Surabaya Waterfront Land: Mimpi Besar Kota Pahlawan Menuju Pusat Maritim Terpadu

harianmerahputih.id
Agung Pramono, juru bicara Surabaya Waterfront Land (SWL)

MERAHPUTIH I SURABAYA - Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan tetapi juga sebagai pusat industri, perdagangan, maritim, dan pendidikan (Indamardi). Sebagai gerbang utama wilayah timur Indonesia dalam jaringan logistik nasional, Surabaya menghadapi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan ekonomi dan infrastruktur, termasuk proyek besar seperti Makassar New Port serta rencana jalur kereta cepat Jakarta-Surabaya.

Namun, lahan yang terbatas dan permasalahan lingkungan seperti sedimentasi serta menurunnya hasil laut menjadi penghambat utama dalam pengembangan kawasan pesisir. Di sinilah Surabaya Waterfront Land (SWL) hadir sebagai solusi besar yang tidak hanya akan merevitalisasi pesisir Surabaya tetapi juga mengembalikan kejayaan kota ini sebagai pusat maritim nasional.

Dalam acara sarasehan Agung Pramono, juru bicara SWL, menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah strategis yang akan membawa dampak besar bagi ekonomi Surabaya dan sekitarnya.

"Surabaya Waterfront Land bukan sekadar proyek reklamasi, melainkan sebuah transformasi besar. Kami ingin menjadikan kawasan pesisir ini sebagai pusat industri perikanan, destinasi wisata bahari, serta pusat perdagangan dan pendidikan yang terintegrasi," ujar Agun kepada awak media, Jumat (28/2)..

SWL dibangun di atas lahan eksisting Kenjeran Park seluas 100 hektare yang kemudian diperluas melalui reklamasi hingga mencapai 1.084 hektare. Dengan konsep pengembangan berkelanjutan, kawasan ini akan mencakup berbagai sektor utama, seperti:

  • Industri Perikanan: Pembangunan Green Fishery Island untuk mendukung kesejahteraan nelayan melalui modernisasi industri perikanan.
  • Pusat Pendidikan: Pembangunan sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan politeknik.
  • Pariwisata Bahari: Wisata pantai dan olahraga laut akan dikembangkan, menjadikan Surabaya sebagai destinasi maritim unggulan.
  • Kawasan Perdagangan dan Komersial: Meningkatkan daya saing ekonomi Surabaya di tingkat nasional dan internasional.
  • Hunian dan Infrastruktur Pendukung: Termasuk apartemen, hotel, pusat kesehatan, serta kawasan hijau dan konservasi mangrove.

Salah satu alasan utama di balik reklamasi ini adalah masalah sedimentasi yang telah menghambat aktivitas perikanan dan wisata bahari di Surabaya. Pendangkalan perairan tidak hanya membuat perahu nelayan kesulitan beroperasi, tetapi juga menurunkan potensi ekonomi di sektor maritim.

"Dengan adanya reklamasi ini, kami memastikan bahwa nelayan bisa melaut kapan saja tanpa tergantung pasang surut," jelas Agung.

Tak hanya itu, penurunan hasil laut akibat overfishing dan degradasi ekosistem juga menjadi perhatian utama. Melalui Green Fishery Island, SWL akan memperkenalkan teknologi perikanan modern guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan.

Proyek SWL telah mendapatkan pengakuan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang didukung oleh berbagai regulasi dan persetujuan dari pemerintah pusat, di antaranya:

  1. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Tahun 2024, yang memasukkan SWL sebagai bagian dari daftar proyek strategis nasional.
  2. Surat Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) yang menetapkan PT Granting Jaya sebagai pengelola proyek.
  3. Persetujuan Keserasian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) dari Pemerintah RI.
  4. Rekomendasi dari Kementerian Pertahanan RI, yang memastikan proyek ini tidak mengganggu kepentingan pertahanan dan keamanan nasional.

Pengerjaan reklamasi akan dilakukan secara bertahap dengan kebutuhan material tanah urug mencapai 57,2 juta meter kubik. Material tersebut diperoleh dari sedimentasi di zona pertambangan pasir laut sekitar lokasi serta pengerukan alur baru untuk mendukung konektivitas pelabuhan.

Dengan pendekatan ini, SWL tidak hanya menghadirkan kawasan bisnis dan industri baru, tetapi juga memastikan dampak lingkungan yang terkendali dan mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.

Surabaya Waterfront Land merupakan representasi dari mimpi besar Surabaya untuk menjadi kota maritim modern yang berdaya saing global. Proyek ini membuka peluang investasi besar, menciptakan ribuan lapangan kerja baru, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Seperti yang disampaikan Agung Pramono, "SWL bukan hanya proyek pembangunan, tetapi juga upaya untuk menghidupkan kembali kejayaan maritim Surabaya."

Agung menegaskan jika pembangunan SWL tidak dipungkiri juga berdampak negatif terhadap  nelayan.

Bahkan, proyek ini juga mendapat penolakan keras. Ia mengatakan, Granting Jaya telah melakukan 18 kali pertemuan dengan nelayan untuk menjelaskan gambaran blue print proyek secara lebih jelas.

Pembangunan Kawasan Pesisir Terpadu Surabaya Waterfront Land (SWL) yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN), saat ini telah memasuki tahap uji Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

"Sementara yang tahun kemarin itu adalah kick off AMDAL atau konsultasi publik pada Juli 2024. Nanti bersamaan AMDAL kita izin proses reklamasi karena reklamasi nggak bisa jalan tanpa AMDAL," ujar Agung.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, SWL diharapkan menjadi ikon baru Kota Pahlawan sekaligus pusat ekonomi dan maritim yang mampu membawa Surabaya ke tingkat yang lebih tinggi di masa depan. (red)

 

Editor : prass prasetyo

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru