MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memilih langkah sederhana dan penuh empati dalam menyambut pergantian Tahun Baru 2026. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang kerap diwarnai dengan berbagai perayaan besar, Pemprov Jatim memastikan tidak menggelar agenda khusus pada malam pergantian tahun 2025–2026 di Gedung Negara Grahadi.
Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono. Menurutnya, suasana kebatinan bangsa yang tengah berduka akibat musibah di sejumlah wilayah, khususnya di Sumatera dan Aceh, menjadi pertimbangan utama pemerintah daerah untuk menahan diri dari euforia perayaan.
Baca juga: Dari Pesisir Pacitan, Kolaborasi Jatim Menjaga Mangrove Hadapi Perubahan Iklim
“Tidak ada agenda khusus untuk menyambut tahun baru di Grahadi,” ujar Adhy kepada wartawan, Senin (22/12)
Alih-alih menggelar pesta rakyat atau hiburan besar, Pemprov Jatim memilih kegiatan yang lebih bernuansa spiritual dan reflektif. Satu-satunya agenda yang dijadwalkan adalah kegiatan bersolawat yang akan dilaksanakan pada 30 Desember 2025 malam di Islamic Center Jawa Timur.
“Kalau kami hanya ada urusan kita bersolawat, ya. Tanggal 30 malam di Islamic Center,” tuturnya.
Adhy menegaskan, kegiatan tersebut bukan dimaksudkan sebagai perayaan, melainkan sebagai sarana doa bersama agar bangsa Indonesia diberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan dalam menghadapi berbagai cobaan yang terjadi akhir-akhir ini. Ia menilai, di tengah situasi duka, sikap menahan diri justru menjadi bentuk solidaritas yang nyata.
Baca juga: Jatim Matangkan Rumusan UMP–UMK, Sekdaprov Tekankan Keadilan dan Pengurangan Disparitas Upah
Lebih jauh, Sekdaprov Jatim juga mengimbau kepada seluruh kepala daerah di kabupaten dan kota se-Jawa Timur agar mengedepankan empati dalam menyambut Natal dan Tahun Baru. Ia meminta agar perayaan tidak dilakukan secara berlebihan, terutama yang menonjolkan pesta rakyat dan kemeriahan.
“Karena kita sedang musibah, tentu kami juga menghimbau kepada bupati, wali kota, di dalam perayaan hari Natal dan Tahun Baru ini tidak terlalu menunjukkan pesta rakyat, ya,” kata Adhy.
Menurutnya, kepekaan sosial pemerintah daerah menjadi penting agar masyarakat merasakan bahwa negara hadir tidak hanya dalam suasana suka, tetapi juga saat duka melanda sebagian saudara sebangsa. Ia berharap, momentum akhir tahun justru dijadikan waktu untuk memperkuat solidaritas, doa, dan kepedulian terhadap korban bencana.
Baca juga: Dana Desa 2026 Disiapkan Lebih Fleksibel, Yandri Susanto Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat KOPDES
“Mungkin untuk bisa berempati dengan musibah yang ada di Sumatera dan Aceh ini,” tambahnya.
Dengan kebijakan tersebut, Pemprov Jawa Timur ingin memberi pesan bahwa pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan gemerlap. Dalam kondisi tertentu, kesederhanaan dan doa bersama dinilai jauh lebih bermakna, sekaligus mencerminkan rasa kemanusiaan dan persatuan sebagai bangsa.
Kegiatan selawat yang digelar pada 30 Desember di Islamic Center pun diharapkan menjadi ruang refleksi bersama, sekaligus pengingat bahwa memasuki tahun baru seharusnya diawali dengan harapan, kepedulian, dan doa untuk keselamatan seluruh rakyat Indonesia.(dpr)
Editor : Redaksi