MERAHPUTIH I SURABAYA – Inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengembangkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) terus menuai respons positif dari berbagai pihak. Program yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dinilai sebagai langkah strategis dalam menjawab dua tantangan sekaligus: pengelolaan sampah dan kebutuhan energi berkelanjutan.
Dukungan tersebut salah satunya disampaikan oleh Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Ia menilai bahwa kerja sama lintas daerah dalam proyek PSEL merupakan terobosan penting yang mencerminkan kepemimpinan adaptif di tengah kompleksitas persoalan lingkungan perkotaan.
Baca juga: Kinerja Jatim 2025 Tembus 98,33 Persen, Khofifah Paparkan LKPJ di DPRD
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) PSEL sendiri digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (28/3) malam. Kesepakatan ini melibatkan tujuh kepala daerah dari kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya, serta turut disaksikan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq.
Menurut Lia, pendekatan kolaboratif menjadi kekuatan utama dalam implementasi program tersebut. Ia menegaskan, pengolahan sampah tidak lagi bisa ditangani secara parsial oleh masing-masing daerah.
“Program ini bukan sekadar pengelolaan lingkungan, melainkan transformasi besar menuju energi masa depan. Sampah kini diposisikan sebagai sumber daya, bukan lagi beban,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antarwilayah, terutama untuk memenuhi ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025 yang mensyaratkan minimal 1.000 ton sampah per hari sebagai bahan baku operasional PSEL.
Baca juga: Wisata Jatim Melejit Saat Lebaran, Kunjungan Tembus 5,31 Juta
Di kawasan Surabaya Raya, total pasokan sampah mencapai sekitar 1.100 ton per hari. Kontribusi terbesar berasal dari Kota Surabaya dengan 600 ton, disusul Kabupaten Gresik 250 ton, Kabupaten Sidoarjo 150 ton, dan Kabupaten Lamongan 100 ton. Rencananya, fasilitas PSEL akan dibangun di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal, Surabaya.
Sementara itu, kawasan Malang Raya menghasilkan sekitar 1.138,9 ton sampah per hari. Kabupaten Malang menyumbang 600 ton, Kota Malang 500 ton, dan Kota Batu sebesar 38,09 ton. Lokasi pembangunan PSEL di wilayah ini direncanakan berada di Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Lebih jauh, Lia menilai capaian pengelolaan sampah Jawa Timur yang telah mencapai 52,7 persen menjadi modal kuat dalam mendukung keberhasilan program tersebut. Angka ini jauh melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 24,95 persen.
Baca juga: Disdik Jatim Atur Ketat Penggunaan Gawai di Sekolah, Dorong Pembelajaran Berbasis Karakter
“Dengan capaian ini, Jawa Timur sudah berada di jalur yang tepat. Implementasi PSEL akan semakin mengukuhkan posisi Jatim sebagai percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi,” katanya.
Ia juga mengapresiasi komitmen Pemprov Jatim dalam memastikan tata kelola program berjalan secara transparan dan sesuai regulasi. Dengan dukungan pemerintah pusat serta kolaborasi daerah, Lia optimistis proyek ini mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Langkah ini bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan lingkungan yang lebih bersih dan energi yang berkelanjutan,” pungkasnya.(pps)
Editor : Redaksi