Usai Wukuf di Arafah, Jemaah Haji Indonesia Bergerak ke Muzdalifah

harianmerahputih.id
jemaah tampak mulai tiba dan menempati area Muzdalifah yang telah dibagi dalam beberapa zona atau markas sesuai syarikah (penyedia layanan) masing-masing

MERAHPUTIH I MUZDALIFAH — Selepas menunaikan rukun haji paling utama, yakni wukuf di Arafah pada Sabtu (15/6) sore waktu Arab Saudi (WAS), jemaah haji Indonesia mulai diberangkatkan menuju Muzdalifah. Pergerakan ini dimulai sejak pukul 19.00 WAS, diiringi gelombang jemaah yang perlahan mengisi padang terbuka Muzdalifah.

Sekitar pukul 19.30 WAS, jemaah tampak mulai tiba dan menempati area Muzdalifah yang telah dibagi dalam beberapa zona atau markas sesuai syarikah (penyedia layanan) masing-masing. Di tempat ini, jemaah menjalani mabit, atau bermalam, hingga melewati tengah malam sebelum kemudian menuju Mina untuk melaksanakan lontar jumrah dan mabit di sana.

Baca juga: Arab Saudi Perluas Layanan Makkah Route, Embarkasi Makassar Jadi Sorotan Baru Jamaah Timur Indonesia

Setibanya di markas, jemaah segera menunaikan salat Magrib dan Isya yang dijamak dan diqashar. Petugas haji Indonesia mengarahkan para jemaah dengan sigap dan sabar agar tidak terjadi kepadatan di area yang juga dikenal sebagai masyaril haram ini.

Selama di Muzdalifah, jemaah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan zikir. Dalam suasana yang syahdu di padang luas beralaskan kerikil, jemaah memanfaatkan waktu untuk merenung dan memanjatkan doa-doa terbaik. Sebagian jemaah juga mulai mengumpulkan batu-batu kecil yang akan digunakan untuk prosesi melontar jumrah di Mina. Bagi yang belum sempat mengumpulkan, syarikah menyediakan batu kerikil sesuai kebutuhan.

"Alhamdulillah, rasanya luar biasa bisa menemani ibu menjalani ibadah haji," tutur Adinda (24), jemaah Kloter JKG 11 dari Embarkasi Jakarta Pondok Gede. Ia tiba di Muzdalifah sekitar pukul 20.30 WAS, mendampingi ibunda, Siti Aminah. Meski usianya masih muda, Dinda tampak sigap dan penuh semangat menjalani prosesi ibadah bersama sang ibu.

Baca juga: Kementerian Haji dan Umrah Tegaskan Mekanisme Berlapis Istithaah Kesehatan Jamaah

"Kami bersyukur bisa melewati Arafah dengan lancar. Sekarang kami fokus menjalani mabit, lalu bersiap untuk Mina," tambahnya.

Sementara itu, sekitar 60.000 jemaah Indonesia mengikuti skema murur, yakni melewati Muzdalifah tanpa turun dari bus. Kebijakan ini diberlakukan bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang masuk kategori risiko tinggi. Jemaah murur tetap dianggap sah menjalani mabit, karena telah berhenti sejenak di kawasan Muzdalifah. Dari situ, mereka langsung melanjutkan perjalanan ke Mina.

Jalur yang digunakan bus murur berbeda dari jalur bus jemaah reguler yang melakukan mabit. Langkah ini diambil untuk menghindari kemacetan dan memastikan keselamatan serta kenyamanan jemaah.

Baca juga: KPK Periksa 12 Saksi Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji, Arah Penyidikan Kian Mengerucut

Prosesi di Muzdalifah menandai babak penting dalam rangkaian ibadah haji. Di sinilah jemaah menjaga kesucian ihram hingga melontar jumrah aqabah dan melakukan tahallul awal—yang menandai sebagian besar larangan ihram telah gugur, kecuali hubungan suami istri.

Dengan tertib dan penuh kekhusyukan, jemaah haji Indonesia terus melanjutkan perjalanan spiritualnya. Setiap langkah di padang tandus ini membawa makna dan harapan yang tak terhingga. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru