Nelayan Curhat ke Khofifah di Muncar: Dari Sampah Laut hingga Harapan Ibu-Ibu Pengolah Ikan

harianmerahputih.id
Gubernur Jawa Timur Khofifah melakukan dialog dan menyerap aspirasi para kelompok perikanan dan nelayan di Dermaga Muncar Banyuwangi, Sabtu (12/7).

MERAHPUTIH I BANYUWANGI— Sabtu pagi, (12/7) di Dermaga Muncar, semilir angin laut membawa cerita-cerita nelayan yang selama ini mungkin tak sampai ke telinga pemimpin daerah. Namun hari itu berbeda. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir, tak hanya sebagai pejabat, tapi sebagai pendengar yang siap membantu.

Didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim Isa Anshori serta Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Gubernur Khofifah membuka ruang dialog dengan para nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah hasil laut. Bukan sekadar formalitas, dialog ini menjadi wadah bagi para pelaku perikanan menyampaikan langsung unek-unek dan harapan mereka.

Baca juga: Pasar Murah di Pantai Cengkrong, Strategi Khofifah Redam Gejolak Harga Menjelang Nataru

"Bu, tolong laut kami dibersihkan dari sampah dan bangkai kapal," kata salah satu nelayan. Keluhan yang langsung direspons cepat oleh Gubernur Khofifah. Ia bahkan berjanji akan kembali minggu depan membawa ekskavator untuk mengeruk sampah yang menumpuk dan menghambat aktivitas kapal.

"Insya Allah, kita sisir dan bersihkan. Tapi kita pastikan dulu kapal-kapal itu memang tidak bertuan dan tidak digunakan," tegas Khofifah.

Tak hanya janji, kehadiran Khofifah juga membawa bantuan nyata. Sebanyak Rp 276 juta bantuan diserahkan kepada kelompok nelayan, pembudidaya, dan pengolah hasil perikanan. Di antaranya 100 alat tangkap senilai Rp 60 juta untuk 25 nelayan, dua paket budidaya ikan lele senilai Rp 166 juta, dan bantuan kemasan olahan ikan untuk dua kelompok Poklahsar sebesar Rp 50 juta.

Namun, yang paling menyentuh adalah percakapan Khofifah dengan seorang perempuan bernama Rabiatullah. Ia memimpin kelompok ibu-ibu nelayan di Muncar yang aktif mengolah produk perikanan agar tak sekadar menggantungkan hidup pada pendapatan suami.

Baca juga: Khofifah Gandeng Pramuka Jatim Hijaukan Cengkrong

"Produk kami sudah sampai luar Banyuwangi, Bu. Tapi kami kesulitan mengurus izin BPOM dan HAKI. Takutnya nanti produk kami dijiplak," kata Rabiatullah lirih, namun penuh semangat.

Gubernur Khofifah tak tinggal diam. Ia memastikan, Pemprov Jatim siap mendampingi mereka hingga proses legalitas produk rampung. "Untuk HAKI bisa cepat. BPOM butuh waktu, bahkan bisa dua tahun. Tapi saya tugaskan tim untuk mendampingi. Jangan patah semangat," ucap Khofifah menenangkan.

Masalah keselamatan nelayan di laut juga menjadi sorotan. Dalam dialog, para nelayan mengeluhkan lemahnya sinyal saat berada di tengah laut. Akibatnya, kecelakaan laut sulit tertangani dengan cepat. Menanggapi itu, Khofifah berencana menggandeng Kementerian Kominfo untuk solusi jaringan. Sementara itu, untuk jaminan sosial, nelayan yang belum memiliki BPJS Ketenagakerjaan akan segera didaftarkan.

Baca juga: Khofifah Dorong Camat dan Perangkat Desa Jemput Bola Sukseskan Program Nasional

Dialog di Muncar ini bukan hanya rutinitas kunjungan kerja. Ia adalah pertemuan harapan dan kepedulian. Gubernur Khofifah datang, mendengar, dan membawa solusi, setidaknya membuka secercah harapan bagi 13.000 nelayan dan ratusan kelompok perikanan yang menggantungkan hidup di balik ombak Selat Bali.

Sebagai catatan, Pelabuhan Perikanan Muncar bukan pelabuhan sembarangan. Tahun 2024 lalu, pelabuhan ini menyabet gelar Pelabuhan Perikanan Teladan peringkat tiga nasional dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sebuah prestasi yang dibangun dari kerja keras komunitas yang hari itu, untuk pertama kalinya, merasa benar-benar didengar. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru