MERAHPUTIH I JAKARTA — Federasi Sepak Bola Asia (AFC) resmi menunjuk Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Keputusan ini menjadi titik awal fase baru perjuangan tim nasional Indonesia, yang kembali harus menempuh laga-laga krusial di jalur playoff demi menggapai panggung sepak bola tertinggi dunia.
Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, menyambut baik keputusan AFC tersebut dan menegaskan komitmen penuh untuk menyiapkan skuad "Garuda" menghadapi tantangan selanjutnya.
Baca juga: Kapten Persija Rizky Ridho Masuk Nominasi Puskas Award 2025, Gol Spektakulernya Guncang Dunia
“Kami menghormati keputusan AFC dalam menunjuk Qatar dan Arab Saudi. Sekarang fokus kami sepenuhnya adalah menyiapkan tim dengan optimal. Jika sebelumnya kita bekerja keras, maka kali ini kita harus bekerja jauh lebih keras lagi,” ujar Erick di Jakarta, Jumat (13/6).
Putaran keempat ini akan mempertemukan enam negara yang berada di posisi ketiga dan keempat klasemen grup pada fase sebelumnya: Indonesia, Irak, Oman, Uni Emirat Arab, serta tuan rumah Qatar dan Arab Saudi. Mereka akan dipertemukan dalam dua grup dengan sistem pertandingan terpusat (centralized format) di dua negara Teluk tersebut.
Pertaruhan di babak ini tak main-main. Hanya dua tim teratas dari masing-masing grup yang berhak melaju langsung ke Piala Dunia 2026. Sementara tim peringkat kedua dari tiap grup harus kembali berjuang melalui playoff dua leg pada 13 dan 18 November 2025, untuk memperebutkan satu slot ke babak playoff antarkonfederasi jalan terakhir menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Penunjukan Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah bukan tanpa pertimbangan. Selain infrastruktur kelas dunia dan rekam jejak kuat sebagai penyelenggara turnamen besar, kedua negara dinilai mampu menjamin aspek logistik dan keamanan dalam sistem kompetisi terpusat. Bagi tim-tim peserta, ini berarti adaptasi bukan hanya pada aspek teknis pertandingan, tetapi juga pada cuaca, atmosfer stadion, hingga tekanan publik.
“Yang terpenting adalah memastikan semua pertandingan berjalan adil dan menjunjung tinggi sportivitas,” ujar Erick, menekankan pentingnya integritas dalam kompetisi yang menentukan nasib terakhir Asia menuju Piala Dunia.
Bagi Indonesia sendiri, peluang untuk mencetak sejarah lolos pertama kalinya ke Piala Dunia tetap terbuka, meski jalannya terjal. Anak-anak asuh Patrick Kluivert harus menunjukkan konsistensi serta kapasitas mental dan taktik yang mumpuni dalam menghadapi lawan-lawan dengan pengalaman dan kedalaman skuad yang lebih matang.
PSSI menekankan bahwa persiapan tim nasional akan dimulai jauh-jauh hari. Bukan hanya dari sisi fisik dan strategi, tetapi juga melalui pematangan sistem seleksi pemain, agenda uji coba internasional yang kompetitif, serta dukungan logistik menyeluruh.
Selain itu, isu kebugaran dan rotasi pemain akan menjadi faktor kunci dalam menghadapi jadwal padat di sistem pertandingan terpusat.
Baca juga: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala Dunia 2026 Usai Takluk dari Irak
Piala Dunia 2026 memang masih satu setengah tahun lagi, tetapi setiap langkah menuju ke sana kini makin berarti. Dalam lanskap sepak bola Asia yang kian kompetitif, keberhasilan tak lagi ditentukan hanya oleh nama besar atau sejarah masa lalu, tetapi oleh konsistensi, strategi jangka panjang, dan kesiapan bertanding dalam tekanan.
Indonesia berada di antara enam negara yang masih harus melalui satu babak penuh tantangan. Namun, dengan dukungan penuh federasi, kesiapan teknis yang matang, dan mental juang pemain, peluang untuk menjadi bagian dari 48 kontestan Piala Dunia tetap menjadi impian yang layak diperjuangkan.
Sejarah menunggu. Dan di jalan menuju Qatar dan Arab Saudi, Timnas Indonesia kembali diuji: bukan sekadar untuk menang, tetapi untuk menjadi lebih dari sebelumnya. (RED)
Editor : Redaksi