MERAHPUTIH I SURABAYA — Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (27/1), menjadi saksi pertemuan hangat persaudaraan serumpun antara Indonesia dan Malaysia. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan kehormatan Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, dalam rangka Program Outbound Malang Intellectual Journey yang diikuti 35 mahasiswa Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya.
Para peserta berasal dari Lajnah Akidah dan Pemikiran Islam serta Lajnah Sejarah dan Tamadun Islam. Kunjungan ini tidak sekadar agenda akademik, melainkan menjadi ruang dialog kebudayaan, keislaman, dan sejarah panjang peradaban Nusantara yang saling bertaut.
Baca juga: Pemprov Jatim Perketat Skema Hibah, Adhy Karyono Tegaskan Tak Ada Ampun bagi Penyimpangan
Dalam sambutannya, Khofifah menekankan bahwa silaturahmi Indonesia–Malaysia merupakan fondasi penting bagi penguatan energi positif kedua bangsa. Menurutnya, kedekatan sejarah, budaya, dan spiritualitas justru harus menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan zaman.
“Mudah-mudahan silaturahmi sore hari ini kita diizinkan Allah untuk bersilaturahmi. Silaturahmi yang sangat penting bagi negeri serumpun, Indonesia dan Malaysia. Karena kita membutuhkan persaudaraan yang harmonis,” ujar Khofifah.
Ia menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki kekuatan demografis sekaligus kultural yang besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta jiwa dan 38 kabupaten/kota, Jawa Timur juga dikenal sebagai provinsi dengan ekosistem pesantren terbesar di Indonesia.
“Di Jawa Timur ada lebih dari 12 ribu pesantren. Yang santrinya di atas 1.000 ada sekitar 4.600 pesantren. Bahkan ada pesantren dengan santri mencapai 53 ribu, yakni Pesantren Lirboyo yang usianya lebih dari 100 tahun,” ungkapnya.
Selain Lirboyo, Khofifah juga menyebut Pesantren Ploso di Kediri yang telah berusia lebih dari satu abad, serta Pesantren Mojosari di Kabupaten Nganjuk yang berumur lebih dari 300 tahun. Menurutnya, pesantren-pesantren tua ini merupakan jejak dakwah para Wali Songo yang menanamkan Islam moderat, toleran, dan membumi di Nusantara.
“Dari sembilan Wali Songo, lima berada di Jawa Timur. Inilah pondasi kehidupan keagamaan Indonesia—moderasi, toleransi, dan kedalaman spiritual—yang dibangun dari tanah Jawa, khususnya Jawa Timur,” jelasnya.
Baca juga: Jawa Timur Tegaskan Diri sebagai Episentrum Event Nasional di Karisma Event Nusantara 2026
Khofifah menyebut Jawa Timur sebagai daerah yang “penuh cahaya dan penuh berkah”. Ungkapan ini, kata dia, bukan sekadar simbolik, melainkan tercermin dari kehidupan religius masyarakatnya yang lekat dengan majelis ilmu dan majelis selawat.
“Hampir setiap saat, di mana-mana, ada majelis selawat yang dihadiri puluhan ribu orang. Banyak masyarakat yang hafal Barzanji, Syaraful Anam, Burdah, hingga Manaqib Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ini tradisi yang hidup di hampir setiap desa,” tuturnya.
Ia meyakini, tradisi spiritual yang kuat tersebut menghadirkan keberkahan bagi Jawa Timur. Bahkan, Khofifah mengutip pandangan Syekh Maulana yang merujuk pada ajaran Syekh Jalaluddin Rumi, bahwa Jawa Timur merupakan wilayah yang dianugerahi cahaya dan keberkahan.
“Insyaallah, ini yang menghadirkan cahaya dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di bumi Jawa Timur,” ucapnya.
Baca juga: Khofifah Resmikan Revitalisasi 26 Sekolah di Kediri, Tegaskan Pendidikan Berkeadilan untuk Semua
Lebih jauh, Khofifah berharap pertemuan ini menjadi pintu pembuka kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.
“Kalau ini menjadi bagian penguat persaudaraan kita, maka ini akan menumbuhkan persaudaraan yang lebih kokoh. Kita bisa melanjutkan silaturahmi ini dalam berbagai format, bidang dakwah, ekonomi, pendidikan, budaya, dan seterusnya,” pungkasnya.
Kunjungan Universiti Malaya ini menegaskan bahwa Jawa Timur bukan hanya ruang geografis, tetapi juga simpul peradaban Islam Nusantara. Dari pesantren, majelis selawat, hingga nilai persaudaraan serumpun, Jawa Timur terus memancarkan pesan Islam yang damai, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi. (dpr)
Editor : Redaksi