MERAHPUTIH I LAMONGAN - Banjir akibat luapan Bengawan Njero kembali menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Musibah yang rutin terjadi saat puncak musim penghujan ini kali ini merendam beberapa desa yang berada di sepanjang aliran sungai, termasuk Dusun Ladan, Desa Lalaban, Kecamatan Deket.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau kondisi warga terdampak banjir, Sabtu (10/1/2026). Didampingi Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Khofifah menyambangi Balai Desa Lalaban dan ke pemukiman warga untuk memastikan keselamatan sekaligus memantau upaya penanganan yang telah dilakukan pemerintah daerah.
Baca juga: PSI Pasang Target Ambisius di Jatim, Kaesang Bidik 100 Kursi DPRD Kabupaten/Kota pada Pemilu 2029
Di hadapan warga, Khofifah membuka dialog dengan suasana hangat. Ia menanyakan kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak banjir setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Lamongan selama dua hari terakhir.
“Inggih matur nuwun Bapak Bupati dan panjenengan semua. Kita ingin melakukan pemantauan dampak hujan dengan intensitas tinggi. Ibu-ibu semua sehat?” sapa Khofifah, yang langsung dijawab serempak oleh warga, “Alhamdulillah.”
“Mudah-mudahan sehat lahirnya, sehat batinnya, moga-moga sehat dompetnya,” lanjut Khofifah yang disambut senyum dan amin warga.
Banjir Bengawan Njero diketahui menjadi persoalan tahunan bagi warga yang bermukim di sekitaran sungai. Saat musim hujan datang, luapan air kerap tak terhindarkan akibat tingginya debit air yang masuk dari hulu.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menjelaskan berbagai langkah mitigasi yang telah dan tengah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, salah satunya melalui program modifikasi cuaca.
“Saya relatif sering mengunggah proses modifikasi cuaca di Instagram. Ini sejatinya sudah dimulai sejak 5 Desember,” ujar Khofifah.
Namun demikian, ia mengakui keterbatasan kemampuan daerah dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Saat ini, Pemprov Jatim hanya mampu melakukan modifikasi di dua titik, sementara dalam kondisi tertentu dibutuhkan intervensi di empat hingga lima titik sekaligus.
“Kalau yang dimodifikasi hanya dua titik, berarti ada wilayah yang tetap menerima curah hujan tinggi,” jelasnya.
Berdasarkan prediksi BMKG Juanda, Khofifah mengungkapkan bahwa puncak curah hujan terjadi pada Januari. Secara persentase, curah hujan Desember berada di angka 20 persen, Januari melonjak hingga 58 persen, dan Februari turun menjadi 22 persen.
“Artinya, curah hujan di Januari hampir tiga kali lipat dibanding Desember,” tegasnya.
Ia menambahkan, curah hujan ekstrem yang tercatat di Lamongan sejatinya sudah mengalami penurunan berkat modifikasi cuaca. Tanpa intervensi tersebut, potensi hujan diprediksi bisa mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari.
“Yang tercatat kemarin 104 milimeter itu sudah dengan modifikasi cuaca. Kalau tidak, kondisinya bisa jauh lebih parah,” ungkap Khofifah.
Meski demikian, Khofifah juga menyoroti keterbatasan teknologi dalam mitigasi bencana alam. Menurutnya, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu mengendalikan angin maupun gempa bumi.
“Kalau hujan bisa dimodifikasi, tapi angin itu belum ada teknologinya. Kita tidak bisa bilang, ‘angin ojo lewat Lamongan ya,’ itu belum bisa,” ujarnya disambut tawa warga.
Baca juga: Khofifah Dorong RS KORPRI Pura Raharja Jadi Pusat Layanan Medis Modern Berbasis Amanah
“Gempa dan angin, teknologinya memang belum ditemukan. Yang sudah baru modifikasi cuaca,” imbuhnya.
Ia pun menjelaskan mekanisme modifikasi cuaca yang dilakukan, yakni dengan menabur garam di wilayah laut dan kapur di daratan, menggunakan pesawat Cessna yang terhubung dengan sistem pemantauan satelit Puskodalops di Lanud Juanda.
Selain faktor cuaca, Khofifah juga menyinggung kerusakan lingkungan sebagai penyebab bencana lain seperti longsor dan banjir bandang.
“Vegetasi yang rusak, hutan yang tidak lagi berfungsi sesuai daya dukung lingkungan, itu memperparah bencana. Banyak kawasan yang gundul,” katanya.
Menutup sambutannya, Khofifah mengajak warga untuk memperkuat doa, terlebih saat ini masih berada di bulan Rajab.
“Mari kita nyuwun keselamatan dumateng Gusti Allah. Mudah-mudahan kita semua diselamatkan, dijaga keluarga kita,” ucapnya.
Ia juga berharap keberkahan berlanjut hingga bulan Sya’ban dan Ramadhan mendatang.
pada kesempatan yang sama, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menjelaskan bahwa genangan air di Desa Lalaban mencapai ketinggian sekitar 10 hingga 15 sentimeter. Kondisi ini dipicu curah hujan dua hari berturut-turut yang jauh di atas rata-rata.
Baca juga: Dindik Jatim Perketat Benteng Sekolah, Cegah Anak Terpapar Ideologi Kekerasan Digital
“Biasanya hujan lebat itu sekitar 50 milimeter per hari. Tapi kemarin dan semalam mencapai 100 milimeter lebih, baik di Babat maupun Lamongan,” jelas Yuhronur.
Ia memaparkan bahwa sejak 11 Desember 2025 Lamongan telah menetapkan status siaga hijau, kemudian meningkat menjadi siaga kuning pada 25 Desember, dan akhirnya pintu air Kuro ditutup pada Jumat sore setelah ketinggian air mencapai ambang batas.
“Ini baru terjadi lagi setelah tiga tahun, sejak pintu Kuro diresmikan oleh Ibu Gubernur dan sebelumnya tidak pernah banjir,” katanya.
Banjir kali ini berdampak pada lima kecamatan, yakni Deket, Kalitengah, Turi, Glagah, dan Karangbinangun. Meski demikian, Pemkab Lamongan terus berupaya menyelamatkan area persawahan dan tambak melalui normalisasi jalur pembuangan air ke laut.
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah secara simbolis menyerahkan bantuan kepada Bupati Lamongan untuk warga terdampak banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menyalurkan berbagai bantuan logistik, mulai dari 20 dus makanan siap saji, 20 dus lauk pauk, 20 dus tambahan gizi, hingga 200 paket sembako.
Selain itu, disalurkan pula 120 lembar selimut, 50 dus perlengkapan makan, bantuan sandang berupa pakaian pria, wanita, dan lansia, perlengkapan anak, paket kebersihan, serta 150 pasang sepatu boot untuk mendukung aktivitas di wilayah terdampak.
“Kami berharap kunjungan Ibu Gubernur hari ini membawa semangat bagi warga agar tetap kuat menghadapi kondisi ini,” pungkas Yuhronur.(dpr)
Editor : Redaksi