MERAHPUTIH I SURABAYA — Kabupaten Lamongan bersiap menjadi episentrum baru industri agribisnis nasional. Sebuah industri pengolahan pakan ternak berskala raksasa akan dibangun di Kecamatan Paciran pada tahun 2026. Fasilitas ini digadang-gadang sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara, dengan kapasitas penampungan mencapai 92.000 ton dan kemampuan pengeringan 1.733 ton per hari.
Langkah besar ini menjadi penanda baru bagi arah pembangunan industri berbasis pertanian di Jawa Timur, khususnya di sektor peternakan dan pengolahan jagung. Industri tersebut diyakini akan menyerap hasil panen dari lebih dari 1 juta ton jagung yang tersebar di berbagai daerah, termasuk kawasan binaan TNI-Polri di Jawa Timur.
Baca juga: Wagub Emil Tegaskan Peran Strategis PMI dalam Fondasi Kesehatan Jatim
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyatakan pembangunan pabrik ini merupakan buah dari sinergi lintas sektor yang sudah dirintis dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya ialah kemitraan strategis antara pemerintah, kepolisian, perusahaan agribisnis multinasional, dan petani lokal.
"Jadi kemarin kami berkesempatan bersama Bapak Kapolda, kita datang ke Ngawi. Di sana kita melihat langsung kawasan pertanian jagung yang mendapat pembinaan dari Polda Jawa Timur, bekerja sama dengan Syngenta dan Japfa Comfeed. Total area yang mereka bina mencapai 18.000 hektar. Dan kini, salah satu pabrik pakan terbesar di Asia Tenggara akan dibangun di Lamongan. Ini bukan hanya investasi besar, tapi juga harapan baru bagi kesejahteraan petani jagung kita," ujar Emil usai acara penyembelihan kurban DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Sabtu (7/6/2025).
Lebih lanjut Emil menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam rantai pasok jagung nasional. Provinsi ini menjadi penghasil jagung utama di Indonesia dengan luas tanam mencapai 750.000 hektar.
"Dengan pembangunan ini, kita tidak hanya bicara soal pengolahan pakan, tetapi juga keberlanjutan rantai pasok, peningkatan produktivitas petani, serta ketahanan pangan nasional," imbuhnya.
Di tingkat lokal, Pemerintah Kabupaten Lamongan menyambut dengan antusias kehadiran industri besar ini. Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, yang akrab disapa Pak Yes, menyatakan kesiapan daerahnya untuk menjadi tuan rumah investasi strategis ini.
“Tentu Pemkab Lamongan, Polres Lamongan, dan seluruh elemen daerah sangat mendukung kehadiran industri pakan ternak ini. Apalagi lokasinya berada di Paciran, yang memiliki akses logistik strategis. Ini akan membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan menjadikan Lamongan sebagai pemain utama dalam industri agribisnis nasional,” tegas Yuhronur.
Baca juga: Wagub Emil Ingatkan Ancaman Longsor di Jatim: Pegunungan hingga Pesisir Selatan Harus Siaga
Menurutnya, transformasi jagung lokal menjadi pakan ternak bukan hanya akan meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam ekosistem agribisnis modern.
Pembangunan pabrik ini tak hanya dinilai sebagai langkah industrialisasi, melainkan sebagai pilar baru dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan peternakan nasional. Dengan kolaborasi antara petani lokal, perusahaan pengolahan, dan dukungan pemerintah, produksi pakan ternak dalam negeri bisa lebih mandiri dan stabil, terutama dalam menghadapi dinamika harga pakan global.
Tak hanya itu, dengan kapasitas produksi dan pengolahan yang masif, industri ini juga berpotensi menurunkan ketergantungan terhadap pakan ternak impor, yang selama ini menjadi salah satu tantangan besar sektor peternakan Indonesia.
Pabrik pakan ternak ini dirancang untuk menjadi sentra inovasi dan efisiensi. Teknologi pengeringan dengan kapasitas 1.733 ton per hari memungkinkan pengolahan jagung dalam skala besar dan cepat. Hal ini memberikan jaminan ketersediaan bahan baku pakan bagi sektor peternakan, mulai dari ayam, sapi, hingga perikanan.
Ekonomi Lamongan pun diproyeksikan akan terdongkrak secara signifikan. Selain menyerap hasil panen dari wilayah sekitar, pembangunan industri ini akan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, baik langsung maupun tidak langsung. Mulai dari pekerja di sektor konstruksi, logistik, pengolahan, hingga petani plasma dan mitra koperasi.
Pemerintah daerah menyatakan akan mengawal proses pembangunan ini secara intensif. Aspek lingkungan, perizinan, hingga pemberdayaan masyarakat akan menjadi fokus utama agar industri ini tumbuh secara berkelanjutan.
“Yang kami inginkan bukan sekadar pabrik berdiri, tapi benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat Lamongan dan sekitarnya,” tegas Pak Yes.
Jika semua berjalan sesuai rencana, tahun 2026 akan menjadi awal baru bagi wajah pertanian Indonesia: lebih kuat, berdaya saing, dan mandiri. Lamongan, yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan daerah agraris, akan mencatat sejarah baru sebagai sentra industri pakan ternak terbesar se-Asia Tenggara. (red)
Editor : Redaksi