MERAHPUTIH I PROBOLINGGO – Upaya menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kualitas pariwisata di kawasan Gunung Bromo terus diperkuat. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, melakukan groundbreaking penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Senin (13/4/2026).
Tak hanya itu, pada momentum yang sama juga dilakukan peresmian sarana dan prasarana air bersih di kawasan kaldera Bromo, tepatnya di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Baca juga: PKS Jatim Luncurkan Korps Trainer API, Siapkan Kepemimpinan Partai Secara Sistematis
Dalam keterangannya, Khofifah menegaskan bahwa proyek Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah diusulkan sejak 2019. Penataan ini bertujuan mengembalikan keseimbangan antara aktivitas wisata dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, kawasan Pasir Berbisik yang dahulu menjadi ikon keindahan Bromo kini mengalami penyusutan area yang dapat dinikmati wisatawan. Karena itu, diperlukan pengelolaan yang lebih terarah agar keindahan alam tetap bisa dinikmati tanpa merusak ekosistem.
“Wisata tetap berjalan, tetapi alam harus tetap terjaga. Itu yang menjadi prinsip utama dalam pembangunan jalur ini,” ujarnya.
JLKT dirancang sepanjang kurang lebih 13 kilometer, dengan kebutuhan lebih dari 9.000 patok penanda. Jalur ini tidak akan diaspal demi menjaga daya dukung lingkungan, dengan lebar jalur sekitar 18 meter. Selain itu, akan dibangun tiga rest area lengkap dengan fasilitas toilet, serta empat titik parkir yang memungkinkan wisatawan menikmati panorama Bromo dari berbagai sudut.
Untuk mendukung kebutuhan dasar wisatawan, Pemprov Jatim juga meresmikan sumber air bersih dari Widadaren dan Bantur yang akan menyuplai kebutuhan di rest area.
Khofifah menekankan bahwa pembangunan ini juga memperhatikan aspek budaya dan kearifan lokal masyarakat Tengger. Ia menyebut, keseimbangan antara alam, budaya, dan ekonomi menjadi kunci utama keberlanjutan kawasan tersebut.
“Di sini ada adat dan budaya yang menjadi penjaga alam. Itu harus kita hormati dan jadikan bagian dari sistem pelestarian,” katanya.
Baca juga: Sidang Perdana Dugaan Suap Bupati Nonaktif Ponorogo, Jaksa Ungkap Aliran Dana Miliaran Rupiah
Pada kesempatan yang sama, Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko menjelaskan bahwa pembangunan JLKT bertujuan utama untuk mengendalikan arus kendaraan wisata, khususnya jeep yang selama ini kerap melintas bebas di kawasan kaldera.
“Dengan adanya jalur tetap, kendaraan tidak lagi menjelajah sembarangan. Ini penting untuk menjaga ekosistem agar tidak terganggu,” jelasnya.
Ia menambahkan, desain jalur telah melalui koordinasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk tokoh adat Tengger, guna menghindari area sakral dan fenomena alam penting seperti Sumur Windu serta tanaman yang disucikan masyarakat setempat.
“Jalur ini mengharmoniskan kepentingan ekonomi, wisata, ekologi, dan nilai-nilai sakral. Semua harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Satyawan juga menekankan pentingnya pengaturan jumlah wisatawan melalui sistem kuota dan pemberlakuan masa jeda kunjungan. Hal ini dilakukan agar ekosistem memiliki waktu untuk pulih dari tekanan aktivitas manusia.
Baca juga: SPMB 2026 Jatim Berubah Total, Nilai TKA Jadi Penentu Utama Seleksi Siswa Baru
“Seperti manusia, alam juga butuh istirahat. Tidak bisa setiap hari menerima tekanan yang sama,” katanya.
Ia menargetkan pembangunan JLKT dapat rampung dalam waktu sekitar tujuh bulan atau pada Oktober mendatang. Setelah selesai, pengawasan terhadap lalu lintas wisata akan diperketat sebagai bagian dari pengelolaan kawasan.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari tokoh adat Tengger. Romo Dukun Pandita Tengger, Sutomo, menyatakan pihaknya menyambut baik pembangunan jalur lingkar tersebut.
“Kami mendukung penuh karena ini akan memberikan manfaat bagi pariwisata sekaligus konservasi. Kami tetap menjalankan tugas menjaga kawasan ini secara spiritual, adat, dan budaya,” ujarnya.
Pembangunan JLKT menjadi langkah strategis dalam menata ulang wajah pariwisata Bromo. Dengan pendekatan yang mengedepankan keseimbangan antara ekonomi, ekologi, dan budaya, pemerintah berharap kawasan ini tetap menjadi destinasi unggulan tanpa kehilangan nilai kelestariannya.(pps)
Editor : Redaksi