MERAHPUTIH I SURABAYA - Di balik semarak peringatan May Day, kekhawatiran terhadap gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tekanan terhadap industri padat karya menjadi isu utama yang disuarakan buruh Jawa Timur.
Ketua SPSI Jatim Ahmad Fauzi mengakui bahwa kondisi ekonomi global yang bergejolak berpotensi memicu PHK, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan mebel.
Baca juga: May Day di Jatim: Buruh Dorong Revisi UU, Tolak Syarat “Miskin”, dan Minta Dialog Cegah PHK
Ia menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan industri, termasuk melalui negosiasi tarif ekspor dengan negara tujuan seperti Amerika Serikat.
“Industri alas kaki, tekstil, dan mebel sangat bergantung pada kebijakan tarif. Upaya pemerintah menurunkan tarif ekspor menjadi sangat krusial untuk menjaga keberlangsungan sektor ini,” ujarnya.
Baca juga: UMSK Jatim Jadi Role Model Nasional, Buruh Minta Gubernur Lebih Proaktif
Fauzi juga menyinggung langkah Presiden Prabowo yang melakukan pendekatan diplomatik untuk menekan tarif ekspor ke Amerika Serikat sebagai bentuk keberpihakan terhadap industri dalam negeri.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa efisiensi perusahaan tidak boleh menjadikan PHK sebagai opsi utama. Menurutnya, masih banyak langkah lain yang bisa ditempuh, seperti efisiensi operasional hingga penyesuaian struktur gaji manajemen.
Baca juga: May Day di Bawah Gerimis, Buruh Jatim Suarakan Revisi Omnibus Law dan Afirmasi Pendidikan
“PHK jangan dijadikan solusi utama. Efisiensi bisa dilakukan di banyak sektor, termasuk pada level manajemen,” tegasnya.
Ia berharap Jawa Timur dapat menjadi provinsi terakhir yang mengalami gelombang PHK, meski mengakui hal tersebut bukan perkara mudah.
Editor : Redaksi