MERAHPUTIH I ARAFAH — Dalam suhu udara yang menekan dan semangat yang nyaris terkikis oleh waktu, ribuan jamaah haji Indonesia terjebak dalam ketidakpastian menjelang puncak ibadah haji tahun 2025. Mereka menunggu berjam-jam di hotel tanpa kejelasan waktu keberangkatan menuju Arafah, tempat dilangsungkannya prosesi wukuf — rukun haji yang paling krusial.
Salah satunya adalah rombongan yang dipimpin oleh Muhammad Molik Latief, Sekretaris Asosiasi KBIH Surabaya sekaligus Pembina Yayasan Nurul Hayat Surabaya. Ia menyampaikan bahwa sejak pukul 08.00 pagi waktu Arab Saudi, para jamaah telah diminta bersiap. Namun kenyataannya, mereka baru dijemput menjelang subuh, tepatnya pukul 03.30 dini hari.
Baca juga: Arab Saudi Perluas Layanan Makkah Route, Embarkasi Makassar Jadi Sorotan Baru Jamaah Timur Indonesia
“Baru jam 03.30 kami dijemput dari hotel 901 dan dibawa ke Arafah. Perjalanan sekitar 30 sampai 40 menit dan Alhamdulillah sekarang sudah sampai. Tapi ini sangat melelahkan,” ujar Molik Latief.
Ketika ditanya soal penyebab keterlambatan penjemputan, Latief mengaku belum mendapat penjelasan resmi dari pihak penyelenggara. Kondisi serupa, kata dia, juga terjadi di hotel-hotel lain yang berada di sekitaran sektor 9.
“Saya lihat di sepanjang jalan, jamaah dari hotel 904 pun masih duduk-duduk di luar, menunggu jemputan. Jadi bukan hanya di hotel kami,” ungkapnya.
Menurut informasi sementara yang diterimanya dari Kepala Sektor 9, Wahyudin, sekitar lebih dari 1.000 jamaah di sektor tersebut terdampak keterlambatan. Namun hingga pukul 04.00 pagi waktu setempat, belum ada data pasti terkait berapa banyak rombongan yang belum terangkut.
Molik yang sudah beberapa kali terlibat dalam proses pendampingan ibadah haji menegaskan bahwa situasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.
“Biasanya, paling lambat jam 8 atau 9 pagi sudah diberangkatkan ke Arafah. Tahun ini sangat berbeda. Ini baru kali pertama kami mengalami keterlambatan sampai menjelang subuh,” tuturnya prihatin.
Pihaknya telah mencoba berkoordinasi dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan sektor terkait. Dari hasil komunikasi, diketahui bahwa keterlambatan disebabkan oleh masalah di pihak Sharikah—penyedia transportasi dan layanan lokal yang ditunjuk otoritas Arab Saudi.
Namun demikian, koordinasi tampaknya belum cukup efektif untuk mencegah kekacauan ini terjadi secara sistemik.
Baca juga: Kementerian Haji dan Umrah Tegaskan Mekanisme Berlapis Istithaah Kesehatan Jamaah
Keterlambatan penjemputan bukan hanya berdampak pada jadwal ibadah, tapi juga mempengaruhi kondisi fisik dan mental jamaah. Mulai dari kelelahan, stres, hingga ancaman dehidrasi jika harus beribadah di luar tenda saat suhu Arafah yang bisa melampaui 45 derajat Celsius.
“Secara psikologis sangat menguras energi. Mulai jam 8 pagi diminta stand by, tapi baru jalan menjelang subuh. Belum lagi ketidakpastian apakah kami mendapatkan tenda di Arafah,” kata Molik.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Beberapa jamaah yang tiba lebih awal di Arafah dilaporkan tidak mendapat tempat di dalam tenda. Banyak yang terpaksa berada di luar, terpapar panas, dan berisiko mengalami heatstroke.
“Di grup WhatsApp KBIH se-Indonesia, banyak saudara kita yang menyampaikan belum dapat jatah tenda. Ini jelas situasi darurat yang seharusnya tidak terjadi,” tambahnya.
Kekacauan ini juga menyebabkan keterpisahan antara anggota keluarga dalam satu rombongan. Ada jamaah yang berpisah dengan suami atau istri, bahkan disabilitas yang terpisah dari pendampingnya.
Baca juga: KPK Periksa 12 Saksi Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji, Arah Penyidikan Kian Mengerucut
“Ini menyedihkan, belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi seperti ini sangat riskan, terutama bagi lansia dan mereka yang membutuhkan bantuan khusus,” tegas Molik.
Meski Molik mencoba tetap positif dan menerima keadaan sebagai takdir dari Allah, ia menekankan pentingnya peristiwa ini dijadikan catatan besar untuk evaluasi penyelenggaraan haji di masa mendatang. Khususnya bagi Indonesia yang akan mengelola haji secara lebih mandiri lewat Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan entitas pelaksana lainnya.
“Harus jadi pelajaran. Ini menyangkut ribuan nyawa dan kenyamanan ibadah mereka. Ibadah yang seharusnya khusyuk, jangan dikorbankan oleh ketidakprofesionalan teknis,” ujarnya tegas.
Kini, seluruh jamaah di sektor tersebut berharap bisa segera beristirahat sebelum memasuki waktu wukuf. Namun kepastian soal tenda dan ketersediaan ruang yang layak masih menjadi tanda tanya besar.
“Semoga Allah memberi kami kekuatan dan kesabaran,” tutup Molik, sembari mendampingi jamaah yang mulai merebahkan diri di pelataran Arafah. (red)
Editor : Redaksi