MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi mengawali pemugaran sayap barat Gedung Negara Grahadi melalui peletakan batu pertama yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Rabu (1/4/2026). Proyek ini tak sekadar perbaikan fisik, melainkan upaya serius menjaga warisan sejarah dengan pendekatan ilmiah yang komprehensif.
Khofifah menegaskan, pemugaran Grahadi dirancang sebagai ruang edukasi publik yang mampu menceritakan perjalanan panjang bangunan bersejarah tersebut. Salah satu konsep utama yang diusung adalah mengungkap kembali elevasi asli bangunan sejak pertama kali berdiri pada tahun 1810.
Baca juga: Kinerja Jatim 2025 Tembus 98,33 Persen, Khofifah Paparkan LKPJ di DPRD
Melalui proses ekskavasi lantai, tim menemukan adanya peningkatan elevasi sekitar 50 sentimeter dari kondisi awal. Temuan ini nantinya akan ditampilkan menggunakan lantai kaca, sehingga masyarakat dapat melihat langsung lapisan perkembangan struktur bangunan dari masa ke masa.
“Pendekatan ini bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menyajikan narasi sejarah yang bisa dipelajari masyarakat,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, konsep tersebut tergolong baru dan jarang diterapkan di Indonesia, bahkan disebut sebagai yang pertama di Jawa Timur. Dengan cara ini, Grahadi diharapkan menjadi media edukasi sejarah sekaligus memperkenalkan teknologi konstruksi masa lampau.
Dalam pelaksanaannya, pemugaran dilakukan dengan prinsip kehati-hatian tinggi untuk menjaga keaslian bangunan. Salah satu fokus utama adalah penggunaan material yang sesuai dengan karakter asli, seperti plester berbahan dasar kapur yang memungkinkan dinding “bernapas”.
Khofifah menjelaskan, penggunaan semen modern justru berisiko merusak struktur lama karena sifatnya yang lebih rapat. Sementara bangunan lama menggunakan bata tanpa sistem beton, sehingga membutuhkan material yang mampu mengakomodasi kelembapan alami.
“Material yang digunakan harus mendekati bahan lama agar tidak menimbulkan kerusakan baru,” jelasnya.
Beberapa material bahkan harus didatangkan dari luar negeri, termasuk dari Jerman, karena spesifikasi yang dibutuhkan belum tersedia di dalam negeri. Karakter bahan tersebut serupa dengan teknik tradisional campuran kapur dan bata merah tumbuk (bligon).
Selain mempertahankan keaslian, pemugaran juga menyentuh aspek penguatan struktur. Rangka atap yang sebelumnya berbahan kayu akan diganti dengan baja ringan untuk mengurangi beban, tanpa mengubah tampilan visual bangunan.
Baca juga: Lia Istifhama Optimistis PSEL Jatim Jadi Role Model Nasional Pengelolaan Sampah
“Struktur boleh menyesuaikan teknologi modern, tetapi wajah bangunan harus tetap otentik,” imbuh Khofifah.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menyebut proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp12,76 miliar yang bersumber dari APBD Jatim.
Pengerjaan ditargetkan rampung dalam 210 hari kalender, mulai 30 Maret hingga 25 Oktober 2026. Saat ini, tahapan awal telah berjalan sesuai rencana.
Ia menjelaskan, sebelum konstruksi dimulai, berbagai tahapan telah dilakukan sejak 2025. Mulai dari pengamanan pascakebakaran, pemilahan material bernilai sejarah, hingga kajian teknis yang melibatkan berbagai pihak.
Kajian tersebut melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, tim ahli cagar budaya, hingga Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur.
Baca juga: Disdik Jatim Gerak Cepat Tangani Ambruknya Atap Kelas SMKN 1 Ampelgading
Tak hanya itu, perencanaan teknis juga didukung tenaga ahli lintas bidang, mulai dari struktur, mekanikal elektrikal plumbing (MEP), hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Seluruh proses dijalankan sesuai regulasi pelestarian cagar budaya.
Dalam desainnya, turut ditambahkan ring balok sebagai penguat antara atap dan dinding, mengingat konstruksi lama belum memiliki sistem pengikat seperti bangunan modern.
Sebagai bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya, setiap intervensi pada Grahadi wajib melalui rekomendasi tim ahli pelestarian.
Khofifah pun mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengawal proses pemugaran agar tetap menjaga nilai historis bangunan.
“Ini adalah bagian dari menjaga identitas sejarah kita. Kami berharap prosesnya berjalan lancar dan hasilnya bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat,” pungkasnya.(pps)
Editor : Redaksi