MERAHPUTIH I SEMARANG - Upaya menjamin keamanan pangan terus digalakkan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang. Akhir pekan lalu, Minggu (24/8), puluhan UMKM bakso dan mi di Kota Atlas resmi mendapat label khusus berupa stiker bertuliskan bebas boraks dan formalin.
Langkah ini menjadi bagian dari gerakan “Gumregah” atau Gugah UMKM Resik Saking Bahan Berbahaya, yang digagas BBPOM untuk menumbuhkan kesadaran produsen sekaligus memberikan kepastian bagi konsumen. Hingga kini, di Jawa Tengah sudah ada lebih dari 400 UMKM aneka kuliner yang menyandang status pangan aman dari zat berbahaya.
Baca juga: DPN Soroti Kerentanan Jateng, Pertahanan Nonmiliter Jadi Fokus Utama
“Pangan yang dikonsumsi masyarakat harus benar-benar aman. Melalui stiker ini, UMKM menunjukkan komitmen bahwa produk mereka tidak memakai formalin, boraks, methanyl yellow, ataupun Rhodamin-B,” ujar Kepala BBPOM Semarang, Lintang Purba Jaya, saat ditemui di kantornya.
Gerakan stikerisasi tersebut bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia sekaligus Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah. BBPOM Semarang mencatat, sebanyak 80 kader keamanan pangan terbentuk di Kota Semarang. Mereka bertugas mendampingi 80 UMKM serta memantau 80 warung makan, mulai dari penjual mi kopyok, bakmi, mi ayam, hingga bakso.
Menurut Lintang, program serupa juga digelar di berbagai daerah lain. “Di Jateng sudah terbentuk 600 kader keamanan pangan. Dari Rembang, misalnya, terasi yang sebelumnya mengandung Rhodamin-B kini bebas bahan berbahaya. Begitu pula lanting dari Kebumen dan Purworejo. Semua itu hasil kerja bersama antara UMKM, kader pangan, dan BBPOM,” jelasnya.
Lintang menegaskan, pemberian stiker bukan sekadar formalitas. Prosesnya dimulai dari pemeriksaan laboratorium, lalu uji ulang, dan baru setelah hasilnya dinyatakan negatif terhadap zat berbahaya, stiker disematkan. “Kalau di kemudian hari ditemukan pelanggaran, stiker langsung kita cabut. Jadi, ini bukan sekadar hiasan, melainkan tanda kepercayaan,” tegasnya.
Selain mengawasi, BBPOM juga menggandeng akademisi untuk memberi solusi terkait bahan pengganti yang lebih aman. Edukasi terus diberikan, agar UMKM tidak lagi tergoda memakai zat kimia berbahaya demi memperpanjang daya simpan atau mempercantik warna makanan.
Baca juga: Sentuh Lapisan Masyarakat Lebih Luas, Pasar Murah Jatim Kian Masif
“Bahaya formalin dan boraks tidak bisa diremehkan. Efeknya bisa memicu kanker hingga penyakit degeneratif. Karena itu, edukasi kepada pedagang dan konsumen sama-sama penting,” tambahnya.
Kebijakan itu langsung disambut positif para pelaku UMKM. Dina, pemilik warung nasi goreng dan mi Pak Mien Sentot di Jalan Sukun Raya, mengaku bangga warungnya masuk daftar penerima stiker.
“Rasanya senang sekali. Pelanggan sekarang bisa langsung tahu kalau mi yang saya jual sudah diuji oleh Balai POM. Jadi lebih yakin dan mantap buat makan di sini,” tuturnya sambil tersenyum.
Baca juga: Peresmian Lima Infrastruktur Baru: Prabowo Tegaskan Konektivitas Jadi Tulang Punggung Pemerataan
Senada, Taqwin Sugi, pemilik Bakso Naruto di Jalan Karangrejo Raya, berharap stiker tersebut ikut mendongkrak penjualannya. “Kalau sudah ada jaminan bebas boraks dan formalin, orang-orang pasti lebih nyaman. Biar pelanggan makin percaya,” ucapnya.
BBPOM berharap data UMKM yang sudah lolos uji dan mendapat stiker bisa dikolaborasikan dengan Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Pariwisata. Dengan begitu, kuliner Semarang yang telah tersertifikasi aman bisa menjadi rujukan wisata kuliner khas daerah.
“Stiker ini bukan hanya memberi rasa aman bagi konsumen, tetapi juga meningkatkan daya saing UMKM lokal,” pungkas Lintang. (RED)
Editor : Redaksi