Pramuka Turun ke Sawah, Jatim Kunci Posisi Lumbung Jagung Nasional

harianmerahputih.id
Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil

MERAHPUTIH I BANYUWANGI – Hamparan lahan seluas 50 hektare itu tak lagi sekadar tanah terbuka. Di atasnya, barisan tanaman jagung tumbuh serempak, tertata rapi, menjadi simbol kolaborasi besar antara pemerintah, aparat, organisasi tani, dan generasi muda. Di provinsi yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang jagung terbesar nasional, gerakan produktif terus dikuatkan. Kali ini, motor penggeraknya adalah Pramuka.

Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil, menegaskan bahwa keterlibatan Pramuka bukan sekadar seremoni tanam-menanam. Ada misi jangka panjang yang disiapkan: membentuk generasi muda yang tangguh, paham pertanian modern, dan siap menjaga ketahanan pangan daerah.

Baca juga: Pramuka Produktif di Green Farm Banyuwangi, Khofifah: Jatim Menuju Kedaulatan Pangan Nasional

“Ini bagian dari Pramuka produktif. Bukan hanya menanam jagung, tetapi bagaimana adik-adik memahami tanah, irigasi, pupuk organik, hingga mekanisasi pertanian,” ujarnya, Sabtu (28/2).

Menurut Arum, pendidikan pertanian yang diberikan kepada anggota Pramuka dilakukan secara komprehensif. Mereka tidak hanya diajarkan teori, tetapi langsung praktik di lapangan. Dari mengenali karakter tanah hingga memahami perbedaan perlakuan antara lahan irigasi teknis dan lahan tadah hujan.

Lebih jauh, para anggota muda itu juga diperkenalkan pada teknologi modern. Sistem drip irrigation atau irigasi tetes, pemanfaatan tenaga surya untuk pengairan, hingga pengoperasian alat-alat mekanisasi pertanian menjadi bagian dari pembelajaran rutin.

“Adik-adik sudah bisa merancang instalasi irigasi tenaga surya. Mereka juga mulai menguasai pengolahan tanah dengan alat modern. Ini bekal penting agar produksi jagung optimal dan punya daya saing,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai krusial untuk mempertahankan posisi Jawa Timur sebagai salah satu sentra jagung nasional. Optimalisasi produksi tidak lagi bisa mengandalkan pola tradisional semata, melainkan harus berpadu dengan inovasi dan perencanaan berbasis data.

Program tanam jagung ini bukan berdiri sendiri. Ia lahir dari koordinasi intensif antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kepolisian, organisasi petani, dan Gerakan Pramuka. Semua pihak duduk bersama menentukan zona tanam, jenis komoditas, hingga perencanaan distribusi hasil panen.

“Tidak bisa asal menanam. Kita harus tahu nanti hasilnya akan ke mana, bagaimana rantai distribusinya, dan bagaimana menjaga stabilitas produksi,” kata Arum.

Dalam praktiknya, penentuan waktu tanam juga mempertimbangkan kondisi iklim dan karakter lahan. Tanah irigasi teknis tentu memiliki perlakuan berbeda dibanding lahan tadah hujan. Penyesuaian bulan tanam menjadi faktor kunci agar produksi tidak terganggu cuaca ekstrem.

Baca juga: Ning Lia Apresiasi Mudik Gratis 7.000 Kuota Pemprov Jatim

Langkah ini juga selaras dengan arah pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang mendorong mitigasi dan perencanaan berbasis zonasi pertanian.

Menariknya, lahan 50 hektare tersebut tidak akan selamanya ditanami jagung. Selama satu tahun ke depan, jagung masih menjadi komoditas utama. Namun setelah itu, akan dilakukan rotasi tanaman dengan kedelai atau kacang tanah.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Rotasi tanaman penting untuk memutus siklus hama dan penyakit yang bisa menurun dari satu musim ke musim berikutnya. Selain itu, tanaman seperti kedelai dan kacang tanah memiliki kemampuan memperbaiki kesuburan tanah melalui kandungan nitrogen pada akarnya.

“Kita putus siklus hama di situ. Sekaligus kita tanam komoditas yang bisa menyuburkan tanah kembali,” terang Arum.

Strategi ini mencerminkan pendekatan pertanian berkelanjutan, di mana produktivitas tidak hanya dikejar dalam jangka pendek, tetapi juga dijaga kesinambungannya.

Baca juga: Gubernur Khofifah Indar Parawansa Tinjau Pasar Murah di Kalibaru, Tekankan Stabilitas Harga dan Pemberdayaan UKM Lokal

Bagi Arum, seluruh gerakan ini bermuara pada satu visi besar: menyongsong Indonesia Emas 2045. Ketahanan pangan menjadi fondasi utama untuk mewujudkan generasi unggul di masa depan.

Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam menyebarkan semangat produktivitas di kalangan generasi muda. Menurutnya, pemberitaan yang konstruktif dapat menjadi penyemangat bagi anggota Pramuka dan masyarakat luas untuk terlibat aktif dalam sektor pertanian.

“Kalau kita ingin Indonesia Emas 2045, persiapannya harus hari ini. Kita cetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga terampil dan mandiri,” tegasnya.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi pangan global, langkah Jawa Timur menggandeng Pramuka menjadi contoh konkret bahwa pertanian bukan lagi urusan petani semata. Ia adalah gerakan kolektif, dari lahan desa hingga visi besar bangsa.(dpr) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru