MERAHPUTIH I SEMARANG - Dua puluh tahun sudah dunia mengakui keagungan warisan budaya Indonesia lewat penetapan keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. Dua dekade setelah pengakuan itu, semangat menjaga warisan leluhur kembali menyala lewat Festival Keris Nusantara 2025 yang bakal digelar di Wisma Perdamaian, 10–12 Oktober mendatang.
Festival ini bukan sekadar pameran benda pusaka, tetapi juga ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara filosofi dan fungsi, antara nilai estetika dan spiritualitas. Ratusan keris dari berbagai penjuru tanah air siap dipamerkan dalam perhelatan yang digagas Masyarakat Pusaka Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Baca juga: “Lir-Ilir” hingga “Horok-Horok”, 57 Warisan Budaya Asal Jateng Ditetapkan Jadi WBTbI 2025
Ketua Panitia Festival, Daryono, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang visualisasi benda bersejarah, melainkan momentum pembelajaran bersama.
“Ajang ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan. Kami ingin masyarakat tidak sekadar melihat keindahan fisik keris, namun juga memahami nilai filosofinya sebagai pusaka penuh makna,” ujar Daryono, saat konferensi pers di ruang rapat Diskominfo Jateng, Senin (6/10).
Sebanyak 100 koleksi keris terpilih hasil kurasi para ahli akan menghiasi ruang pamer. Tak berhenti di situ, festival ini juga menghadirkan demonstrasi pembuatan keris, warangka, mranggi kemasan, hingga kendogo, serangkaian proses rumit yang menggambarkan betapa tingginya keahlian dan cita rasa seni para empu Nusantara.
Baca juga: Sumarno Dorong Integrasi Wisata Kota Lama Semarang dan Lawang Sewu, UMKM Bakal Kecipratan Berkah
Nilai budaya dan spiritual yang melekat pada keris juga akan diperkuat lewat pementasan wayang kulit serta bursa keris, menandai bahwa senjata tradisional ini tak hanya menyimpan filosofi luhur, tapi juga potensi ekonomi yang bernilai tinggi.
“Yang lebih penting dari kurasi nanti adalah bagaimana masyarakat memahami besarnya nilai filosofi dalam keris. Bagi masyarakat Jawa, keris bukan sekadar senjata, melainkan juga ageman dan bagian dari spiritualitas,” imbuh Daryono.
Dari sudut pandang pendidikan, festival ini menjadi jembatan emas untuk transfer pengetahuan lintas generasi. Budi Santosa, Subkoordinator Kesenian Bidang Kebudayaan Disdikbud Jateng, menilai kegiatan ini strategis untuk memperkenalkan warisan metalurgi kepada pelajar.
Baca juga: Semarak Pasar Raya di TBJT: Ratusan Seniman, Kuliner Jadul, dan Semangat Lestarikan Budaya
“Anak muda harus tahu bahwa di balik sebilah keris, ada pengetahuan teknologi logam yang tinggi, ada falsafah hidup, dan ada semangat kebangsaan yang patut diteruskan,” tuturnya.
Dengan semangat peringatan dua dekade pengakuan UNESCO, Festival Keris Nusantara 2025 bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah panggilan untuk kembali mengenali akar, menyelami makna, dan merawat jati diri budaya bangsa di tengah arus modernitas.(sem)
Editor : Redaksi