MERAHPUTIH I SIDOARJO — Di tengah kesibukan memimpin Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa meluangkan waktu khusus untuk hadir di sisi para santri yang menjadi korban selamat dalam musibah ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Kamis (2/10), dengan langkah tenang namun penuh empati, ia menjenguk para santri di RSUD R.T. Notopuro dan RS Islam Siti Hajar bukan sekadar membawa bingkisan, tapi juga menghadirkan ketenangan dan doa.
Bersama Menko PMK RI Pratikno, Gubernur Khofifah menyapa satu per satu santri yang masih menjalani perawatan. Di ruang perawatan RSUD R.T. Notopuro, empat nama santri menyambutnya dengan senyum lemah: Haikal, Wahyu, Rosi, dan Al Fatih. Namun di balik senyum itu, tersimpan kisah luar biasa tentang daya juang dan keajaiban hidup.
Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan
Salah satunya, Al Fatih, santri muda yang menceritakan pengalamannya seperti terlelap panjang selama tiga hari di bawah reruntuhan.
“Dia bercerita, merasa tidur selama tiga hari, dan saat terbangun mendengar ada yang mengetuk-ngetuk. Saat diselamatkan, hal pertama yang diminta justru minum es,” kisah Khofifah dengan mata berkaca-kaca.
Kisah lain datang dari Haikal. Di tengah situasi genting dan nyawa di ujung tanduk, ia masih mendengar adzan lima waktu, lalu menunaikan salat dalam kondisi serba terbatas.
“Suasana batin mereka luar biasa kuat. Iman yang menuntun ketenangan di tengah bencana. Semoga semuanya segera pulih, baik fisik maupun jiwanya,” ujar Khofifah lirih.
Sejak hari pertama musibah, Pemprov Jatim bergerak cepat. Bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak dan Sekdaprov Adhy Karyono, Khofifah memastikan proses evakuasi hingga perawatan korban berjalan 24 jam penuh. Tiga rumah sakit utama ditunjuk sebagai rujukan: RSUD R.T. Notopuro, RS Islam Siti Hajar, dan RS Delta Surya.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Usai dari RSUD Notopuro, rombongan Gubernur bergeser ke RS Islam Siti Hajar Sidoarjo. Di sana, Khofifah meninjau langsung posko Post Mortem, posko khusus yang menangani identifikasi korban meninggal dunia.
“Kemarin kita punya Posko Ante Mortem di pondok. Hari ini kita pastikan kesiapan posko Post Mortem di RS Siti Hajar. Semua layanan kemanusiaan harus siaga,” tegasnya.
Di posko itu, seluruh unsur layanan terpadu telah disiagakan: mulai dari Tim DVI, Inafis, hingga Dokter Forensik. Namun masih ada satu kebutuhan penting mobil cold storage tambahan. Khofifah pun segera menginstruksikan Dinas Kesehatan Jatim untuk mengerahkan dua unit.
“Kita ingin memastikan semua berjalan terintegrasi. Jika nanti terjadi overload, kita sudah siapkan dukungan dari RS Bhayangkara Surabaya,” tambahnya.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Dalam kunjungannya ke RS Siti Hajar, kabar baik pun mengiringi. Tiga santri dinyatakan selamat, dua di antaranya, M. Roihan Shaka Nabil dan M. Alvin sudah boleh pulang. Sementara satu santri lain masih dalam perawatan intensif pascaoperasi.
“Alhamdulillah, dua anak kita bisa pulang hari ini. Semoga yang masih dirawat lekas pulih. Tetap semangat ya nak, semangat adalah bagian dari kesembuhan,” pesan Khofifah sembari menggenggam tangan santri.
Musibah yang melanda Pondok Pesantren Al Khoziny memang meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar pesantren. Namun dari reruntuhan itu, muncul kisah ketabahan, kesabaran, dan kekuatan iman.(red)
Editor : Redaksi