MERAHPUTIH I SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan proses renovasi Gedung Negara Grahadi, Surabaya, akan segera dimulai. Upaya ini dilakukan setelah bangunan bersejarah peninggalan era kolonial tersebut mengalami kerusakan parah akibat aksi perusakan beberapa waktu lalu.
Khofifah menegaskan, pemulihan Grahadi tidak bisa dilakukan sembarangan. Karena itu, ia melibatkan delapan pemangku kepentingan, mulai dari sejarawan hingga pakar cagar budaya.
Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan
“Siang ini jam 13.00 kami rapat dengan delapan stakeholder. Sejarawan dan pakar cagar budaya ikut dilibatkan agar proses renovasi berjalan tepat, dengan tetap menjaga keaslian Grahadi sebagai heritage,” kata Khofifah di Surabaya, Selasa (2/9).
Menurut Khofifah, rapat tersebut masih bersifat awal dan belum menyentuh detail teknis maupun besarannya anggaran. Namun, ia mengungkapkan ada peluang dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
“Ada informasi dari Kementerian PU, kemungkinan ada support budget. Tapi ini bukan soal dana semata, karena Grahadi adalah cagar budaya. Nilai sejarahnya jauh lebih besar dari angka rupiah,” ujarnya.
Khofifah mengaku hatinya perih menyaksikan kondisi Grahadi pasca-perusakan. Sejumlah kayu jati peninggalan Belanda yang menjadi penopang bangunan kini sebagian besar hangus terbakar.
“Kalau kita mencintai negeri ini, mestinya tidak akan merusak seperti itu. Kayu jati zaman Belanda itu usianya ratusan tahun, kualitasnya tidak mudah diganti. Sayangnya hampir semuanya hangus,” tuturnya dengan nada sedih.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
"Saya Tidak Percaya Itu Ulah Warga Jawa Timur"
Khofifah menolak percaya bahwa aksi brutal tersebut dilakukan oleh warga Jawa Timur.
“Saya tidak meyakini yang tega merusak itu orang Jawa Timur. Saya percaya masyarakat Jatim itu baik. Mereka bisa orasi, bisa mengkritik, tapi tidak akan tega merusak cagar budaya,” tegasnya.
Gubernur Jatim itu juga mengingatkan, Grahadi selama ini menjadi titik aspirasi masyarakat. Hampir setiap Kamis, gedung yang berdiri megah di tepi Sungai Kalimas itu kerap digunakan untuk orasi damai.
“Silakan menyampaikan pendapat, mengkritik, berorasi. Itu hak demokratis. Tapi jangan merusak. Mari kita jaga Grahadi bersama-sama sebagai simbol sejarah sekaligus ruang aspirasi,” katanya.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Terkait kerugian, Khofifah menegaskan tidak bisa menaksirnya dengan nominal. Menurutnya, yang rusak bukan sekadar bangunan, melainkan peninggalan bersejarah yang tak ternilai.
“Itu bukan sekadar ruangan, tapi heritage. Bagaimana cara menghitung nilai sejarah?” ucapnya.
Ia juga meluruskan kabar yang sempat beredar bahwa kantor Wakil Gubernur ikut terbakar. “Yang rusak itu ruang penerima tamu, bukan kantor Pak Wagub. Kantor beliau ada di Jalan Pahlawan,” pungkasnya. (red)
Editor : Redaksi