Gulung Gemek Peternak Sapi Brau Hadapi Wabah PMK

harianmerahputih.id
Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu merupakan sentra peternakan dan pengolahan susu sapi yang sudah dikenal.

MERAHPUTIH I BATU - Selain dikenal sebagai Kota Wisata, Batu ternyata juga memiliki daerah penghasil susu sapi yang berkualitas. Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu merupakan sentra peternakan dan pengolahan susu sapi yang sudah dikenal.

Beragam olahan yang dibuat dari susu dihas Seperti susu murni, susu pasteurisasi, yogurt, ice cream, stik susu, permen susu dan seperti yang sedang berkembang saat ini yakni keju mozzarella. 

Baca juga: Gubernur Khofifah Buka Koridor Baru Trans Jatim, Warga Malang Raya Kini Punya Pilihan Transportasi Andal

Mayoritas penduduk di Dusun Brau merupakan peternak sapi perah, profesi yang sudah dilakukan secara turun - temurun semenjak tahun 1980-an hingga sekarang. Beternak sapi di Dusun Brau menjadi sumber perekonomian utama masyarakat, bahkan produk olahan susu sapi menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki.

 Jumlah populasi sapi di Dusun Brau, Desa Gunungsari dua kali lipat dibandingkan jumlah penduduknya. Yakni sekitar 1200 ekor sapi dan 450 jiwa penduduk. Tak heran jika wilayah yang berada di kaki Gunung Banyak, Kota Batu ini merupakan sentra penghasil susu sapi perah.

Potensi susu sapi perah ini menjadi sandaran hidup masyarakat Dusun Brau. Setiap harinya 5000 liter susu sapi dihasilkan. Susu sapi berkontribusi besar terhadap taraf perekonomian masyarakat Brau.

Mohamad Munir Khan, ketua kelompok tani Margomulyo, Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Batu Kota Batu menceritakan, bahwa Dusun Brau ini dulunya sangat miskin dan masuk desa tertinggal di Kota Batu.

 “Kami datang dengan semangat ingin merubah tingkat kesejaheraan masyarakat. Saat ini warga setiap hari sudah penghasasilan. Bahkan susu ini sektor pendapatan utama,” ungkap Munir. 

“Awalnya kami adalah para buruh tani di Dusun Brau ini tidak memiliki penghasilan yang pasti karena sumber pendapatan mereka tergantung dari orang yang membutuhkan tenaganya. Seiring dengan perkembangan Kota Batu, akhirnya warga punya keinginan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akhirnya seperti yang kita lihat, warga beternak sapi perah yang menghasilkan susu ini,” terangnya.

Dengan beternak sapi perah otomatis ada pendapatan pasti setiap hari, terutama dari susu yang dihasilkan. “Susumu - Semangatku, itulah jargon kami. Karena dengan beternak sapi perah kami dapat menikmati hasilnya. Karena beternak sapi perah menjadi penghasilan pasti,” ucap Munir.

Hingga akhirnya tahun 2002 para peternak sapi ini mendirikan Koperasi Margo Makmur Mandiri dengan anggota awal sebanyak 22 orang. Munir mengaku tujuan didirkan koperasi ini untuk membina anggota agar produksi susu sapi dan peternakannya berkembang. Kemudian membantu anggota untuk memasarkan produk susu sapi. “Selain itu juga untuk membantu menyiapkan lapangan kerja bagi pemuda desa agar bekerja di dalam desa itu sendiri,” ungkapnya. 

Dikatakan Munir, bahwa koperasinya memiliki fokus dalam bidang pembinaan dan pelatihan kepada anggota dalam pemasaran produk-produk susu segar dan olahannya. Koperasi ini, menurutnya mencatatkan progres yang semakin baik tiap tahunnya, Bahkan komoditas susu yang dihasilkan dari koperasi peternak sapi perah yang beranggotakan 160 orang ini, sudah dikenal oleh masyarakat.

Selain memenuhi permintaan susu di Malang Raya, Koperasi Margo Makmur Mandiri juga menyuplai kebutuhan pabrik-pabrik ternama. Hal ini membuktikan bahwa susu yang dihasilkan peternak sapi perah di Brau merupakan produk susu berkualitas. 

“Di sini sektor usaha yang pertama ternak, sedangkan usaha sampingnya ada yang petani, dan produk utamanya adalah susu segar, Yang dirintis sekarang adalah produk turunan berupa susu pasteurisasi, minuman yogurt, olahan keju dan stik susu. Dari segi pemasaran, kita sudah memasarkan di lokal Batu ada beberapa tempat usaha yang bermitra dengan kita, selain itu juga ada beberapa supplier yang kita fasilitasi untuk dikirimkan ke Kota Malang” terangnya. 

Dengan adanya potensi ini, warga Dusun Brau secara bersama-sama telah merubah desanya menjadi area wisata. Warga membersihkan dan membuat ikon-ikon wisata yang bagus, serta memperbaiki kondisi kandang sehingga bersih dan cocok untuk wisata. Selain itu juga dikembangkan wisata edukasi sapi perah, tempat magang atau praktek kerja lapangan (PKL) dari jenjang sekolah menengah sampai perguruan tinggi. 

Munir mengatakan bahwa para peternak merawat sapi dengan memberikan pakan hijau seperti rumput gajah dan tebon yang selalu tersedia setiap saat. “Jadi untuk sukses beternak sapi perah kuncinya ketersediaan pakan rumput hijau dan tenaga kerja,” tegasnya.

Munir mengatakan bahwa untuk meningkatkan produksi susu sapi perah secara optimal, dapat dilakukan dengan meningkatkan memilih induk produktif melalui manajemen pakan, kesehatan, reproduksi dan pemeliharaan sapi perah yang baik dan benar.

“Faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan produksi susu sapi perah, selain ternaknya yang harus produktif, juga perlu disertai dengan peningkatan sumberdaya peternak, tersedianya modal usaha dan inovasi teknologi tepat guna, sumberdaya peternak dapat ditingkatkan melalui penyuluhan, dengan tujuan agar peternak lebih terampil dalam mengelola usahanya,” ungkap Munir

Peningkatan kapasitas usaha dapat dicapai melalui dukungan penyuluhan, pendampingan, pendidikan dan pelatihan bagi peternak serta penanganan pasca panen. Pemberdayaan peternak sapi perah, merupakan proses yang sangat perlu diperhatikan, karena ujung tombak kecukupan protein hewani asal susu sapi perah adalah peternak untuk meningkatkan populasi sapi perah dapat dilakukan dengan memberdayakan potensi dari daerah tersebut.

 “Dengan meningkatnya keterampilan dan motivasi peternak dalam usaha peternakan sapi perah, diharapkan produktivitas sapi perah meningkat dan pada akhirnya pendapatan peternak akan meningkat,“ jelasnya. 

Susu segar harus dijaga kualitasnya agar tidak mengalami perubahan organoleptik maupun kontaminasi, sedapat mungkin tak terjadi perubahan signifikan sebagaimana saat disekresikan dari ambing.

“Secara umum susu dari peternak kita uji dulu menggunakan alat, atau secara manual dapat dilihat dari warna, rasa dan baunya dapat dibedakan, setelah itu ditampung dalam mesin pendingin susu, kita mempunyai 2 dua unit penyimpanan atau pendinginan karena susu itu rentan dengan perkembangan bakteri, sekarang harga per liter Rp.7.300,” jelasnya.

Sementara itu, Arianto Jamal (37) warga Dusun Brau yang juga merupakan petrernak sapi perah anggota dari Koperasi Margo Makmur Mandiri merasakan keuntungan memiliki sapi perah. Saat ini Jamal memiliki sapi perah sebanyak 13 ekor, tetapi tidak semua sapinya bisa diperah susunya karena untuk bisa memeras susunya sapi tersebut harus sapi induk dan juga sapi tersebut sudah pernah melahirkan sebelumnya baru sapi-sapi perah tersebut bisa diperas susunya. 

Dengan jumlah tersebut Jamal cukup sibuk mengurus sapi- sapinya agar tumbuh sehat dan berprodusi dengan baik. Setiap pagi dan sore Jamal selalu memerah susu sapi yang mana merupakan sebagai kegiatan rutinan setiap harinya. Kegiatan tersebut dikaukan Jamal seorang diri sebanyak dua kali sehari. Waktu dari memerah susu sapi pada setiap pagi pukul 06:00 - 08:00 dan juga sore pukul 15:00 -17:00. Sebelum diperah sapi-sapi tersebut akan dimandikan terlebih dahulu agar sapi-sapi tersebut juga bersih dan higenis sehingga bisa baik kualitas susunya. Selain itu juga Jamal juga membersihkan kototran-kotoran sapi yang berserakan. 

“Untuk memperoleh hasil yang maksimal, Setiap hari kegiatan rutin yang harus saya lakukan yakni membersihkan kandang, combor, memerah susu dan memberi makan sapi,” jelas Jamal.

Baca juga: Kejari Batu Periksa 11 Kepala Sekolah Terkait Dugaan Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Untuk pemerahan susu sapi dilakukan secara manual menggunakan tangan. Setiap harinya peternakan sapi Jamal ini mengasilkan kurang lebih 100 liter susu yang kemudian akan diambil oleh petugas dari Koperasi Margo Makmur Mandiri.

Sapi-sapi perah milik Jamal ini memakan makanan yang lebih mengarah ke makanan yang masih basah. Seperti rumput gajah yang mana sebelum dikasih ke sapi makanannya terlebih dahulu digiling menggunakan mesin lalu kemudian dimasukkan kedalam tong -tong makanan agar makanan tersebut dapat berfermentasi dengan baik dan juga mengandung protein yang tinggi.

“Sapi-sapi ini memang harus diberi makan tiga kali sehari, kandang juga harus dibersihkan secara rutin. Kebetulan saya memiliki 2 hektar kebun untuk pakan hijau yang saya tanami rumput gajah,” ujar Jamal.

Hasilnya, dengan berternak sapi perah, Jamal mengaku kesejahteraan keluarganya sangat baik. “Alhamdulillah, penghasilan dari berternak sapi dapat mencukupi biaya kebutuhan sehari hari, sekolah anak-anak dan ditabung, susumu – semangatku,” kata Jamal. 

Namun saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), seluruh sapinya tidak berproduksi susu. Bahkan saat wabah tersebut, dari 13 sapi yang dimilikinya, mati 5 ekor, dijual 2 ekor dengan harga total Rp 6 juta.

“Jadi saat itu saya saya merawat sebisanya dan memanggil dokter hewan dengan biaya Rp 70.000 per ekor. Kalau sudah baikan dihentikan pengobatannya, namun kalau belum pulih pengobatan terus dilakukan. Saya juga memberikan obat tradisional/herbal 1 kali sehari berupa 100ml untuk masing masing sapi cairan yang terbuat dari kunir dan jahe (diblender) yang dicampurkan dengan combor,” terangnya.

Jamal mengaku total kerugian yang dialaminya selama wabah PMK lebih dari Rp120 juta. “Gulung gemek (hancur lebur, red) Mas, biaya berapapun tetep dibayar demi kesembuhan sapi,” ungkapnya.

Saat pemulihan Jamal mengaku biaya pakan/konsentrat meningkat. Menurutnya selama 3 bulan menghabiskan biaya sekitar Rp 12 juta. “Agak aneh tapi berhasil, untuk penyakit mulut pada sapi saya memberikan minuman Adem Sari. Untuk penyembuhan penyakit kuku membeli obat di dokter, 1 botol dengan harga Rp90.000 per botol per hari,” katanya.

Lebih lanjut Jamal mengatakan pada masa penyembuhan, saat itu sapinya tinggal 5 ekor, ia mendapatkan vaksinasi gratis dari pemerintah. Selain itu Jamal mendapat ganti rugi dari pemerintah sebesar Rp 10 juta per ekor. “Saya mendapat ganti rugi dari pemerintah sebesar Rp 40 juta rupiah. Hanya 4 sapi yang mendapatkan ganti rugi, karena yang 1 sapi tidak terdaftar,” terangnya.

Uang ganti rugi dari pemerintah digunakan Jamal untuk membayar hutang kepada pengepul pakan / konsentrat selama pemulihan. “Peran koperasi saat PMK menyuplai obat obatan untuk kuku dan mulut. Alhamdulillah, setelah kondisi sudah aman dan terkendali bisa membeli 2 ekor babon (sapi bunting) seharga Rp 42 juta,” katanya.

Sementara itu Dapin Narendra, pemuda alumni Universitas Brawijaya Malang itu mengelola produksi keju mozzarella yang bagian dari Koperasi Margo Makmur Mandiri. Saat ini pihaknya sejak satu tahun lalu sudah mulai memproduksi keju. Produk keju mozzarella yang diberi merek Chizzu ini pun sudah dipasarkan mulai Jawa hingga Bali dengan omzet ratusan juta setiap bulannya.

“Sudah setahun kami produksi keju mozzarella, dan alhamdulillah produk kami diterima di pasaran karena memiliki cita rasa berbeda yaitu lebih gurih. Mulai Jawa seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan Bali. Tercatat omzet pun pernah mencapai Rp300 juta, tapi kalau rata-rata per bulan minimal Rp200 juta,” katanya. 

Proses pengolahan susu hingga menjadi keju mozzarella memerlukan waktu sekitar 6 jam. Dari bahan baku 1000 liter susu nantinya mampu menghasilkan 140 kilogram keju mozzarella.

Baca juga: Jawa Timur Genjot Produksi Susu, Gandeng Swasta Impor 3.300 Sapi Perah Bunting dari Australia

“Setiap Minggu kami melalukan pengolahan 2 hingga 3 kali, perbulan bisa memproduksi 4 ton keju mozarella dengan kemasan 250 gram yang kami jual Rp 28 ribu dan yang kemasan 1 kilogram kami jual Rp 100 ribu,” katanya. 

Dapin menyampaikan pemasaran keju mozarella sangat mudah dan memiliki peluang besar. Hal itu ditunjang adanya tren inovasi olahan makanan, saat ini tidak hanya makanan Western yang menggunakan keju mozarella, makanan Timur atau Asiapun sekarang sudah banyak yang menggunakan keju mozarella untuk topping dan sebagainya. 

“Mozarella produk lokal tak kalah dengan keju mozarella impor. Karena rasa lebih gurih dan lebih cocok ke lidah masyarakat. Itu yang membuat pemasaran mudah, rata-rata rumah makan hingga kafe yang memesan kepada kami,” katanya. 

Terpisah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Peternakan telah mengupayakan pemulihan kesuburan sapi perah guna meningkatkan produksi susu, setelah pandemi penyakit mulut dan kuku (PMK) dinyatakan mulai melandai. 

Kepala Dinas Peternakan Jatim Indyah Aryani mengatakan di Jawa Timur saat ini nol kasus PMK selama dua pekan terakhir.

“Meski kasus PMK mulai melandai tapi peternak sapi perah masih terdampak secara ekonomi. Salah satunya produksi susunya masih belum maksimal seperti sebelum terjadi kasus PMK,” kata Indy. 

Namun seiring digalakannya vaksinasi PMK kepada hewan ternak yang rentan di Jatim, perlahan performa sapi perah mulai berangsur pulih meski belum 100 persen. 

Kini yang menjadi perhatian Dinas Peternakan dan juga para peternak adalah memulihkan kondisi hewan ternak pasca wabah PMK. Mulai dari pemberian asupan makanan tambahan, serta perawatan.

“Pakannya harus cukup, baik hijauan maupun konsentrat, lingkungannya harus bersih, bio securitynya juga harus tetap jalan, lalu lintas ternak terjaga, ini kita dampingi terus teman teman peternak kita yang ada di lapangan,” jelas Indy. 

Diakuinya, bahwa selama wabah PMK, jumlah produksi susu sapi perah mengalami penurunan hingga 30 persen. Setelah gerak cepat memberikan vaksin PMK serta pakan yang terjaga, kini berangsur produksi susu mulai membaik, meski belum sepenuhnya normal.

Untuk benar-benar dinyatakan terbebas dari PMK, hewan ternak harus divaksin minimal 90 persen atau bahkan 100 persen dari total populasi. Populasi hewan ternak rentan tersebut di Jatim terdata sebanyak 10,4 juta ekor. Sementara sampai sekarang yang telah divaksin dosis satu dan dua tercatat sebanyak 6,8 juta ekor. 

“Target kami di tahun 2023 menyuntikkan 7,3 juta dosis vaksin kepada hewan ternak yang rentan PMK. Untuk mencapai vaksinasi 100 persen, karena keterbatasan SDM yang menyuntikkannya, kami targetkan sampai tiga tahun mendatang,” pungkas Indy. (PRS)

Editor : prass prasetyo

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru