Mendorong Ekosistem Halal dari Hulu: Ikhtiar Jawa Tengah Menatap 2029

harianmerahputih.id
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat menerima audiensi pimpinan Bank Indonesia Jawa Tengah di Kantor Wakil Gubernur, Selasa (22/7/2025).

MERAHPUTIH I SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memacu penguatan ekosistem halal sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi daerah. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menilai, komitmen terhadap ekonomi halal harus dimulai dari aspek paling dasar, termasuk proses penyembelihan hewan yang sesuai syariat.

“Saya pernah menerima laporan dari pelaku usaha yang terkendala memperoleh sertifikasi halal karena lokasi usahanya berdampingan dengan usaha nonhalal. Ini tentu mempersulit proses,” ujar Taj Yasin saat menerima audiensi pimpinan Bank Indonesia Jawa Tengah di Kantor Wakil Gubernur, Selasa (22/7/2025).

Baca juga: DPN Soroti Kerentanan Jateng, Pertahanan Nonmiliter Jadi Fokus Utama

Menurutnya, pemisahan yang jelas antara produk halal dan nonhalal bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan kebutuhan agar proses sertifikasi berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, dia mendukung inisiatif “sudut halal dan nonhalal” dalam pusat-pusat niaga.

Wakil Gubernur yang juga akrab disapa Gus Yasin ini menegaskan pentingnya memperkuat peran Juru Sembelih Halal (Juleha). Pendampingan bagi Rumah Potong Hewan (RPH) dalam mendapatkan sertifikasi halal disebutnya sebagai langkah strategis.

Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan ekonomi syariah di tingkat nasional. Indonesia sendiri menargetkan menjadi pusat industri halal dunia pada 2029, sebagaimana tercantum dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI).

Salah satu upaya konkret untuk memperkuat ekosistem halal di Jawa Tengah akan terlihat dalam gelaran Festival Jateng Syariah (Fajar) 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada 14–17 Agustus 2025 di Queen City Mall, Kota Semarang.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, menjelaskan bahwa festival ini menjadi wahana strategis untuk mengakselerasi tumbuhnya ekonomi syariah.

Baca juga: Peresmian Lima Infrastruktur Baru: Prabowo Tegaskan Konektivitas Jadi Tulang Punggung Pemerataan

“Rangkaian Fajar 2025 mencakup edukasi ekonomi syariah, pelatihan pelaku industri kreatif, fasilitasi sertifikasi halal produk olahan, hingga pendampingan untuk RPH dan juru sembelih halal,” ujar Rahmat.

Ia menambahkan, salah satu kisah keberhasilan yang lahir dari inisiatif ini adalah pendampingan terhadap RPH Sulaimaniyah, yang kini dalam tahap akhir memperoleh sertifikasi halal.

Lebih dari sekadar festival, Fajar 2025 juga akan menghadirkan business matching pembiayaan syariah, bootcamp modest fashion, seminar nasional, serta pameran UMKM dan produk unggulan pesantren bertajuk “Fajar Halal Experience”.

Baca juga: Posyandu Enam SPM Dikebut, Jateng Siapkan Lompatan Layanan Publik

“Tahun ini kami juga akan menyelenggarakan olimpiade antar-santri dan menampilkan produk-produk terbaik dari pondok pesantren,” kata Rahmat.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, BI, dan komunitas pelaku usaha halal, Jawa Tengah menata fondasi ekonomi yang bukan hanya kompetitif secara global, tapi juga selaras dengan nilai-nilai yang diyakini sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sebagaimana dituturkan Taj Yasin, penguatan ekosistem halal bukan hanya strategi ekonomi, melainkan bagian dari amanah moral dan sosial yang tak boleh diabaikan. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru