MERAHPUTIH I SURABAYA — Harapan untuk memperluas konektivitas udara di Jawa Timur, khususnya dalam mendekatkan layanan ibadah keagamaan bagi masyarakat, kembali menemukan momentumnya. Kali ini, Bandara Dhoho Kediri menjadi sorotan utama, menyusul sinyal positif dari Kementerian Perhubungan terkait pemanfaatan bandara baru itu sebagai titik keberangkatan jemaah umrah.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengungkapkan bahwa dirinya telah dihubungi langsung oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Komunikasi tersebut membuka jalan bagi rencana strategis untuk menjadikan Bandara Dhoho sebagai alternatif keberangkatan umrah bagi warga Jawa Timur dan sekitarnya.
Baca juga: Wagub Emil Tegaskan Peran Strategis PMI dalam Fondasi Kesehatan Jatim
“Pak Dirjen Perhubungan Udara sudah menghubungi kami. Kami juga sudah melaporkan hal ini kepada Ibu Gubernur. Ini peluang besar yang harus disambut,” ujar Emil kepada wartawan, Sabtu (19/7/2025).
Menurut Emil, kebutuhan akan aksesibilitas udara yang lebih dekat dan efisien ke tanah suci menjadi tuntutan yang semakin mendesak. Terlebih, selama ini sebagian besar penerbangan umrah masih terpusat di Bandara Juanda, Surabaya. Dengan kehadiran Bandara Dhoho yang terletak di wilayah selatan-tengah Jatim, beban itu bisa terdistribusi lebih merata.
Namun, di balik peluang tersebut, Emil tak menampik adanya tantangan besar di sektor penerbangan, terutama terkait ketersediaan armada pesawat pasca-pandemi. Banyak maskapai penerbangan, katanya, masih menghadapi kendala dalam pengadaan pesawat, mengingat sebagian besar armada telah dikembalikan kepada lessor atau pemilik.
“Ini adalah salah satu tantangan utama yang sedang dihadapi dunia penerbangan global, termasuk Indonesia. Kementerian Perhubungan tengah berupaya mencari solusi agar layanan penerbangan, khususnya untuk rute-rute ke Timur Tengah, bisa segera pulih,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sambung Emil, memberikan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah pusat dalam memaksimalkan peran Bandara Dhoho. Selain untuk menggerakkan roda ekonomi kawasan selatan Jatim, optimalisasi bandara juga diyakini mampu menghadirkan kenyamanan bagi warga yang hendak menunaikan ibadah umrah tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke Surabaya atau Jakarta.
Baca juga: Wagub Emil Ingatkan Ancaman Longsor di Jatim: Pegunungan hingga Pesisir Selatan Harus Siaga
Bandara Dhoho sendiri merupakan proyek bandara pertama di Indonesia yang dibangun sepenuhnya oleh pihak swasta, yakni PT Gudang Garam Tbk melalui anak perusahaannya, PT Surya Dhoho Investama. Beroperasi sejak awal 2024, bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 3.300 meter yang mampu melayani pesawat berbadan lebar, termasuk Boeing 777, pesawat yang lazim digunakan untuk penerbangan ke Arab Saudi.
Dengan kesiapan infrastruktur yang dimiliki, ditambah potensi pasar dari kawasan Mataraman dan Tapal Kuda, Bandara Dhoho dipandang sebagai simpul transportasi udara yang strategis untuk layanan umrah. Sejumlah maskapai pun disebut telah menyatakan ketertarikannya, tinggal menunggu kepastian izin dan kesiapan teknis lainnya.
“Kalau ini bisa direalisasikan, warga Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, hingga Nganjuk tidak perlu jauh-jauh lagi ke Surabaya atau Jakarta untuk berangkat umrah. Ini akan sangat mempermudah,” kata Emil.
Baca juga: Pemprov Jatim Dorong Bandara Doho Jadi Pintu Baru Jamaah Haji, Menunggu Lampu Hijau dari Pusat
Langkah awal telah dimulai. Namun, keberhasilan jangka panjang dari inisiatif ini akan sangat bergantung pada kolaborasi antara regulator, operator bandara, maskapai penerbangan, serta pemerintah daerah. Bagi Emil, ini bukan sekadar persoalan transportasi, melainkan bagian dari pelayanan publik yang bermartabat.
“Bandara Dhoho bukan hanya aset fisik, melainkan pintu gerbang baru yang membuka ruang harapan dan kemudahan bagi masyarakat Jawa Timur. Dan kami siap menyambut peluang ini,” pungkasnya. (red)
Editor : Redaksi