MERAHPUTIH I SURABAYA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa warisan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bukan hanya berupa lembaga dan aset, tetapi juga mencakup pemikiran, gagasan, dan nilai-nilai luhur yang membentuk peradaban umat. Hal tersebut diungkapkan Gus Yahya dalam acara Kick-off Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-102 NU yang digelar di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (15/1).
Pada kesempatan itu Gus Yahya menyatakan bahwa warisan para muassis NU memiliki makna yang sangat mendalam, bahkan tak tertandingi oleh inisiatif lainnya sepanjang sejarah modern dunia. “Saya tidak melihat ada atsar yang sedemikian luar biasa dari inisiatif apa pun sepanjang sejarah modern dunia ini yang lebih dalam maknanya daripada atsar yang ditinggalkan oleh para muassis NU,” ujar Gus Yahya.
Ia menekankan bahwa warisan ini bukan sekadar aset fisik, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijaga, dilestarikan, dan diteruskan. Menurutnya, warisan tersebut memiliki nilai yang sangat besar, baik bagi kemanusiaan maupun agama secara keseluruhan.
Gus Yahya juga mengajak seluruh warga NU untuk mengonsolidasikan kekayaan dan warisan yang telah ditinggalkan para pendiri NU. Langkah ini dinilai penting untuk mempermudah perjuangan organisasi di masa mendatang.
“Maka, kita bersama-sama mengambil keputusan bahwa ini saatnya kita mengonsolidasikan atsar kekayaan yang diwariskan kepada kita ini untuk semakin memudahkan upaya-upaya ke depan, dari seluruh warga, seluruh pejuang, dan seluruh jamiyyah NU, untuk memperjuangkan terwujudnya cita-cita para muassis,” tegasnya.
Acara ini menjadi momen refleksi sekaligus penegasan kembali komitmen NU terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi landasan organisasi. Gus Yahya menegaskan bahwa NU harus mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang diwariskan para pendiri.
Di sisi lain, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, turut menyinggung isu Muktamar Luar Biasa (MLB) yang sempat mencuat beberapa waktu lalu. Kiai Miftach menyebut bahwa perjuangan NU selama ini tidaklah mudah karena berbagai masalah besar yang harus dihadapi.
“Sekarang perjuangan Nahdlatul Ulama tidak mudah, tidak enteng. Apalagi di tahun-tahun ini kita banyak bermunculan masalah-masalah besar, dan itu membutuhkan kesungguhan oleh PBNU. Tapi Alhamdulillah satu per satu bisa kita lewati,” ujar Kiai Miftachul Akhyar.
Mengenai isu MLB, Kiai Miftach menyatakan bahwa hal tersebut sebetulnya merupakan sesuatu yang wajar selama masih mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Namun, ia mempertanyakan urgensi MLB dalam konteks saat ini, mengingat tidak ada hal yang perlu diperbaiki secara signifikan.
“Karena MLB itu kan tujuannya memperbaiki, dan sekarang sepertinya tidak ada yang mau diperbaiki. Apa yang perlu diperbaiki? Lalu ada apa dengan kepentingan MLB itu, misalnya,” jelasnya.
Acara Kick-off Harlah ke-102 NU ini menjadi momentum penting bagi para pengurus dan warga NU untuk merenungkan kembali perjuangan organisasi serta merumuskan langkah-langkah strategis ke depan. Dalam situasi yang penuh tantangan, NU tetap berkomitmen untuk menjaga warisan para pendirinya dan membawa manfaat bagi umat manusia. (red)
Editor : prass prasetyo