MERAHPUTIH I SURABAYA — Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah tak hanya dimaknai sebagai ajang saling memaafkan, tetapi juga sebagai titik awal memperkuat ketahanan sosial di tengah dinamika perkotaan. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengingatkan pentingnya menjaga harmoni sekaligus meningkatkan kewaspadaan lingkungan, khususnya dalam menghadapi potensi lonjakan urbanisasi pasca mudik Lebaran.
Pesan tersebut disampaikan Eri saat menghadiri kegiatan halalbihalal di Balai Kota Surabaya, Rabu (25/3/2026). Di hadapan jajaran perangkat daerah dan masyarakat, ia menekankan bahwa tradisi silaturahmi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketertiban kota.
Baca juga: Khofifah Tutup Riyayan Lebaran dengan Silaturahmi 250 Ojol di Surabaya
“Pasca Lebaran, kuatkan tali silaturahmi, tingkatkan penjagaan wilayah. Kita harus menjaga Surabaya dari urbanisasi,” ujarnya.
Menurut Eri, arus balik Lebaran kerap diikuti dengan meningkatnya jumlah pendatang yang ingin mengadu nasib di Kota Pahlawan. Fenomena ini, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan persoalan sosial baru, mulai dari kepadatan penduduk hingga ketidaktertiban administrasi.
Karena itu, ia menegaskan peran strategis pengurus lingkungan, khususnya RT dan RW, dalam melakukan pendataan terhadap warga baru. Ia meminta agar setiap pendatang dipastikan memiliki identitas yang jelas serta tujuan yang pasti, termasuk kepastian pekerjaan.
“Saya mohon kepada RT/RW, kalau ada yang masuk ke Surabaya, dipastikan dia memiliki pekerjaan atau tidak, dan KTP-nya harus dilaporkan,” tegasnya.
Baca juga: BPKH Berangkatkan 675 Perantau dari Surabaya, Program Balik Kerja Jadi Energi Baru Usai Lebaran
Lebih lanjut, Eri juga menyoroti pentingnya pelaporan bagi penghuni rumah indekos. Menurutnya, meskipun tidak memiliki KTP Surabaya, setiap pendatang tetap wajib melapor sebagai bentuk tanggung jawab administratif sekaligus menjaga keamanan lingkungan.
“Kalau kos tidak memiliki KTP Surabaya, tetap harus melaporkan dirinya. Ini harus dikuatkan oleh RT/RW agar Surabaya tidak penuh dengan urbanisasi yang tidak terkontrol,” imbuhnya.
Di sisi lain, Eri mengajak masyarakat menjadikan bulan Syawal sebagai fase lanjutan dari pembelajaran selama Ramadan. Ia menilai, nilai-nilai seperti pengendalian diri, kepedulian sosial, dan menjaga lisan tidak boleh berhenti setelah bulan puasa berakhir.
Baca juga: Lia Istifhama Soroti Urbanisasi Pascalebaran, Ingatkan Ancaman Ketimpangan Daerah
“Di bulan Syawal ini, kita punya semangat untuk saling memaafkan. Tapi tidak hanya di lisan, melainkan juga dalam setiap tindakan,” pesannya.
Ia menambahkan, ibadah Ramadan sejatinya adalah latihan spiritual yang harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, semangat kebaikan yang telah dibangun selama sebulan penuh diharapkan terus berlanjut dan bahkan meningkat.
“Mari kita punya semangat berlipat untuk menjalankan apa yang sudah kita latih selama Ramadan, dan kita teruskan di bulan Syawal ini,” pungkasnya.(sub)
Editor : Redaksi