Harmoni Medis dan Kenyamanan Modern: Catatan Pelayanan Paripurna di RSUD Eka Candrarini Surabaya

harianmerahputih.id
RSUD Eka Candrarini Surabaya

MERAHPUTIH I SURABAYA - Bagi sebagian besar masyarakat, rumah sakit sering kali diasosiasikan dengan suasana yang mencekam, bau obat yang menyengat, dan birokrasi yang rumit. Namun, stigma tersebut runtuh seketika saat kita memasuki RSUD Eka Candrarini Surabaya. Khususnya dalam penanganan kasus akut seperti usus buntu (appendicitis) yang dialami oleh DP, salah satu warga Surabaya. Menurut DP, rumah sakit ini menunjukkan sebuah simfoni kerja sama yang luar biasa antara profesionalisme medis, teknologi, dan kemanusiaan.

1. Respons Cepat di Garis Depan: Gerbang IRD yang Sigap

Baca juga: Eri Cahyadi Tata Parkir Surabaya: Tekan Premanisme, Jaga Iklim Investasi

Perjalanan pasien usus buntu biasanya dimulai dengan rasa nyeri yang memuncak secara dramatis. Di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSUD Eka Candrarini, sistem triase berjalan dengan presisi tinggi. Begitu pasien masuk, Dokter IRD yang bertugas langsung melakukan pemeriksaan fisik secara cepat namun sangat mendalam. Tidak ada waktu yang terbuang untuk prosedur yang tidak perlu; mereka memahami bahwa dalam kasus usus buntu, setiap detik sangat berharga untuk mencegah risiko pecahnya (perforasi) usus. Kecepatan diagnosa di IRD ini menjadi fondasi awal yang menyelamatkan nyawa.

2. Sinergi Tim Dokter: Kolaborasi Ahli di Meja Operasi

Keunggulan RSUD Eka Candrarini terletak pada kolaborasi multidisiplin yang sangat ketat. Pasien tidak merasa hanya ditangani oleh satu individu, melainkan oleh sebuah tim elite:

dr. Reynard Budy Setiawan, M.Ked.Kim, Sp.B, FINACS: Sebagai Dokter Spesialis Bedah, adalah sosok yang sangat tenang dan kompeten. Penjelasannya mengenai anatomi usus buntu dan langkah-langkah pembedahan diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga kecemasan pasien dan keluarga mereda. Teknik bedah yang beliau terapkan menunjukkan keahlian tingkat tinggi (FINACS), menghasilkan sayatan yang rapi dan minimal nyeri.

dr. Rendy Revandana Bramantya, Sp.PD: Sebagai Dokter Spesialis Penyakit Dalam, perannya sangat krusial dalam memastikan kondisi sistemik pasien stabil. Beliau melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metabolisme dan fungsi organ dalam sebelum operasi, serta memastikan manajemen obat-obatan pasca-operasi aman bagi tubuh pasien secara keseluruhan.

Tim Dokter Jantung: Melengkapi protokol keamanan, Dokter Jantung melakukan skrining ketat untuk memastikan bahwa fungsi kardiovaskular pasien mampu menanggung proses anestesi dan trauma bedah. Koordinasi tiga pilar dokter spesialis ini menciptakan rasa aman yang luar biasa bagi pasien.

3. Fasilitas Rawat Inap: Standar "Mall" dalam Kamar BPJS

Salah satu aspek yang paling fenomenal dari RSUD Eka Candrarini adalah komitmennya terhadap kenyamanan pasien, tanpa memandang kelas sosial. Pasien BPJS Kelas 3 mendapatkan pengalaman yang setara dengan fasilitas privat:

Ruangan Nyi Ageng Serang yang Sangat Luas: Kamar rawat inap dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terasa sempit. Jarak antar bed yang lebar memberikan privasi yang maksimal.

Kualitas Udara dan AC: Sistem pendingin ruangan (AC) di rumah sakit ini sangat berkualitas. Suhu terjaga stabil, sangat sejuk, dan yang terpenting, sirkulasi udaranya terasa bersih, mencegah rasa sumpek yang biasanya menghambat pemulihan.

Kebersihan Paripurna: Kebersihan di sini bukan sekadar janji. Petugas Kebersihan bekerja dengan jadwal yang sangat ketat, memastikan setiap inci lantai. Kamar mandi yang harum dan higienis menjadi standar baku yang selalu terjaga.

Baca juga: Ratusan Jukir Surabaya Belum Perpanjang KTA, Dishub Tegaskan Validasi Wajib

4. Kehangatan Pelayanan dan Keamanan

Keunggulan rumah sakit ini juga terpancar dari staf non-medisnya:

Perawat yang Sigap: Kedisiplinan perawat di sini patut diacungi jempol. Bukan sekadar menjalankan tugas medis, para perawat di sini menunjukkan empati tinggi. Mereka responsif terhadap panggilan bel dan sangat telaten dalam perawatan luka pascaoperasi.

Pada setiap pergantian shift, mereka melakukan pengecekan mendetail terhadap kondisi pasien. Mereka bukan sekadar memberikan obat, tapi juga memberikan dorongan moral dan mendengarkan keluhan pasien dengan sabar.

Sekuriti yang Humanis: Sejak di area parkir hingga lobi utama, petugas keamanan menyambut dengan keramahan yang tulus. Mereka membantu mobilitas pasien dan memberikan informasi dengan jelas, menciptakan lingkungan yang aman dan tertib.

5. Kedisiplinan Pasca-Operasi dan Kontrol Lanjutan

Baca juga: Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem dan Ancaman Geologi

Pelayanan di RSUD Eka Candrarini adalah pelayanan yang tuntas. Kedisiplinan waktu adalah kunci utama:

Sistem Pendaftaran Pagi: Sejak pukul 07.00 pagi, petugas pendaftaran sudah siap di posisinya. Pasien langsung diarahkan ke poli yang dituju secara online. Efisiensi ini membuat pasien pasca-operasi tidak perlu mengantre lama untuk melakukan kontrol, yang mana sangat penting karena kondisi fisik pasien yang masih dalam tahap pemulihan.

Ketelitian dr. Reynard dalam Kontrol: Saat kunjungan kontrol, dr. Reynard kembali menunjukkan profesionalismenya. Secara personal membersihkan jahitan bekas operasi, memeriksa apakah ada tanda infeksi, dan melakukan evaluasi terhadap proses penyembuhan luka. Resep obat-obatan yang diberikan pun sangat efektif, memastikan pasien bisa segera kembali ke rutinitas normal dalam waktu singkat.

Kesimpulan: Oase Medis di Surabaya

RSUD Eka Candrarini bukan sekadar gedung tempat penyembuhan fisik, melainkan sebuah institusi yang sangat menghargai martabat manusia. Dengan suasana yang bersih, dingin, dan modern seperti berada di dalam sebuah mall, pasien tidak merasa sedang "sakit", melainkan sedang "dirawat". Ini adalah perpaduan sempurna antara kemajuan medis dari tangan dingin dr. Reynard dan dr. Rendy, serta sistem manajemen rumah sakit yang luar biasa.

Ada poin yang sangat krusial. Harapan agar RSUD Eka Candrarini Surabaya tidak menurunkan standar kualitasnya adalah bentuk apresiasi sekaligus pengingat bahwa mempertahankan pelayanan prima jauh lebih sulit daripada mencapainya.(dpr) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru