MERAHPUTIH I JAKARTA - Di Ruang Sidang Kabinet, Istana Kepresidenan Jakarta, suasana terasa lebih dari sekadar formalitas pemerintahan. Rabu siang (6/8/2025), Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna ke-8. Namun bukan hanya angka atau agenda yang jadi sorotan hari itu melainkan semangat yang menyelimuti jalannya pemerintahan selama 10 bulan terakhir.
Dengan wajah serius namun sesekali menyiratkan kehangatan, Presiden Prabowo menyampaikan pidato pengantar. Ia menyebut periode 10 bulan ini sebagai masa yang penuh kerja keras, dedikasi, dan hasil nyata. “Kita semua tahu, 10 bulan pertama ini bukan waktu yang panjang. Tapi apa yang telah kita lakukan, saudara-saudara, membuktikan bahwa kita mampu bekerja dalam satu irama,” ungkap Presiden.
Baca juga: Presiden Prabowo Tetapkan BPIH 2026, Pemerintah Tegaskan Komitmen Tingkatkan Layanan Haji
Dalam gaya khasnya yang penuh analogi, Prabowo menyamakan perannya dengan seorang kapten kesebelasan yang memimpin tim dengan semangat gotong-royong. “Saya sebagai Nahkoda, saya sebagai Presiden, katakanlah saya sebagai Kapten Kesebelasan. Saya ingin menyampaikan terima kasih dari hati saya paling dalam,” ucapnya sembari menatap para menteri satu per satu.
Sidang kabinet kali ini bukan hanya soal evaluasi teknokratis, melainkan juga refleksi politik tentang bagaimana negara ini sedang diarahkan. Koordinasi lintas kementerian, menurut Presiden, telah menunjukkan hasil dari kebijakan strategis hingga pencapaian diplomatik.
Baca juga: Pemerintah Percepat Pemulihan Bencana Sumatera, Instruksi Presiden: “Prioritas Nasional”
Yang menarik, Prabowo tidak hanya memuji tim ekonomi yang dinilainya bekerja solid, namun juga menekankan pendekatan negosiasi dan diplomasi yang “dingin kepala tapi teguh hati.” Menurutnya, Indonesia harus mampu memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika global, tanpa kehilangan kendali emosi dan marwah kebangsaan.
“Tugas pemerintah Indonesia adalah melindungi rakyat Indonesia. Melindungi pekerja-pekerja kita dan keluarga mereka. Itu tidak bisa dijalankan dengan ego atau kemarahan, tapi dengan kepala dingin dan strategi yang matang,” tegasnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Tanggap Darurat Total untuk Banjir Sumatera
Meski banyak yang telah dilakukan, Prabowo menutup sidang dengan sebuah pengingat penting: realisme adalah kunci. “Kita tidak bisa menghadapi tantangan dengan teori atau angan-angan. Idealisme itu penting, tapi yang menyelamatkan kita adalah realisme. Melihat situasi apa adanya, lalu bertindak,” tandasnya.(red)
Editor : Redaksi