasan Poppies Lane. Gang sempit yang di kanan kirinya dipenuhi toko cendera mata ini kemarin juga sepi. “Padahal biasanya penuh dilalui turis yang ingin beli oleh-oleh,” ungkap pria single ini.
Lalu, pria yang pernah bekerja sebagai fotograper sebuah tabloid di Surabaya itu mendatangi Jl Kuta Square. Kondisinya sama saja. Sepi. Kemudian ia membagikan foto Taman Gatot Kaca. Di jam-jam sibuk, taman yang berdekatan dengan toko sovenir Joger itu padat merayap bahkan macet. “Tapi saat ini sepi,” ungkapnya.
Apa yang digambarkan Hardi adalah gambaran nyata dari lumpuhnya Bali sebagai destinasi wisata. Sektor pariwisata Bali yang menyumbang devisi Rp 280 triliun pada 2019 dipastikan akan turun.

Sebagai pekerja pariwisata, Hardi dan rekan-rekannya berusaha tegar. Meski sejak dirumahkan mulai 1 April kemarin, praktis ia tidak digaji. “Kami lebih kepada bersyukur saja karena masih diberi kesehatan. Meski kami belum diberitahu kapan akan bekerja lagi. Manajemen cuma bilang dirumahkan sampai pandemi berakhir. Nah, kapan berakhirnya kan kami tidak tahu,” bebernya.
Lima hari menjelang Ramadan, Hardi memutuskan akan segera pulang ke Surabaya. “Daripada di sini keluar biaya untuk kos. Lebih baik pulang. Tidak perlu bayar uang kos,” imbuhnya. (ono)
Editor : Eko Yudiono
Harian Merah Putih