Tasyakuran Resmi Digelar, Padahal Jasa Syaikhona Kholil Telah Mengakar Seabad Lebih

harianmerahputih.id
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar tasyakuran di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (15/11/2025), untuk merayakan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Syaikhona Muhammad Kholil.

MERAHPUTIH I SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar tasyakuran di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (15/11/2025), untuk merayakan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Syaikhona Muhammad Kholil. Sebuah perayaan yang meriah, meskipun penghormatan sejati kepada sang ulama sesungguhnya sudah hidup jauh sebelum seremoni negara dilakukan.

Di hadapan keluarga besar Syaikhona Kholil, Khofifah memuji sang ulama sebagai “lentera yang menerangi kegelapan”. Ironisnya, cahaya itu sudah menerangi Indonesia lebih dari satu abad, sementara negara baru kini menegaskan pengakuannya. Ia menegaskan bahwa pesantren adalah “aset bangsa”, seolah baru sekarang pemerintah menyadari peran vital lembaga tersebut dalam sejarah kemerdekaan.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Khofifah menilai perjalanan hidup Syaikhona Kholil sebagai bukti keteguhan ilmu dan akhlak. Ia mengingatkan bahwa dari tangan ulama Madura inilah lahir tokoh besar seperti KH. Hasyim Asy'ari, yang menjadi pemantik Resolusi Jihad 1945. Sebuah rantai sejarah yang berperan besar bagi republik, meski baru belakangan dielu-elukan.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Pemerintah Kabupaten Bangkalan, yang telah mengusulkan gelar ini sejak 2021, turut bersyukur. Wakil Bupati Moh. Fauzan Ja'far menghaturkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto. Namun apresiasi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa proses panjang pengusulan gelar pahlawan sering kali menunggu lebih lama daripada jasa tokohnya.

Sementara itu, perwakilan keluarga, KH. Mohammad Makki Nasir, mengungkapkan bahwa warisan intelektual Syaikhona Kholil ditemukan dalam puluhan manuskrip, termasuk tulisan tentang kecintaan pada tanah air sejak 1891. Ia berharap negara benar-benar turun tangan menggali dan mengkaji peninggalan tersebut, sebuah harapan yang terdengar kontras di tengah seremoni penghargaan.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Acara tasyakuran itu menegaskan dua kenyataan: negara akhirnya memberi penghormatan formal, namun warisan Syaikhona Kholil telah lebih dulu menjadi tiang penyangga moral, ilmu, dan nasionalisme bangsa. Persembahan gelar baru menyusul; sementara pengaruh sang ulama tak pernah menunggu untuk bekerja. (red) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru