MERAHPUTIH I JAKARTA - Langit Jeddah mungkin telah meredup bagi Timnas Indonesia. Di stadion megah King Abdullah Sport City, harapan untuk menembus panggung Piala Dunia 2026 akhirnya pupus, meninggalkan duka yang pelan-pelan mengendap di dada jutaan pendukung Merah Putih. Namun, di balik kesedihan itu, ada kisah lain yang diam-diam tumbuh kisah tentang keteguhan, pembelajaran, dan perjalanan pulang dengan kepala tetap tegak.
Dari Jakarta, pelatih Persija, Mauricio Souza, menyimak perjalanan itu dengan mata seorang pelatih dan hati seorang ayah. Ia tahu benar apa artinya bertarung sampai batas terakhir, lalu harus menerima kenyataan pahit. Terlebih lagi, di skuad Garuda yang berjuang hingga putaran keempat itu, ada dua anak asuhnya sendiri, Rizky Ridho dan Jordi Amat yang menjadi bagian dari kisah heroik tersebut.
Baca juga: Persebaya Gagal Amankan Kemenangan, Kebobolan di Ujung Laga: Duel Sengit di Lampung Berakhir 1-1
“Kami menyayangkan Timnas Indonesia belum berhasil lolos ke Piala Dunia 2026. Padahal, jaraknya sudah begitu dekat,” ujar Mauricio dengan nada pelan namun tegas. “Sekarang saatnya membuka lembaran baru bagi mereka. Saya percaya keduanya sudah dalam kondisi mental yang lebih baik saat ini.”
Mauricio tidak hanya bicara soal permainan. Ia bicara tentang jiwa, tentang bagaimana dua bek tangguh itu berdiri tegak di tengah tekanan dan ekspektasi publik yang begitu besar. Ia tahu betapa berat beban yang mereka pikul, bukan hanya untuk tim, tetapi untuk sebuah bangsa yang menaruh harapan tinggi.
“Ridho dan Jordi memikul tanggung jawab besar saat tampil di dua laga penting bersama Timnas. Kini saatnya mereka kembali fokus dan memberikan yang terbaik untuk Persija,” katanya lagi.
Baca juga: PERSIB Fokus Menatap Kebangkitan, Klok: “Dua Pekan ke Depan Penentu!”
Bagi Mauricio, perjalanan ke Piala Dunia mungkin telah berakhir, tetapi pelajaran dari sana tidak pernah hilang. Ia meyakini, para pemain yang kembali ke klub membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar hasil pertandingan, yakni pengalaman bertarung di level tertinggi dan keteguhan hati untuk terus maju.
Rizky Ridho, kapten muda dengan semangat tanpa kompromi, telah memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin lahir dari tempaan kegagalan. Sementara Jordi Amat, sosok senior yang matang, menunjukkan bahwa loyalitas pada bendera Merah Putih tak pernah pudar meski badai kritik datang silih berganti.
Bagi Mauricio, dua nama itu kini bukan hanya pilar pertahanan Persija, tetapi juga simbol dari perjalanan panjang sepak bola Indonesia, perjalanan yang diisi dengan luka, tapi juga harapan.
Baca juga: PERSIB Langsung Gaspol di Surabaya, Tanpa Pulang ke Bandung demi Persiapan Hadapi Madura United
“Setiap kegagalan menyimpan bibit kemenangan berikutnya,” kata Mauricio menutup perbincangan singkatnya di Lapangan Nirwana, tempat Persija berlatih sore itu.
Sore Jakarta menutup hari dengan langit jingga. Di antara deru bola dan seruan latihan, Ridho dan Jordi kembali menapaki tanah yang mereka bela dengan sepenuh hati. Tak ada lagi sorak ribuan penonton di Jeddah, hanya suara peluit dan debu lapangan latihan. Tapi justru di sinilah, di titik awal yang sederhana ini, babak baru perjuangan mereka dimulai, lebih tenang, lebih matang, dan lebih siap menghadapi hari esok.(red)
Editor : Redaksi