Pesona Sejuk dan Hangat Cangar: Ketika Alam dan Inovasi Bertemu di Lereng Arjuno

harianmerahputih.id
Di tengah hamparan hutan lebat yang menjadi bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, berdiri salah satu destinasi wisata alam unggulan Jawa Timur: Pemandian Air Panas Alam Cangar.

MERAHPUTIH I KOTA BATU — Di lereng Gunung Arjuno, pada ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut, berdiri sebuah tempat yang menghadirkan sensasi sejuk dan hangat sekaligus. Di sanalah Pemandian Air Panas Alam Cangar memancarkan pesonanya, memadukan nuansa hutan yang permai dengan kehangatan alami dari perut bumi. Di balik kerimbunan pepohonan dan suara burung yang bersahutan, kawasan ini tengah bertransformasi menjadi destinasi ekowisata unggulan dengan sentuhan eksklusif.

Pemandian Cangar bukanlah nama baru bagi para pencinta wisata alam. Namun kini, tempat ini mengukir babak baru dalam wajah pariwisata pegunungan. Tak hanya menyuguhkan kolam-kolam terbuka, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur melalui UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo menghadirkan fasilitas pemandian VIP. Dengan tarif Rp100.000 per jam dan kapasitas maksimal delapan orang, wisatawan dapat menikmati pengalaman berendam privat di tengah atmosfer hutan yang menyelimuti.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

“Konsep ini kami hadirkan untuk menjawab kebutuhan wisatawan akan ruang yang lebih personal dan tenang, tanpa mengganggu aspek konservasi,” tutur Sadrah Devi, Kepala Seksi Perencanaan, Pengembangan, dan Pemanfaatan UPT Tahura Raden Soerjo, saat ditemui, Rabu (30/7/2025).

Menurut Sadrah, Tahura Raden Soerjo yang membentang seluas 27.800 hektare merupakan kawasan konservasi yang telah ditetapkan sejak 2002. Kawasan ini tak hanya berfungsi sebagai pelindung keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi ruang interaksi ekosistem dan manusia secara harmonis. Pemandian Cangar sendiri tercatat sebagai magnet utama, menarik lebih dari 200.000 pengunjung setiap tahunnya.

Namun lebih dari sekadar angka, Cangar adalah ruang di mana alam, sejarah, dan inovasi saling mengisi. Di tengah rimbunnya pepohonan, hidup berbagai spesies fauna, termasuk Lutung Jawa yang sesekali terlihat melompat di antara dahan, menjadi daya tarik tambahan. Burung-burung berkicau tanpa henti, mengiringi para pengunjung yang berendam atau sekadar mencelupkan kaki di air hangat.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Kawasan ini juga menyimpan jejak masa lalu. Tak jauh dari kolam pemandian, sekitar 30 menit berjalan kaki menanjak, terdapat sejumlah gua peninggalan masa pendudukan Jepang. Gua-gua yang dikenal sebagai “Goa Jepang” itu, menurut penuturan warga setempat, diperkirakan dibangun pada masa Perang Dunia II, antara tahun 1942 hingga 1945. Kedalamannya tak seberapa, sekitar 10 meter saja, namun cukup untuk menyimpan kisah-kisah sejarah yang masih belum terkuak sepenuhnya.

“Tempat ini alami sekali. Kadang kita bertemu monyet liar atau mendengar suara-suara burung hutan yang belum tentu kita temui di kota,” kata Rahmad Ilyasan, seorang wisatawan asal Surabaya yang datang bersama keluarganya. Baginya, pengalaman berendam di kolam VIP memberikan rasa tenang yang sulit dijumpai di tengah rutinitas kota. “Rasanya seperti menemukan kembali ruang untuk diri sendiri.”

Pengelola menyadari bahwa potensi Cangar lebih dari sekadar sumber air panas. Karena itu, inovasi terus digulirkan. Selain menghadirkan kolam khusus wanita dan kolam tertutup ala sauna Jepang, Tahura juga mulai merancang paket wisata edukatif yang mengintegrasikan pelestarian alam dan konservasi satwa.

“Ke depan, kami ingin agar setiap wisatawan pulang bukan hanya membawa tubuh yang rileks, tetapi juga pemahaman baru tentang pentingnya menjaga hutan dan biodiversitasnya,” ujar Sadrah.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Dari sisi ekonomi, keberadaan Pemandian Air Panas Cangar memberi kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sadrah mengungkapkan, pemasukan dari lokasi ini mencapai Rp4 hingga Rp5 miliar per tahun, menjadikannya salah satu penyumbang PAD terbesar dari sektor kehutanan di Jawa Timur.

Meski demikian, pengelola tak ingin semata-mata mengejar angka. Prinsip keseimbangan antara manfaat ekonomi dan konservasi tetap menjadi pijakan utama. “Kami tidak ingin wisata berkembang dengan mengorbankan fungsi ekologis kawasan. Justru sebaliknya, dengan bertambahnya kunjungan, kami ingin menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap alam,” tegas Sadrah.

Pada akhirnya, Cangar adalah potret dari bagaimana sebuah tempat wisata bisa tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari ekosistem. Di tengah kecenderungan masyarakat mencari tempat berlibur yang lebih tenang, alami, dan sarat makna, Pemandian Air Panas Alam Cangar hadir sebagai jawaban. Tempat di mana embun pagi, suara burung, dan air hangat bersatu dalam harmoni yang menyentuh tubuh sekaligus jiwa. (dpr)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru